Modest Style

Tengah malam di puncak Bromo

,

Perjalanan mendaki gunung menyadarkan Najwa Abdullah bahwa lebih baik melihat suatu hal sekali daripada mendengar tentang hal tersebut ribuan kali.

0802-WP-Mountain-by-Najwa-sm

Mengelilingi dunia dan menyaksikan keindahan Bumi selalu menjadi impian saya. Saya selalu berpikir “Pasti menyenangkan sekali mendaki gunung tertinggi atau menyelami laut terdalam,” namun tidak pernah benar-benar melakukannya.

Namun, keseharian yang monoton mulai melelahkan bagi saya. Belantara beton kota Jakarta membuat saya mendambakan sebuah tempat di mana saya dapat mengagumi sesuatu. Saya ingin mengenal dunia lebih sekadar melalui koran, majalah, dan televisi.

Saya tidak membayangkan Bali, Lombok, atau tujuan wisata pantai populer lainnya di Indonesia. Tempat pertama yang terlintas di pikiran saya adalah Gunung Bromo, yang berada 2.329 meter di atas permukaan laut serta menawarkan beragam pemandangan, antara lain kaldera raksasa dan lautan pasir. Gunung Bromo juga merupakan satu di antara gunung berapi paling aktif di negara ini – yang saya anggap sebagai satu dari fenomena Bumi yang paling luar biasa.

Jadi saya kemasi barang-barang saya dan bersama dua teman baik memulai perjalanan ke Jawa Timur untuk pertama kalinya. Kami menginap di Malang, yang berjarak beberapa jam berkendara dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Pada malam kedua kami di Malang, petualangan dimulai. Pukul 11 malam, kami bergabung dengan kelompok turis lokal dan tiba di taman nasional pukul 2 dini hari. Setelah perjalanan yang menantang ke Bukit Penanjakan (2.770 meter) di dalam taman, kami tiba di puncak dan mendaki ringan untuk menyaksikan matahari terbit di atas tiga gunung: Gunung Semeru (puncak tertinggi di Jawa), Gunung Bromo, dan Gunung Batok.

[Not a valid template]

Sepanjang pendakian malam, saya terus-menerus memperhatikan langit yang penuh dengan kerlip bintang – pemandangan yang tidak akan pernah saya temui di Jakarta. Dengan sepenuh hati, saya berbisik “Subhanallah” dan mematri keindahan langit di atas sebagai kenangan tengah malam ini di puncak gunung. Sambil menunggu terang, saya merasakan shalat subuh terindah dalam hidup saya – di bawah bintang-bintang, bersama teman-teman.

Tidak lama kemudian, akhirnya saya menyaksikan apa yang disebut-sebut sebagai matahari terbit terindah di dunia. Seakan lukisan raksasa, Gunung Bromo dan Gunung Batok muncul dari dalam kaldera Tengger yang luar biasa besar, dengan Gunung Semeru sebagai latar belakang.

Kami turun dengan menggunakan jip menuju kaldera Tengger seluas 10 km, menuju lembah hijau nan subur dan lapangan pasir lahar hitam, hingga tiba di kawah Bromo. Situs ini terus-menerus mengeluarkan awan uap dan asap vulkanis yang mengingatkan kita bahwa gunung berapi ini masih masih aktif dan berbahaya.

Sepanjang perjalanan, saya bersyukur pada Tuhan yang telah mengizinkan saya menyaksikan keajaiban ini. Setelah pertemuan pertama dengan kombinasi alam terhebat antara bahaya dan keindahan ini, saya memulai hari-hari berikut dengan semangat baru.

Kini saya tahu, di balik belantara beton yang monoton ini, ada tempat-tempat indah yang dapat saya kunjungi di negara saya.

Leave a Reply
<Modest Style