Modest Style

Dari Salatiga merambah dunia

,

Bermula dari meminjam komputer warnet, kini usaha rumahan mereka telah melayani lebih dari 100 klien luar negeri. Oleh Miranti Cahyaningtyas.

WP salatiga 01
(Ki-Ka: Arfi’an Fuadi, M Arie Kurniawan, Wakil Presiden Senior GE Susan Peters, dan CEO GE Indonesia Handry Satriago) Kredit: Indonesia Proud

Kakak beradik Arfi’an Fuadi dan M. Arie Kurniawan mendirikan perusahaan desain teknik tiga dimensi DTech Engineering pada tahun 2009 di kampung halaman mereka di Salatiga, Jawa Tengah. Mereka meyakini bahwa usaha desain 3D akan meledak ke depan – dan mereka tidak salah. Jika lima tahun yang lalu mereka harus pergi ke warung internet dulu setiap akan mengirimkan hasil pekerjaan, kini dengan dibantu dua karyawan, mereka sudah melayani sekitar 150 klien dari seluruh penjuru dunia.

Penghasilan yang mereka dapat pun sangat memuaskan. Merea dapat membangun rumah dan membelikan mobil bagi orang tua mereka. Hal ini sempat menjadi bahan pergunjingan tetangga yang menyangka mereka “memelihara tuyul” karena tidak pernah keluar rumah namun selalu tampak memiliki uang berlimpah. Sangkaan ini hanya ditanggapi dengan tawa oleh keduanya.

Kakak beradik berprestasi ini telah mendapat berbagai penghargaan internasional. Yang terbaru adalah saat tahun lalu mereka menjadi juara pertama dalam kompetisi 3D Printing Design Quest yang diadakan oleh General Electric (GE) di Amerika Serikat, mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara. Keduanya mengalahkan seorang Doktor dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force dan alumnus Oxford University yang bekerja di Airbus, yang menempati peringkat kedua dan ketiga.[i]

WP salatiga 02
Braket yang membawa Arie menjadi juara di kompetisi 3D Printing Design Quest oleh General Electric

Padahal, Arfi dan Arie berasal dari keluarga sederhana. Keduanya hanya lulusan SMK yang mempelajari teknik gambar Computer Aided Design (CAD), kalkulasi material menggunakan Finite Element Analysis (FEA), dan ilmu-ilmu lain secara otodidak melalui internet. Sebelumnya, Arfi pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, mekanik sepeda motor, hingga penjual susu keliling. Sementara Arie pernah bekerja sebagai pengangkut pasir dan tukang cuci motor demi memenuhi kebutuhan hidup.[ii]

Dengan bantuan keluarga untuk membeli computer AMD 3000+, Arfi memberanikan diri memulai usaha rumahannya pada 9 Desember 2009.

Kedua kakak beradik ini sebenarnya ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, namun mengaku bahwa ketiadaan ijazah SMA umum menghalangi mereka mewujudkan keinginan tersebut. Meski begitu, tanpa patah arang mereka terus berkarya sekaligus membagikan pengetahuan mereka pada orang lain.

Beberapa siswa SMK yang datang ke tempat mereka untuk belajar kini sudah bekerja secara profesional dalam bidang desain teknik 3D. Salah satu murid mereka sementara juga menjadi peserta termuda dalam kompetisi Asian Skills Competition. Menurut Arie, ia juga menyambut positif ajakan Ricky Elson, pencipta mobil listrik local Gendhis dan Selo, untuk bekerja sama.

Arfi dan Arie seharusnya menjadi inspirasi bagi banyak anak muda yang menghabiskan waktu main game di Internet, bahwa waktu mereka yang berharga dapat digunakan untuk menangkap peluang, menuntut ilmu serta memajukan diri, keluarga dan bangsa.

________________________________________

[i] GE Announces Winners of 3D Printing Design Quest. www.businesswire.com. Diakses pada tanggal 7 Agustus 2014. Dapat dilihat di sini.
[ii] Dikira Pelihara Tuyul karena Pekerjaan Tidak Jelas. m.jpnn.com. Diakses pada tanggal 7 Agustus 2014. Dapat dilihat di sini.

Leave a Reply
<Modest Style