Modest Style

Gili Labak, mutiara tujuan wisata di Madura

,

Pulau kecil di ujung Madura ini bak surga dunia, tulis Beta Nisa.

Pernahkah Anda mendengar tentang Gili Labak? Sekilas dari namanya, banyak orang mengira bahwa Gili Labak adalah saudara pulau Gili Trawangan di daerah Lombok. Meski kedua pulau ini sama-sama memiliki keindahan yang tak terlupakan, namun Gili Labak tidak terletak di Lombok.

[Not a valid template]

Gili Labak adalah sebuah pulau kecil yang terletak di dekat pulau Madura, tepatnya di Kecamatan Talang Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Tidak banyak yang mengetahui adanya sebuah mutiara terpendam pariwisata di Madura – termasuk saya sendiri yang lahir dan besar di Jawa Timur. Untungnya, saya memiliki seorang teman asli Madura yang gencar mempromosikan tanah kelahirannya, hingga akhirnya mengatur sebuah perjalanan singkat untuk saya ke Gili Labak.

Liburan singkat saya dimulai di kota pahlawan Surabaya yang menjadi titik kumpul bagi saya dan rekan-rekan yang berjumlah 20 orang. Kami memulai perjalanan pada malam hari, sekitar pukul sembilan malam, menggunakan dua mobil sewaan dan satu mobil pribadi.

Kabupaten Sumenep yang menjadi tempat tujuan kami terletak di bagian paling ujung utara Madura. Perjalanan ke sana memakan waktu hingga empat jam, hingga kami akhirnya tiba di tempat peristirahatan pada pukul satu dini hari.

Perjalanan kami yang sesungguhnya dimulai keesokan harinya. Sebelum menikmati indahnya Gili Labak, kami harus menyeberang ke Kecamatan Talango, sekitar 15 menit dari pelabuhan Kalianget, dengan menggunakan kapal sederhana yang mampu mengangkut ketiga mobil kami. Rupanya kapal penyeberangan ini telah menjadi moda transportasi sehari-hari masyarakat di daerah tersebut. Tampak berbagai motor lalu-lalang menyeberang dari satu sisi ke sisi lainnya. Tiket kapal pun tergolong cukup murah, yaitu dua ribu rupiah per orang.

Setibanya di Kecamatan Talango, perjalanan kami dilanjutkan menggunakan perahu kecil yang hanya mampu menampung 20-30 orang. Inilah satu-satunya transportasi yang tersedia untuk menuju Gili Labak. Tarif sewa perahu yang ditawarkan cukup bervariasi, mulai dari Rp. 500.000,- hingga Rp. 800.000,- tergantung kemampuan tawar menawar Anda.

Perjalanan kami mengarungi lautan lepas dengan perahu diesel memakan waktu sekitar dua jam. Bagi saya yang memang berniat untuk menjadi petualang hari itu, rasanya ini bukanlah masalah besar. Saya pikir, apa susahnya menaiki perahu selama dua jam?

Rupanya saya salah besar. Setelah 30 menit perjalanan laut, saya mengalami mabuk laut berat. Untungnya, teman-teman saya sangat suportif dan membantu saya agar sebisa mungkin merasa nyaman. Sebenarnya perjalanan laut ini tidaklah terlalu berat, seandainya pagi harinya saya sempat sarapan. Saran saya: jangan pernah berlayar dengan perut kosong.

Setelah hampir dua jam mengarungi laut, dari kejauhan tampaklah sebuah pulau kecil yang terlihat seperti tidak berpenghuni. Tibalah kami di salah satu surga wisata Indonesia: Gili Labak.

Foto: zamsjourney
Foto: zamsjourney

Pertama kali menginjakkan kaki di pulau kecil ini, hanya satu kalimat yang terlintas di benak saya: saya tidak ingin pulang! Gili Labak bagaikan pulau pribadi yang sungguh indah. Segala sesuatu terasa sangat alami dan bagaikan belum tersentuh oleh manusia: Jernihnya air laut biru, putih bersihnya pasir pantai dan segarnya udara laut. Tidak mengherankan Gili Labak seringkali dibandingkan dengan tujuan wisata tersohor di Thailand, yaitu Pulau Phi Phi.

Dengan luas hanya sekitar lima hektar, memang tidak banyak aktivitas yang dapat dilakukan di Gili Labak. Namun keindahan Gili Labak sudah mampu menjadi daya tarik tersendiri. Bagi para pemburu foto, Gili Labak bagaikan harta karun. Anda dapat mengelilingi pulau dengan berjalan kaki 30 menit saja dan menikmati berbagai keindahan alam yang ditawarkan oleh Gili Labak. Bagi para pecinta snorkeling, Anda juga dapat menikmati pemandangan terumbu karang yang masih terjaga dengan baik. Bagi saya sendiri, indahnya laut biru dan halusnya pasir putih sudah cukup menjadi pengobat rindu pada alam.

Meski Gili Labak adalah salah satu tujuan wisata di daerah Madura, namun sayangnya infrastruktur penunjang di daerah ini masih tergolong kurang. Bagi yang ingin menyaksikan keanekaragaman biota bawah laut, Anda harus menyiapkan peralatan snorkeling pribadi karena di sini belum ada tempat penyewaan. Selain itu, tidak tersedianya air bersih dan air tawar untuk mandi juga menjadi kekurangan pulau ini.

Gili Labak dihuni oleh sekitar 35 kepala keluarga yang rata-rata hanya dapat berbahasa Madura. Warga pulau kecil ini hidup sederhana dalam rumah-rumah bamboo, tanpa adanya listrik maupun air tawar. Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka bergantung pada tampungan air hujan dan kiriman sandang pangan dari pulau tetangga.

Terlepas segala kekurangan tersebut, keindahan Gili Labak begitu memikat saya dan rekan-rekan, hingga tanpa terasa hari beranjak sore. Kami pun bergegas kembali agar tidak terjebak ombak pasang.

Lelah, mabuk, dan kulit gosong adalah sebagian “oleh-oleh” yang kami bawa dari Gili Labak. Namun keindahan alam dan pengalaman di sana sungguh tak terlupakan. Menurut pendapat saya, tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk menikmati pulau seindah Pulau Phi Phi, karena Indonesia memiliki Gili Labak.

Leave a Reply
<Modest Style