Modest Style

Sensasi menikmati teh di kaki Gunung Lawu

,

Udara sejuk pegunungan dan nikmatnya teh berpadu serasi di kafe Ndoro Donker, Karanganyar. Oleh Khairina Nasution.

Tampak luar Ndoro Donker
Tampak luar Ndoro Donker

Merasa penat dengan kesibukan membuat saya baru-baru ini memilih menghabiskan akhir pekan di sebuah tempat yang tenang dan menyenangkan di tengah Perkebunan Teh Kemuning, kaki Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Kafe itu bernama Ndoro Donker. Nama kafe ini diambil dari nama ahli botani berkebangsaan Belanda yang berdiam di wilayah Bagelen atau sekarang dikenal dengan nama Karanganyar. Ndoro Donker dipercaya tinggal di tempat itu sekitar tahun 1910-1930an. Dia kerap mengajarkan kepada masyarakat untuk berbudidaya tanaman holtikultura seperti kentang, wortel, kubis, kembang kol, stroberi, dan seledri.

Alih-alih tinggal di rumah dinas, Ndoro Donker memilih berbaur dengan masyarakat. Sikap membuminya membuat Donker, yang dipanggil Ndoro – yang artinya Tuan dalam bahasa Jawa – sangat dihormati. Namanya diabadikan menjadi nama sebuah dukuh. Nama itu pula yang kemudian dipilih menjadi nama sebuah kedai teh di sisi barat Gunung Lawu.

Perkebunan Kemuning sendiri memiliki luas 438 hektar dan berjarak sekitar 25 kilometer arah timur Kota Solo. Lokasinya berdekatan dengan Candi Cetho, Sukuh, dan Kethek serta Air Terjun Jumog. Jalannya menanjak dan berkelok dengan hamparan kebun buah dan sayur di sepanjang jalan. Kawasan menarik ini kini banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.

Kebun teh Kemuning ini berdiri tahun 1925. Semula ia dimiliki dua bersaudara Belanda Johan dan Van Mender Voort. Rumah yang digunakan sebagai Rumah Teh Ndoro Donker adalah rumah kepala kebun teh yang lama telah kosong dan tak berpenghuni, kemudian disewa sejak dua tahun lalu.

Rumah itu klasik dan cantik, dengan jendela besar-besar dan halaman luas yang langsung berbatasan dengan kebun teh. Pengunjung bisa menikmati teh di dalam ruangan atau di luar ruangan. Jika memilih bersantai di luar ruangan, maka pilihannya adalah bersantai di halaman dengan bangku-bangku kayu dan payung-payung yang cantik. Sementara di dalam ruangan, disediakan-meja meja makan kayu klasik berwarna putih. Di dalam ataupun di luar ruangan, udara mengalir sejuk dan pemandangan tersaji indah sehingga membuat pikiran tenang.

[Not a valid template]

Teh menjadi sajian utama di tempat ini. Ada teh hitam, teh oolong, teh melati, teh rempah, teh sereh, teh lemon, teh jeruk, dan lain sebagainya. Rumah teh ini juga menyediakan varian teh impor seperti earl grey, passion fruit, dan lady grey. Penyajiannya dapat dipilih di dalam poci atau cangkir.

Saya mencoba teh sereh dan teh jeruk. Teh sereh rasanya khas dengan harum aroma sereh dan teh jeruk rasanya sungguh menyegarkan. Bagi Anda yang sedang merasa kurang enak badan, bisa mencoba teh rempah yang terdiri dari berbagai rempah-rempah seperti kayu manis, secang, cengkeh, dan jahe. Penikmat rasa teh alami bisa memilih teh hitam.

Makanan yang disediakan di sini disesuaikan dengan udara sejuk di lereng gunung. Ada ketela goreng potong kubik yang dilumuri madu dan wijen, pisang goreng kipas dengan lelehan cokelat dan taburan keju, serta makanan berat semacam nasi goreng, sotodan iga bakar.

Harga minuman dan makanan yang disediakan bervariasi antara Rp 8.000-Rp 50.000. Bagi pengunjung yang ingin mencoba membuat the sendiri di rumah, Ndoro Donker juga menyediakan daun teh yang dijual per bungkus. Tersedia juga beragam gelas dan cangkir teh bergambar Ndoro Dongker.

Karena pemandangannya yang cantik, banyak pengunjung berfoto dengan latar belakang kebun teh dan rumah Belanda. Uniknya, di tengah-tengah kebun teh, pengelola menyediakan bangku kayu sehingga memudahkan para pengunjung yang ingin berfoto.

Perut telah kenyang, perasaan pun tenang menikmati teh hangat dan pemandangan indah yang terbentang. Saya pun akhirnya pulang. Namun, sensasi yang saya rasakan di tengah kebuh teh ini akan terus saya kenang. Anda berminat berkunjung ke sana?

Baca juga resep-resep teh di Waktunya minum teh!

Leave a Reply
<Modest Style