Kunjungan penuh kesan ke Festival Budaya Dieng

,

Dari menyaksikan mentari terbit hingga Ruwatan Gembel, dataran tinggi Dieng menjanjikan sejuta pesona bagi pengunjungnya. Tulis Miranti Cahyaningtyas.

[Not a valid template]

Akhir pekan lalu, saya memutuskan untuk berlibur ke dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah bersama sebuah kelompok pejalan dalam rangka mengikuti Festival Budaya Dieng kelima. Perjalanan kami dimulai dari Jakarta pada pukul sembilan malam dengan menggunakan bis kecil. Mengingat akan melakukan perjalanan panjang, saya mempersenjatai diri dengan pakaian yang nyaman, penutup mata untuk tidur, serta botol air besar. Meski membawa koleksi buku elektronik, dalam perjalanan ini hal yang paling banyak saya lakukan adalah… tidur. Saya bahkan sampai merasa bosan tidur selama perjalanan. Namun tidak banyak yang dapat dilakukan di dalam ruang begitu sempit dengan pengemudi yang – sepertinya – bercita-cita menjadi pembalap Formula 1.

Setelah menghabiskan hampir 24 jam dalam perjalanan, saya mulai merasa khawatir pilihan berlibur kali ini tidak sepadan dengan usaha yang dilakukan untuk mencapai tempat ini. Namun seperti biasa, menjadi pejalan sama artinya dengan belajar menerima berbagai kendala yang ditemui dan menjadikannya pelajaran serta pengalaman berharga. Jelang maghrib, kami akhirnya tiba di penginapan dengan berjalan kaki di akhir perjalanan. Ini karena jalan-jalan di sekitar Dieng sudah terlalu padat oleh kendaraan yang berjalan maupun diparkir untuk dapat dilewati bis.

Kata Dieng berasal dari frase “di hyang”dalam bahasa Sansekerta yang bermakna tempat tertinggi atau persemayaman pada dewa. Kata ini juga ditengarai berasal dari frase “adi aeng” dalam bahasa Jawa yang bermakna indah aneh atau tempat indah dengan nuansa spiritual yang kental. Nama yang nampaknya sesuai untuk tempat yang terletak pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, ditebari bangunan candi bertebaran serta berbagai kawah yang seakan-akan muncul begitu saja di tengah tanah lapang.

Dieng adalah tempat yang menarik dan menyenangkan untuk dikunjungi. Tidak saja tempat ini memiliki budaya khas yang dijalankan secara turun-temurun oleh warganya, Dieng juga menawarkan bentang pemandangan hijau nan segar yang ampuh mengobati penat mata kaum urban. Selain terkenal karena budaya dan keindahan alamnya, Dieng juga dikenal karena buah tangan tempat wisata ini: carica Dieng. Carica Dieng adalah manisan yang terbuat dari pepaya muda. Rasanya manis dan sangat menyegarkan.

Pelepasan sebagian lampion
Pelepasan sebagian lampion

Terdapat banyak obyek wisata alam di Dieng yang memiliki latar belakang cerita rakyat, mulai dari Telaga Warna dan Telaga Pengilon yang menurut legenda berasal dari lunturan pakaian seorang ratu dan putrinya, hingga Kawah Candradimuka, tempat Gatotkaca mendapat kekuatannya. Jika Anda penggemar legenda rakyat Indonesia, jangan lupa masukkan dataran tinggi Dieng ke dalam daftar wajib kunjung Anda.

Jadwal kami malam itu adalah menyaksikan pertunjukan musik jazz oleh musisi lokal, menikmati jagung bakar dan purwaceng bersama, menerbangkan lampion, dan mengikuti pesta kembang api di kompleks Candi Arjuna.

Meski tidak bisa benar-benar disebut konser musik jazz murni, pertunjukan musik yang diselenggarakan ternyata cukup memuaskan dengan sound system yang cukup apik dan penampilan musisi-musisi yang berbakat. Namun, rasanya panitia pelaksana masih harus belajar cara menyosialisasikan jadwal dan lokasi acara serta alokasi waktu dan mobilisasi pengunjung dengan lebih baik.

Semestinya kami juga memiliki kesempatan untuk menonton wayang kulit secara langsung malam itu, namun keterbatasan waktu serta ketidakjelasan jadwal acara membuat kami harus berpuas diri berkenalan dengan menggigitnya dingin Dieng di malam hari sambil menyaksikan konser jazz.

Pagi dini hari esoknya, kami berangkat untuk mengejar matahari terbit keemasan di puncak Bukit Sikunir pada jam tiga pagi. Lagi-lagi karena banyaknya pengunjung, kami harus berjalan kaki agak jauh sebelum mencapai awal pendakian. Bukit Sikunir yang memang terkenal karena pemandangan matahari keemasannya terletak di Desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di seluruh Pulau Jawa. Di desa ini, pengunjung bisa berperahu di danau kecil yang terletak hanya beberapa meter dari titik awal pendakian. Pengunjung juga bisa berkemah di sekitar danau. Terdapat satu tempat parkir luas yang hari itu sangat penuh, warung sederhana, juga kamar kecil yang sangat bersih.

Pendakian bukit hari itu diwarnai kemacetan manusia serta puncak bukit yang terlalu penuh hingga tidak mampu menampung pengunjung lagi. Saat turun, kami disambut dua kelompok pengamen yang memainkan instrumen tradisional sambil diselingi gerakan melompat-lompat.

Sekembalinya dari Sikunir, kami bergegas menuju Telaga Warna, alias Telogo Warno menurut bahasa setempat. Kami singgah sebentar saja karena kami harus mengejar puncak acara hari itu: Pemotongan rambut gimbal di kompleks Candi Arjuna.

Ruwatan Gembel adalah ritual pemotongan rambut yang dilakukan terhadap anak-anak Dieng yang berambut gimbal. Warga setempat percaya bahwa anak-anak berambut gimbal ini memiliki keterkaitan dengan penguasa alam gaib. Buktinya adalah gimbal tersebut bisa saja muncul tiba-tiba dan secara keseluruhan maupun hanya sebagian di kepala seoarng anak. Konon rambut gimbal ini hanya bisa dihilangkan melalui ritual khusus yang disebut Ruwatan Gembel ini. Dalam Ruwatan Gembel, rambut sang anak akan dipotong setelah permintaan khususnya dikabulkan. Gimbal mereka dipercayai akan kembali jika rambut dipotong sebelum permintaan si anak dipenuhi dan jika pemotongan rambut dilakukan sebelum mereka sendiri yang meminta.

Hak kita untuk memilih percaya atau tidak pada berbagai ritual dan kepercayaan seperti Ruwatan Gembel. Namun inilah tradisi yang terus dipertahankan sejak lama di Dieng dan bahkan menjadi salah satu daya tarik wisata daerah ini.

Permintaan yang diajukan tahun ini amat beragam, mulai dari satu ekor kambing gimbal, satu buah apel merah beserta satu buah sepeda merah muda, hingga sekeranjang cokelat. Namun beberapa permintaan yang paling saya kenang adalah seorang anak yang menginginkan es lilin buatan tetangganya dan seorang lain yang sekadar meminta didoakan agar menjadi anak yang sehat dan shalihah.

Berencana menghadiri Dieng Culture Festival keenam tahun depan?

Leave a Reply
Aquila Klasik