Whitaker Bersinar sebagai Mualaf dalam Film Peserta Berlinale

,
Aktor Forest Whitaker berpose pada sesi pemotretan film “La Voie de L’ennemi” (Two Men in Town) yang ditayangkan di Kompetisi Berlinale dalam Festival Film Berlinale ke-64 di Berlin, 7 Februari 2014. Berlinale ke-64, festival film utama di Eropa pertama tahun ini, dimulai sejak 6 Februari 2014 dengan penayangan 24 film internasional sebagai pertunjukan utama. AFP Photo / Patrik Stollarz
Aktor Forest Whitaker berpose pada sesi pemotretan film “La Voie de L’ennemi” (Two Men in Town) yang ditayangkan di Kompetisi Berlinale dalam Festival Film Berlinale ke-64 di Berlin, 7 Februari 2014. Berlinale ke-64, festival film utama di Eropa pertama tahun ini, dimulai sejak 6 Februari 2014 dengan penayangan 24 film internasional sebagai pertunjukan utama. AFP Photo / Patrik Stollarz

Oleh Deborah Cole

BERLIN, 7 Februari 2014 – Pemenang Oscar Forest Whitaker memerankan terpidana pembunuh polisi yang mencari kesempatan kedua di Amerika sebagai seorang mualaf dalam film peserta festival film Berlin Jumat lalu.

Dalam “Two Men in Town” karya sutradara Perancis-Aljazair Rachid Bouchareb, tokoh William Garnett yang diperankan Whitaker berusaha untuk kembali ke jalan yang lurus setelah bebas dari penjara New Mexico dengan bantuan seorang petugas pembebasan bersyarat, diperankan aktris Inggris Brenda Blethyn, yang bersimpati terhadap Garnett.

Sayangnya, kepala kepolisian setempat (Harvey Keitel), penegak hukum tegas yang banyak berurusan dengan gelombang kedatangan imigran gelap dari perbatasan Mexico, merasa murka dengan bebasnya Garnett yang telah membunuh wakilnya 20 tahun lalu.

Garnett menjadi mualaf di dalam penjara. Tak lama setelah bebas, ia dengan cepat mendapat pekerjaan sebagai tukang bantu-bantu di sebuah peternakan, sebuah kamar di sebuah rumah singgah, dan bahkan mendapatkan cinta seorang pegawai bank (Dolores Heredia) yang beremigrasi dari Mexico 10 tahun sebelumnya.

Namun langkah Garnett selalu dihalangi oleh kepala polisi sedangkan mantan rekan kriminalnya (Luis Guzman) menginginkan Garnett kembali ke kehidupannya yang lama.

Film ini adalah pembuatan ulang dari karya Perancis klasik tahun 1973 dengan bintang Alain Delon dan Jean Gabin. Namun Bouchareb menyatakan bahwa ia hanya menggunakan garis dasar cerita aslinya untuk membuat versi yang lebih mendekati kondisi sosial dan politik Amerika saat ini.

“Film-film saya selalu didasarkan oleh berbagai isu seperti perpindahan manusia, imigrasi, penyeberangan perbatasan, interaksi antar budaya – inilah hal yang dapat ditemukan di seluruh film saya,” ujarnya, seraya menggarisbawahi diskriminasi anti-Islam dalam film ini.

‘Tekanan yang dialami lelaki ini’

Bouchareb, 60, sangat dikenal dengan terobosan yang dilakukannya melalui sebuah film drama tahun 2006 berjudul “Days of Glory” (Indigenes) tentang warga Afrika utara yang mengabdi untuk tentara Perancis di Perang Dunia II.

Whitaker, lelaki kelahiran Texas yang memenangkan Oscar tahun 2007 untuk perannya sebagai Idi Amin di “The Last King of Scotland” dan mendapat sambutan hangat untuk perannya di “The Butler”, menyebutkan bahwa kondisi lintas budaya di lapangan mempengaruhi proses pembuatan film.

“Kami membicarakan bagaimana rasanya menjadi mualaf, bagaimana Anda akan dicap sebagai teroris, bagaimana Anda akan dianggap sebagai seorang pengkhianat negara, bagaimana rasanya menjadi orang kulit hitam yang tinggal di kota tersebut dan pernah memiliki catatan hitam,” ujarnya.

“Ini adalah film Rachid, dan saya hanya memberi masukan tentang apa yang dialami lelaki ini,” ungkap Whitaker, 52, yang mendapat tepukan meriah dari para kritikus setelah menonton cuplikan filmnya sebelum acara pemutaran perdana Jumat malam.

Blethyn, yang berperan di film drama Bouchareb tahun 2009 berjudul “London River” tentang pengeboman 7/7, menjelma sebagai perempuan bersenjata penegak keadilan di wilayah padang pasir yang percaya bahwa mantan narapidana berhak mendapat kesempatan untuk kembali menjadi bagian dari masyarakat.

“Saya menghabiskan waktu bersama seorang petugas pembebasan bersyarat di Albuquerque dan ia mengajak saya melihat dunianya,” sebut Blethyn (67).

“Pekerjaan seorang petugas pembebasan bersyarat sangatlah berat. Saya pribadi tidak akan mampu melakukannya… Ia mengajari saya satu dua trik dalam melakukan pekerjaan ini, jadi jangan macam-macam dengan saya ya,” candanya.

“Two Men in Town” adalah satu di antara 20 film yang bersaing memperebutkan hadiah utama Beruang Emas di festival ini. Pemenang hadiah tersebut diumumkan pada tanggal 15 Februari 2014.

Leave a Reply
Aquila Klasik