Modest Style

Teknik Pernapasan Yoga untuk Mengatasi Kepanikan Anak

,
WP yoga untuk anak
Pujiastuti dan jagoan kecilnya

Pada suatu pagi, anak sulung saya yang berusia sembilan tahun dan duduk di bangku kelas 4 SD uring-uringan. Ia terlambat bangun dan merasa kesal karena tidak ada yang membangunkannya lebih pagi. Ternyata, hari itu akan ada ulangan dua mata pelajaran di sekolah dan ia merasa belum menguasai materi  yang akan diujiankan. Walaupun malam sebelumnya ia sudah sempat belajar, ia berencana untuk bangun lebih pagi untuk kembali mengulang pelajaran. Namun karena bangun kesiangan, bukan saja ia tidak bisa belajar lagi, tapi juga terancam akan kesiangan datang ke sekolah. Panik pun datang. Panic Attack!

Rasa panik ini kemudian ia lampiaskan dengan marah-marah, berteriak, juga menangis. Dan setelah ia marah, konflik baru pun ia rasakan: rasa menyesal karena sudah marah-marah, plus rasa takut akan dimarahi gurunya. Rasa panik yang bercampur takut dan sesal ini akhirnya mengakibatkan si anak tidak mau pergi sekolah.

Hm, panik memang membuat pikiran jadi buntu. Perasaan ini membuat kita sulit melihat solusi bagaimana cara, ibaratnya, membuat nasi yang sudah menjadi bubur tetap enak untuk dimakan.

Jujur saja, kondisi anak saya tersebut sebenarnya merupakan cerminan diri saya sendiri. Memang benar bahwa buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Saya sering menyebutkan di berbagai buku, tulisan dan wawancara dengan media bahwa sifat asli saya adalah mudah panik, sehingga akhirnya belajar yoga. Itu seratus persen benar adanya. Walaupun saat ini saya sudah menjadi manusia yang jauh lebih tenang, tapi tetap saja,  sifat asli saya demikian adanya: mudah panik dan kalang kabut.

Dan menghadapi anak yang panik membuat saya bercermin, seperti apa saya dan kira-kira penanganan apa yang saya butuhkan dalam kondisi seperti itu.

Cerita ini sempat saya curahkan di akun twitter saya dan berikut ini adalah poin-poin perenungan saya yang mudah-mudahan dapat bermanfaat juga untuk teman-teman pembaca yang sudah menjadi orangtua :

•    Saat anak panik, orang tua sebaiknya tidak ikut panik
•    Anak yang panik tidak boleh dimarahi walaupun ia bersalah, karena itu akan membuatnya semakin panik
•    Sebagai orang tua, saya bertekad menjadi pohon yang kuat untuk tempat bernaung dan berlindung anak agar membantu anak kembali tenang dan menguasai dirinya dari kepanikan.
•    Sebagai orang tua, saya harus selalu terpusat (centered) agar tetap tenang dan tidak terpancing marah, apalagi sampai ikut-ikutan panik.
•    Mengantisipasi kepanikan lebih mudah dibandingkan mengatasi kepanikan. Membantu mengingatkan dan mengecek ulang keperluan anak adalah salah satu bentuk cara mengantisipasi kepanikan anak.

Selain itu, saya ingat ada satu teknik pernapasan yoga untuk anak yang disebut dengan “Take Five Breaths”. Caranya: Minta anak untuk mengangkat tangannya dengan terkepal. Tarik napas, perlahan buka satu persatu jari tangan hingga terbuka semua. Buang napas, perlahan tutup kembali jari tangan satu persatu. Lakukan selama yang anak butuhkan, dan lebih baik jika sambil ditemani oleh ibu atau ayahnya. Lakukan sampai detak jantung anak lebih tenang dan napasnya lega.

Teknik pernapasan di atas bermanfaat untuk membantu anak agar lebih tenang dan berkonsentrasi saat belajar atau saat akan mengerjakan  ulangan atau ujian. Tapi teknik ini bukanlah untuk kasus yang tengah dialami oleh anak saya di pagi hari tersebut.

Saat itu, anak saya takut karena merasa tidak siap untuk ulangan dan juga takut untuk menghadapi gurunya yang tidak suka pada anak yang datang sekolah kesiangan. Hei, walaupun untuk kita orang dewasa dimarahi guru adalah hal yang tidak terlalu gawat, tapi untuk anak-anak – apalagi anak yang mudah panik – menghadapi guru yang galak adalah sebuah bahaya yang nyata. Selain itu, jujur saja, tidak ada cara lain untuk selamat dari kesiangan datang ke sekolah.

Untuk itu, anak sebaiknya diarahkan untuk belajar menghadapi ketakutannya dan pasrah. To fight, not to flight. Harus tetap berangkat sekolah, walaupun pasti kesiangan, walaupun mungkin dimarahi guru, walaupun mungkin malu pada teman-teman dan walaupun mungkin perlu ulangan susulan jika nilainya jelek. Mendukung anak untuk menghadapi ketakutannya lebih baik daripada membiarkannya menghindari ketakutan, yang kelak akan membiasakannya untuk selalu lari dari masalah.

Untuk kondisi panik yang lebih mendesak, orangtua dapat melakukan teknik pernapasan yoga bersama anak yang dinamai “Bear Hug Breathing”. Caranya: Peluk anak dengan erat. Temukan detak jantung anak. Kemudian, minta anak untuk bernapas mengikuti ritme napas anda. Bernapaslah perlahan dan dalam. Lakukan sampai Anda bisa merasakan ketegangan yang mereda dari tubuh anak, dan jantungnya berdetak lebih perlahan.

Setelah anak lebih tenang dan pasrah, tetap temani anak dan bantu ia untuk menyelesaikan masalahnya, karena kondisi tenang tersebut masih merupakan kondisi ketenangan yang labil. Ketenangan yang sebenarnya baru bisa dirasakan setelah anak melalui masalahnya.

Akhirnya, anakku pun mau berangkat sekolah dalam ketenangan yang labil, dan beserta janji dari mamanya, “Nanti mama bbm ibu guru di sekolah ya, minta maaf karena kakak datang sekolah terlambat.”

Saya juga mengiringinya dengan doa, “Selamat ujian anakku sayang. Mama doakan semoga ulanganmu hari ini lancar dan dirimu senang berada di sekolah. Amin.”

Siang harinya saat jam istirahat, mama pun menyempatkan diri untuk menghubungi anak melalui telepon genggam ibu guru. Dari suaranya, sang anak terdengar sangat gembira memberitakan bahwa kedua ulangannya mendapat nilai sembilan!

Hebat! Selamat ya anakku.

Memang ternyata, apa yang kita takutkan seringkali tidak terjadi.

 

Versi asli artikel ini dipublikasikan di situs milik penulis.

 

Leave a Reply
<Modest Style