Modest Style

‘Pintu Neraka’ Turkmenistan diharapkan menarik wisatawan

,
TOPSHOTS-TURKMENISTAN-TOURISM-TRAVEL
Gambar yang diambil pada 3 Mei 2014 memperlihatkan orang-orang mengunjungi “Pintu Gerbang Neraka”, kawah besar berisi gas terbakar di pusat gurun pasir Karakum di Turkmenistan. Lubang berapi tersebut adalah hasil salah perhitungan peneliti Soviet pada tahun 1971 setelah peralatan bor mereka tiba-tiba menembus gua bawah tanah dan membuat tanah amblas. Atas kekhawatiran adanya gas beracun yang keluar, mereka memutuskan menyalakan api dan mengira gas akan habis terbakar dengan cepat dan memadamkan api. Namun api tidak pernah padam selama lebih dari 40 tahun, menunjukkan cadangan gas besar Turkmenistan yang diyakini sebagai yang terbesar keempat di dunia. ©AFP PHOTO / IGOR SASIN

(GURUN KARAKUM, Turkmenistan-AFP) – Warga setempat menyebutnya Pintu Neraka, sebuah lubang berapi raksasa yang telah mengeluarkan api selama lebih dari 40 tahun, dan memberikan nyala kuning-jingga di langit malam.

“Tempat tersebut memukau Anda,” ujar Gozel Yazkulieva, pengunjung berusia 34 tahun dari ibu kota Turkmenistan, Ashgabat. “Anda akan langsung teringat akan dosa-dosa Anda dan ingin berdoa.”

Baru segelintir orang asing yang mengunjungi kawah di pusat Karakum, salah satu gurun terbesar di dunia, tersebut. Namun otoritas Turkmenistan ingin mengubah hal tersebut dengan mencari cara untuk meningkatkan jumlah pengunjung ke negara bekas republik Soviet tersebut.

Masih merupakan salah satu negara paling terisolasi di dunia dalam hampir seperempat abad kejatuhan Uni Soviet, Turkmenistan hanya mendapat 12.000 hingga 15.000 wisatawan dari 50 negara setiap tahunnya.

Pejabat pariwisata menyebutkan bahwa Pintu Neraka, yang juga disebut kawah Derweze seperti nama sebuah desa di dekat lokasi kawah, dapat dikembangkan menjadi atraksi inti bagi wisatawan petualang.

“Kawah api… menarik minat yang semakin besar setiap tahunnya, terutama di kalangan wisatawan asing,” ujar seorang pejabat komite pariwisata negara Turkmenistan pada AFP.

“Gurun ‘mati’ ini akan segera menjadi tujuan yang sangat menarik untuk berbagai jenis pariwisata – mulai eko-pariwisata hingga olahraga ekstrim,” ujarnya.

Karakum, atau Pasir Hitam, menempati 80 persen republik Asia Tengah tersebut. Pada musim panans, suhunya akan meningkat hingga lebih dari 50 derajat celcius, sementara pada musim dingin jatuh hingga minus 20.

Tidak ada petunjuk jalan menuju lubang api di lahan gas alam yang berjarak 270 kilometer di utara ibu kota tersebut, namun pemandu mengetahui jalan menuju lokasi yang memiliki pemandangan menakjubkan.

Api yang menari-nari dari sela dasar dan sisi kawah, dan hembusan udara panas dari celah lubang berkejaran dengan angin. Panas tinggi dan nyala api memiliki efek memukau.

Fenomena ini merupakan hasil dari salah perhitungan peneliti Soviet.

“Geolog Soviet mulai membuat lubang bor untuk mencari gas di lokasi ini pada tahun 1971,” ujar seorang geolog Turkmenistan Anatoly Bushmakin. “Alat bor tiba-tiba menembus gua bawah tanah, dan lubang amblas yang dalam pun terbentuk. Alat tersebut jatuh ke dalam gua namun untungnya tidak menyebabkan korban jiwa.”

“Karena khawatir kawah mengeluarkan gas beracun, peneliti memutuskan menyalakan api agar gas segera habis terbakar dan memadamkan api,” ujar Bushmakin.

Namun nyala api tidak pernah padam, dan kini menunjukkan cadangan gas berlimpah Turkmenistan, yang diyakini sebagai urutan keempat terbesar di dunia.

– Bagian dari cagar alam –

Meski jelas berbahaya, lubang ini tidak diberi pagar dan mereka yang ingin memancing adrenalin dapat berdiri di tepi kawah. Namun hal ini sangat berisiko mengingat permukaan pasir seringkali ambruk.

“Wisatawan asing yang mengunjungi kawah api merasakan hal yang campur aduk – terpana pada pemandangan yang tersaji juga pada pemborosan yang dilakukan oleh warga Turkmenistan, yang telah membiarkan gas terus terbakar bertahun-tahun,” ujar Begli Atayev yang berusia 40 tahun, yang bekerja di sebuah agen perjalanan di Ashgabat.

Tahun lalu Presiden Turkmenistan Gurbanguly Berdymukhamedov mendirikan sebuah cagar alam negara seluas 90.000 hektar di gurun Karakum yang mencakup kawah Derweze.

“Tugas utama cagar alam baru adalah untuk menjaga salah satu gurun terbesar di planet Bumi dan menyelesaikan masalah alam yang ada,” ujar Ovez Kurbanov dari Institut Nasional Gurun, Flora, dan Fauna.

Keragaman flora dan fauna juga membuat wilayah tersebut dapat diberdayakan untuk periwisata ilmiah dan ekologis, tambahnya.

“Tempat-tempat seperti kawah api sangat menarik bagi orang-orang yang suka berwisata dan peneliti dari berbagai bidang,” tambahnya.

Wisatawan dapat bersafari dengan jip dan motor atau menunggang unta di sepanjang bukit pasir Karakum yang terus bergerak, jelas pejabat pariwisata tersebut.

“Tugas utama kami adalah menciptakan citra Turkmenistan yang menarik sebagai tujuan wisata,” ujarnya lagi.

Leave a Reply
<Modest Style