Modest Style

Kota Tua, permata Jakarta

,

Tanggal 21-22 Juni lalu, Kota Tua berias diri dengan diadakannya Kota Tua Creative Festival. Selengkapnya oleh Najwa Abdullah.

Di akhir pekan, biasanya di manakah warga Jakarta menghabiskan waktu? Ya, jawabannya adalah mal. Keterbatasan ruang terbuka di Jakarta yang menawarkan kenyamanan dan fasilitas yang memadai membuat sebagian warga Jakarta memilih untuk berdiam di rumah atau pergi ke mal di waktu senggang mereka. Tidak mengherankan apabila pembangunan mal di Jakarta sangat pesat.

Padahal, ada sudut kota Jakarta yang memiliki ruang terbuka nan indah berhiaskan bangunan-bangunan warisan sejarah. Kawasan ini biasa kita kenal sebagai Kawasan Kota Tua, Jakarta Utara. Sayangnya, kawasan ini belakangan mulai terbengkalai dan hampir mati; artefak peninggalan kolonial terbengkalai, penduduknya semakin berkurang dan lingkungannya terus tercemari berbagai polusi. Meski banyak gedung tua di kawasan ini yang telah direnovasi dan diberi fungsi baru, akibat kurangnya koordinasi dan pengawasan usaha ini belum berhasil untuk menghidupkan Kota Tua.

Baru-baru ini, diadakan Kota Tua Creative Festival dalam rangka menyambut hari jadi Jakarta yang ke-487. Berbagai program dan hiburan menarik ditawarkan dalam festival yang merupakan kolaborasi komunitas kreatif, pedagang kaki lima, pemerintah kota dan pecinta kota Tua. Dibuka oleh gubernur Jakarta, Basuki ‘Ahok’ Cahaya Purnama, acara ini diharapkan akan memompa semangat warga Jakarta untuk membangun Kota Tua sebagai tujuan pariwisata favorit serta kawasan yang layak huni.

Termasuk dalam program festival ini adalah acara Museum Walk yang terbuka bagi siapa saja yang ingin menelusuri jejak sejarah kolonial dan tradisi Indonesia di Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang dan Museum Keramik yang berada di sekeliling Taman Fatahillah. Pengunjung juga dapat mengikuti bedah buku “Pariwisata Indonesia: Antara Peluang dan Tantangan” dan workshop fotografi di Museum Bank Mandiri yang berlokasi tidak jauh dari Stasiun Jakarta Kota.

Pengunjung yang hobi bersepeda difasilitasi oleh Kelana Kota Tua, tur sepeda mengelilingi Kawasan Kota Tua yang juga mencakup daerah bersejarah Sunda Kelapa. Selain itu, di salah satu bangunan kosong, terdapat Pameran Arsitektur dan Seni Kontemporer Jakarta Old Town Reborn yang menampilkan karya-karya para seniman ibukota. Tema yang diusung, “7 Projects for the City” merupakan kerja sama arsitek-arsitek terbaik di Indonesia dan Belanda yang diharapkan dapat memberikan solusi inovatif bagi permasalahan pariwisata Kota Tua.

Ratusan pengunjung yang menyambangi festival ini juga disuguhi berbagai pertunjukan menarik seperti pementasan teater oleh Teater Koma, pertunjukan wayang, pementasan musik dan tarian tradisional Betawi serta penampilan musik modern dari sederet musisi dan band ternama. Gitaris Jubing Kristianto, IMDI Jazz Band dan Payung Teduh adalah beberapa musisi yang tampil dalam acara ini.

Pameran kuliner khas Betawi juga menjadi salah satu daya tarik festival. Kerak telor, es selendang mayang, dodol Betawi dan bir pletok bisa ditemui dengan mudah di sini.

Sejarah panjang akulturasi budaya nampak dalam keunikan kuliner dan kebudayaan Betawi yang direpresentasikan dalam festival ini. Semburat pengaruh budaya Tionghoa, Arab dan Melayu nampak dalam ekspresi kesenian Betawi seperti tari Samrah, tanjidor, gambang kromong, gambus, cerita sahibul hikayat dan pantun.

Pelestarian kebudayaan Betawi sudah sewajarnya menjadi salah satu agenda dalam upaya pembangunan pariwisata di Jakarta. Pembaharuan situs-situs bersejarah dan fasilitas pariwisata di sekitar Kota Tua diharapkan akan memberikan kesempatan bagi masyarakat Betawi yang mayoritas Muslim untuk dapat mengekspresikan eksistensi di tanah kelahiran mereka.

Di sepanjang jalan di Kawasan Kota Tua selama festival berlangsung, terdapat instalasi layang-layang yang bertuliskan harapan-harapan warga Jakarta untuk masa depan. Di sini, Ahok menulis, “Kota Tua bisa menjadi permatanya Jakarta.”

Leave a Reply
<Modest Style