Modest Style

Mengajari orangtua dan lansia bahaya internet

,

Internet bisa jadi terasa membingungkan bagi orangtua, sehingga kita perlu membimbing mereka dalam cara menggunakannya, tulis Lina Lewis.

Mireille Caunesil, 98, menulis di blognya di sebuah panti werdha di Grenoble, Perancis. AFP Photo / Philippe Desmazes
Mireille Caunesil, 98, menulis di blognya di sebuah panti werdha di Grenoble, Perancis. AFP Photo / Philippe Desmazes

Di tahun 90an, saat internet sudah semakin mudah diakses, saya mulai mengkhawatirkan kemungkinan keponakan-keponakan saya bersentuhan dengan ketidakpastian ruang yang banyak disebut sebagai dunia maya. Untungnya, kekhawatiran tersebut telah diringankan dengan adanya pengawasan dan bimbingan dari orang dewasa.

Yang tidak saya perhitungkan adalah perlunya menghabiskan cukup banyak waktu menjelaskan internet – juga bahayanya – ke orangtua dan kerabat lebih tua lainnya.

Saya ingat hari ketika saya mengajari ayah saya cara mengirim surel. Saat itu tahun 2011, beberapa saat sebelum kepindahan saya ke Belgia.

Sebelum pergi, saya mendudukkannya di depan komputer saya dan menuntunnya membuat akun surel.

“Ini seperti kotak suratmu,” begitu saya menjelaskan. “Namun, Ayah tidak akan menerima kertas, melainkan gambar surat. Ayah akan menerima surat Ayah di layar.”

Saya memintanya mengirimkan surel percobaan kepada saya. Pertanyaannya saat itu, “Berapa hari suratnya akan sampai kepadamu?”

Saat saya membuka kotak masuk surel saya dan menunjukkan padanya bahwa surelnya akan langsung sampai, ia memandangi saya seakan saya baru saja mempertunjukkan trik sulap terhebat di dunia.

Kemudian, saya membuatkannya akun Skype. Entah bagaimana, baginya konsep konferensi video lebih mudah dipahami. “Hanya seperti berbicara di telepon,” ujarnya, “namun dengan gambar dari cctv.”

Pelatihan dasar surel dan Skype lebih memudahkan ayah untuk terus berhubungan dengan saya saat saya tinggal di luar negeri.

Saat saya mendengar perbincangannya dengan para tante dimulai dengan, “Sudah lihat ini di Facebook?” saya menyadari saya harus turun tangan

Bertahun-tahun kemudian, jejaring sosial menjadi semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari kami. Orangtua dan kerabat saya yang lebih tua ikut terkena demam Facebook.

Pada 2009, ibu dan tante-tante saya membuat akun Facebook. Seperti yang bisa diduga, dinding Facebook saya menjadi penuh dalam semalam.

Mereka sangat girang dengan dunia baru di mana komunikasi menjadi lebih mudah. Jarak antara mereka memendek, mereka merasa dunia mereka menciut.

Facebook menjadi segalanya bagi mereka. Saat itu seakan secara vitual mereka kembali ke masa kanak-kanak penuh kebebasan. Mereka dapat berkumpul tanpa harus meninggalkan rumah.

Dengan bertambahnya teman Facebook ibu dan para tante, berkembanglah jumlah berita yang masuk. Dan saat itulah masalah muncul.

Dengan banyaknya cerita dan informasi yang masuk, mereka menelan bulat-bulat apa yang mereka lihat. Mereka mempercayai segala yang mereka baca, dan lupa mempertanyakan bagian yang tidak logis.

Awalnya saya tidak terlalu memusingkannya, dan hanya mengabaikan saat ia menyebutkan pernyataan meragukan yang dibacanya di internet. Namun saat mendengar perbincangannya dengan para tante dimulai dengan, “Sudah lihat ini di Facebook?” saya menyadari saya harus turun tangan.

Jadi saya bertekad untuk mengajari ibu saya cara memilah informasi di internet, dan mendorong sepupu-sepupu saya untuk melakukan hal yang sama pada para tante. Saat itu keadaannya sudah mulai keterlaluan; saya sampai harus menelusuri dinding Facebook mereka untuk memastikan mereka tidak membagikan konten yang salah atau menyesatkan.

Berikut adalah beberapa poin dasar yang saya sampaikan pada ibu saya:

  • Tidak semua orang di Facebook itu nyata, dan jangan pernah percaya pada orang yang meminta uang atau data pribadi. Saya membuktikan hal ini dengan memperlihatkan betapa mudahnya menciptakan akun palsu, lengkap dengan foto yang meyakinkan dan status yang memikat.
  • Tanggal itu penting. Tidak semua artikel yang muncul di Facebook itu baru. Beberapa artikel yang sangat sensasional biasanya sudah basi, namun diungkit-ungkit oleh orang dengan tujuan tertentu. (Saya juga mengajarinya menggunakan Google untuk mencari artikel dan melihat tanggal terbit.)
  • Kredibilitas perlu dipertanyakan di internet. Ia tidak boleh mempercayai segala hal yang ia baca. Sebuah gambar hibrida anjing dengan manusia bermunculan di internet dengan tulisan yang menyatakan bahwa itulah bentuk kemurkaan Allah pada pembuat dosa. Saya tunjukkan padanya bahwa gambar tersebut sebenarnya adalah ukiran karya seniman Patricia Piccinini dari pamerannya di tahun 2003 bertajuk We Are Family.
  • Bersikaplah netral. Saya menekankan padanya bahaya meninggalkan komentar atau membuat status yang dapat memancing fitnah atau kesalahpahaman. Saya mengingatkannya bahwa pembaca tidak dapat mendengar nada bicaranya saat membaca tulisannya. Jadi, membaca pernyataan santai di hari yang buruk dapat berujung pada penangkapan yang salah dan menyebabkan sakit hati.
  • Cari pendapat kedua. Ibu dan para tante cenderung mempercayai apa saja yang terdapat di profil atau laman Facebook yang tampak relijius. Jadi saya mengingatkan mereka pentingnya mencari pendapat kedua dari pejabat keagamaan yang terpercaya, dan bukannya mempercayai begitu saja tanpa mempertanyakan dan langsung menyebarkan berita tersebut.

Beberapa bulan lalu, salah satu tante saya membagikan sebuah status di Facebook. Status tersebut memperingatkan umat Muslim untuk tidak menggunakan “mosque” untuk masjid dalam bahasa Inggris. Kita harus menyebut masjid, status tersebut menekankan, karena kata “mosque” berasal dari “bahasa orang kafir”.

Saya hanya menggelengkan kepala; saya pikir saya telah memberikan pelajaran tentang melek internet dengan tuntas, namun jelas sekali kalau kerabat saya yang lebih tua membutuhkan pelatihan lebih lanjut untuk menghindari penyakit internet. Seperti halnya tugas orangtua tidak pernah selesai, kita juga harus selalu waspada saat menjaga keamanan para orang tua di keluarga kita dari bahaya internet.

Jadi saya tunjukkan sebuah ayat dari sumber terpercaya pada mereka:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS 33:58)

Leave a Reply
<Modest Style