Sekuel 99 Cahaya di Langit Eropa Siap Memukau Audiens Indonesia

,

Mengikuti kesuksesan bagian pertama, sekuel film ini mengangkat kembali kebesaran Islam di bumi Eropa yang seringkali terselimuti kabut prasangka dan kesalahpahaman, tulis Najwa Abdullah.

WP Sekuel 99 Cahaya

Keberadaan Islam di belahan dunia lain, terutama di negara-negara sekuler seperti di benua Eropa, seringkali diwarnai dengan prasangka dan kesalahpahaman. Dengan segala kompleksitas global yang dihadapi umat Muslim saat ini – mulai dari isu terorisme, konflik politik antarnegara, serta konflik antara nilai-nilai yang berlaku di masyarakat – tantangan yang dihadapi umat Muslim saat ini cukup besar dan yang pasti sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya.

Namun, sesungguhnya, di balik segala kerumitan tersebut, sejarah menunjukkan bahwa Islam menawarkan solusi yang cukup sederhana, yaitu toleransi dan kebaikan.

Kira-kira refleksi inilah yang menjadi fondasi bagi penulis novel 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum Salsabiela Rais, dalam menceritakan perjalanannya di Eropa bersama sang suami, Rangga Almahendra. Bagi Hanum, perjalanan yang ia beberapa tahun yang lalu ini merupakan sebuah petualangan yang mengubah hidupnya.

Film adaptasi bagian pertama novel ini, yang dirilis bulan November tahun 2013 lalu, mendapatkan sambutan yang sangat baik dari masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim. Antusiasme masyarakat yang ada menunjukkan bahwa tema yang diusung dalam film ini sangatlah menarik, karena memberikan sebuah perspektif baru mengenai Islam yang menjadi keyakinan minoritas di Eropa melalui perjalanan dua orang yang datang dari negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Kini, bagian kedua film ini siap memukau para penontonnya di Indonesia mulai tanggal 6 Maret 2014. Dalam konferensi pers yang diselenggarakan hari Senin, tanggal 3 Maret lalu di Epicentrum XXI di bilangan Kuningan, Jakarta, para pemain, sutradara, serta produser sepakat bahwa sekuel film 99 Cahaya di Langit Eropa yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto ini menawarkan sebuah garapan dengan konsep serta plot yang lebih matang dan terstruktur.

Dibandingkan dengan bagian pertama yang menitikberatkan cerita pada deskripsi kehidupan masyarakat mahasiswa Indonesia di Austria serta pengenalan karakter, bagian kedua film ini menyuguhkan konflik cerita dan eksplorasi karakter yang lebih mendalam.

Di bagian kedua ini, perjalanan Hanum (diperankan oleh Acha Septriasa) dan Rangga (diperankan oleh Abimana Aryasatya) merambah ke beberapa kota nan indah di Eropa seperti Cordoba dan Istanbul. Dalam perjalanan inilah, Hanum dan Rangga menemukan jejak-jejak Islam yang pernah bersinar di Eropa dalam bangunan serta situs bersejarah seperti Mezquita dan Hagia Sophia.

Selain kisah perjalanan mereka, kelanjutan persahabatan Hanum dengan Fatma (diperankan oleh Raline Shah), perempuan Turki yang membuka cakrawala wawasannya tentang Islam di Eropa pun terungkap. Walaupun Hanum kehilangan jejak Fatma di akhir film pertama, hal tersebut tidak membuatnya lupa akan keinginannya untuk menyaksikan sendiri kebesaran Islam di balik dinding-dinding bangunan tua di penjuru Eropa.

Di sisi lain, persahabatan Rangga dengan teman-teman kampusnya juga mengalami berbagai kendala. Mulai dari Khan (Alex Abbad) dan Stephan (Nino Fernandez) yang terus berseteru tentang Islam, hingga konflik cinta antara Rangga dan Marja (Marissa Nasution). Setiap pemecahan masalah dalam konflik yang ada disertai dengan pesan-pesan nilai dan moral agama Islam yang tersirat, yang akhirnya berujung pada suatu simpulan yang menarik dan universal.

Aspek universal inilah yang berusaha ditonjolkan oleh orang-orang di balik produksi film ini. Dalam konferensi pers hari Senin lalu, salah satu kru dari Alim Studio yang terlibat dalam proses produksi mengatakan bahwa ia setuju jika film ini tidak dikategorikan sebagai film religi, namun sebagai film sejarah. Ia menyebutkan bahwa hal utama yang ingin disampaikan dalam film ini adalah pentingnya hidup berdampingan dan damai dengan segala perbedaan agama yang ada. Sejak ratusan tahun yang lalu, lewat situs-situs bersejarah dalam film ini sebagai saksinya, Islam sudah membuktikan bahwa pendekatan yang toleran dan damailah yang membawa Islam kepada kejayaan, dan kekerasanlah yang pada akhirnya meruntuhkan kekuasaan Islam di Eropa. Sebagai agama mayoritas di Indonesia, aspek-aspek toleransi ini harus dijunjung oleh masyarakat mengingat Indonesia adalah negara yang sangat plural dan multikultural.

Melalui potret kehidupan masyarakat Muslim di Eropa yang menjadi minoritas, film ini juga memberikan gambaran bagi kaum Muslim di Indonesia bahwa hidup sebagai kelompok minoritas tidaklah mudah. Muslim di Indonesia sangat dimanjakan dengan fasilitas ibadah yang sangat memadai, lingkungan yang mendukung kebebasan beragama serta beragam hak istimewa. Bagaimanakah jika situasi tersebut berbalik, dan Muslim menjadi istilah yang sangat asing bahkan cenderung diwarnai stigma, seperti yang terjadi di banyak negara lain?

Pada intinya, film ini menawarkan banyak makna. Hal ini pun dirasakan oleh para aktris dan aktor yang terlibat dalam film ini. Seperti yang dikatakan oleh Acha Septriasa, pemeran utama wanita dalam film ini, bahwa ia belajar banyak hal dalam proses syuting di berbagai kota di Eropa. Kini ia memahami bahwa Islam memiliki peran yang begitu penting dalam ilmu pengetahuan dan peradaban dunia. Ia pun merasa ada perkembangan spiritual yang terjadi dalam dirinya setelah menelusuri jejak Islam dan Kristen dalam beberapa situs bersejarah yang menakjubkan.

Penasaran seperti apa film ini? Silakan saksikan sendiri keindahan dan kemasyhuran Islam di benua biru yang dikemas dalam cerita cinta dan persahabatan yang sangat menyentuh.

99 Cahaya di Langit Eropa akan tayang di bioskop mulai hari Kamis, 6 Maret 2014.

Leave a Reply
Aquila Klasik