Modest Style

Semangat jemaah umrah tidak terpengaruh risiko MERS

,

Seiring terus melonjaknya korban jiwa dan meningkatnya kekhawatiran akan kesehatan, sepasang suami istri yang akan menjalani umrah pertama mereka masih bertekad melaksanakan perjalanan tersebut – dengan beberapa langkah-langkah pencegahan. Oleh Lina Lewis.

AFP Photo / Amer Hilabi
AFP Photo / Amer Hilabi

Suzanna M sangat bergembira. Seiring mendekatnya tanggal keberangkatan umrahnya, semangatnya meningkat. Wanita berusia 37 tahun itu telah menantikan kesempatan melihat Ka’bah seumur hidupnya.

Pada bulan Juni, ia dan suaminya akan meninggalkan dua anak mereka yang masih kecil selama dua pekan untuk menjalankan umrah. Namun di tengah kegembiraan mereka, terdapat kekhawatiran tentang sebuah penyakit pembunuh di Arab Saudi – Sindroma Pernapasan Timur Tengah (MERS).

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), MERS pertama kali ditemukan di Arab Saudi pada 2012.

Hingga saat ini, lebih dari 170 orang telah meninggal akibat MERS, yang telah menjangkiti lebih dari 500 orang, termasuk tiga di Amerika Serikat dan dua di Belanda.

“Saya sanagt mengkhawatirkan penyebaran MERS,” ujar Suzanna, yang bekerja di sektor keuangan. “Selain khawatir terjangkit, saya juga tidak mau menjadi pembawa penyakit dan membahayakan kesehatan anak-anak saya.”

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit yang berbasis di AS, gejala MERS adalah demam, batuk, dan sesak napas. Tingkat fatalitasnya sekira 30 persen.

Badan Keagamaan Islam Singapura (MUIS) telah memperingatkan para jemaah untuk melakukan langkah-langkah pencegahan, seperti berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan bahwa mereka sehat secara medis untuk melaksanakan umrah sebelum berangkat. MUIS juga mendorong semua jemaah untuk mendapatkan vaksinasi influenza dan meningitis.

Saat berada di Tanah Suci, para jemaah diingatkan untuk “menjaga kebersihan pribadi setiap saat, memastikan keamanan dan kebersihan makanan, menghindari kontak dekat dengan orang-orang yang menderita infeksi pernapasan akut, dan menghindari kontak dengan unta dan hewan hidup lainnya, termasuk tidak mengunjungi peternakan unta”.

Otoritas Saudi telah menerbitkan peringatan cara menghadapi banyaknya unta, yang dicurigai sebagai sumber coronavirus MERS di negara Teluk tersebut, lapor AFP.

MUIS juga menyarankan “mereka yang menderita demam, batuk dan/atau sesak napas saat bepergian, atau dalam jangka dua pekan setelah kembali ke Singapura, untuk mendapatkan perhatian medis secepatnya dan memberitahukan sejarah perjalanan mereka kepada dokter”.

Suzanna mengatakan bahwa ia dan suami akan mengenakan masker operasi sepanjang perjalanan. “Kami tidak akan mengambil risiko. Kami juga akan membawa tisu antiseptik dan pembersih tangan, “ tambahnya.

Sejak 6 Mei, Kementerian Kesehatan Singapura telah membagikan panduan kesehatan mereka kepada para wisatawan yang akan terbang ke daerah-daerah yang terkena dampak MERS di Timur Tengah. MUIS dan agen perjalanan memastikan panduan ini diberikan kepada semua jemaah haji dan umrah.

Selain mempersiapkan diri untuk umrah, Suzanna dan suami banyak membaca tentang coronavirus MERS.

“Kami ingin mengetahui sebanyak mungkin tentang MERS. Tentunya, hal terbaik yang dapat kami lakukan adalah melakukan semua langkah pencegahan, namun jika entah bagaimana kami terjangkit, kami akan mengetahui apa yang kami hadapi dan tidak tanpa pengetahuan,” ujarnya dengan senyum khawatir.

Leave a Reply
<Modest Style