Modest Style

RS Islam Myanmar Menerima Semua Pasien Tanpa Diskriminasi

,
Gambar yang diambil pada 31 Mei 2013 ini menunjukkan dokter dan asisten medis mengoperasi pasien di Rumah Sakit Islam Gratis di Yangon. AFP Photo/Soe Than Win
Gambar yang diambil pada 31 Mei 2013 ini menunjukkan dokter dan asisten medis mengoperasi pasien di Rumah Sakit Islam Gratis di Yangon. AFP Photo/Soe Than Win

YANGON, 16 September 2013. Oleh Kelly Macnamara (AFP) – Dari aktivis politik yang dibebaskan setelah bertahun-tahun ditahan di penjara Myanmar sampai keluarga miskin, semua dilayani di Muslim Free Hospital (Rumah Sakit Muslim Gratis) Yangon – simbol persatuan di negara yang tercabik-cabik oleh kerusuhan agama itu.

Hampir tidak ada ruang kosong di pusat medis yang sibuk ini. Dari undak-undakan di depan bangunan yang berjelaga, melewati tangga yang berdebu dan masuk ke dalam bangsal-bangsal yang gerah, masyarakat menunggu untuk mendapat perawatan kesehatan. Dalam sistem kesehatan Myanmar yang sangat kekurangan dana, fasilitas layanan kesehatan di tempat lain berada di luar jangkauan orang-orang ini.

Kerumunan orang ini — rumah sakit ini menangani hingga 500 pasien rawat jalan per hari — menjadi bukti keragaman penduduk kota utama di negara mayoritas Buddha ini, dengan aneka semburat warna dari longyis, pakaian adat Myanmar yang mirip rok, serta kerudung kaum muslim.

‘Saya dokter bedah, jadi tanggung jawab saya adalah menyembuhkan pasien yang sakit,’ kata Tin Myo Win sebelum memulai rutinitas keliling bangsal.

‘Kebijakan rumah sakit ini adalah tidak melakukan diskriminasi. Tidak peduli apakah orang kaya atau miskin, atau apa agama mereka,’ katanya.

Sang dokter, yang merupakan mantan tahanan politik terkenal yang telah bertahun-tahun menjadi dokter pribadi pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi, mengatakan ia telah merawat ‘banyak biarawan’ selama 21 tahun bertugas di rumah sakit.

Fasilitas kesehatan ini menjadi mercusuar kerukunan yang langka di negara yang diguncang kekerasan agama baru-baru ini. Huru-hara itu menampilkan keretakan nasional yang memburuk selagi negara ini melepaskan diri dari bayang-bayang kekuasaan militer.

Sekitar 250 orang tewas dan lebih dari 140 ribu orang kehilangan tempat tinggal dalam beberapa insiden kekerasan sejak Juni 2012, terutama kaum minoritas muslim yang menjadi sasaran kerusuhan dan kampanye nasionalis yang dipimpin oleh segolongan biarawan radikal.

Walaupun menjalarnya kerusuhan agama telah memicu ketegangan di negara ini, masyarakat yang mendatangi rumah sakit di pusat kota Yangon yang multikultural mengatakan perbedaan harus dikesampingkan.

‘Saya tidak memikirkan hal itu. Saya telah sering berbisnis dengan muslim sebelumnya. Saya menjalin persahabatan yang baik dengan mereka,’ kata Tin Tin Khaing, seorang Buddhis. Ayahnya yang berusia 57 tahun datang dari wilayah Delta Irrawaddy untuk menjalani operasi hernia.

Sejarah panjang membantu orang miskin

Rumah sakit ini mulai berdiri sebagai hasil kampanye pemuda muslim lokal sebagai sebuah klinik kecil pada tahun 1937, pada saat Myanmar masih disebut Burma dan dikelola sebagai pos terdepan British India di bawah kekuasaan kolonial.

Sekarang rumah sakit ini memiliki departemen spesialisasi bedah, obstetri dan ginekologi, mata, dan psikiatri. Perawatannya gratis untuk orang yang dianggap terlalu miskin untuk berkontribusi, sementara biaya ringan dibebankan pada orang yang mampu membayar.

Semua layanan kesehatan ini sangat dibutuhkan di negara di mana junta sebelumnya mengabaikan sistem kesehatan karena berfokus pada belanja militer.

Beberapa lembaga bantuan internasional memberikan bantuan terbatas untuk bidang tertentu, dan ada sejumlah klinik yang dijalankan oleh para pendeta Buddha dan partai oposisi Aung San Suu Kyi.

Tapi sebagian besar populasi miskin secara efektif terkucil dari bantuan medis yang paling mendasar sekalipun.

Rumah sakit pemerintah yang sudah bertahun-tahun kekurangan dana dijalankan dengan prinsip berbagi biaya, di mana pasien dikenakan biaya untuk segala sesuatu, mulai dari obat-obatan yang diperlukan sampai peralatan yang digunakan.

Menurut data WHO, total pembiayaan kesehatan di Myanmar adalah $27,9 (Rp 309.000) per orang pada tahun 2011.

Pemerintah hanya menyumbang $2,9 (Rp 33.000) dari jumlah tersebut — kontribusi terendah di dunia. Tapi ini sebenarnya merupakan peningkatan dari tahun 2005, ketika negara mengeluarkan hanya 50 sen dolar AS (Rp 5.600) per kapita.

Simbol toleransi

Tin Myo Win, satu-satunya kepala departemen yang beragama Buddha di rumah sakit itu, mengatakan praktik zakat kaum muslim yang menyumbangkan 10 persen dari pendapatan mereka untuk amal adalah sumber pendapatan penting bagi rumah sakit, selain layanan kesehatan berbayar dan sumbangan internasional.

Dia mengatakan rumah sakit itu telah lama berdiri sebagai simbol lokal toleransi dan perlindungan bagi orang yang tak bisa pergi ke tempat lain.

Selama puluhan tahun di bawah pemerintahan junta, yang berakhir dua tahun lalu, pemerintah Myanmar membuang ratusan aktivis ke penjara terkenal di negara itu, khususnya mereka yang terlibat dalam protes besar-besaran antipemerintah pada tahun 1988 dan 2007.

Tahanan politik (tapol) sering mengalami kondisi yang mengerikan, ditahan jauh dari keluarga mereka, diperlakukan dengan brutal, dan tidak diberi akses ke pelayanan kesehatan yang layak.

Banyak tapol meninggalkan penjara dalam keadaan fisik dan mental yang sangat ringkih tetapi tidak mampu mendapatkan pengobatan di rumah sakit negara, yang juga dianggap memusuhi para tapol yang dibebaskan, kata Tin Myo Win.

Dokter ini menghabiskan tiga tahun di penjara setelah berperan dalam pemberontakan gagal yang dipimpin mahasiswa pada tahun 1988 yang juga menandai bangkitnya oposisi Suu Kyi. Sejak pembebasannya, dia telah menghabiskan dua dekade bekerja di Rumah Sakit Islam, yang menyambut para tahanan politik.

‘Mereka datang ke sini bukan hanya karena masalah keuangan. Mungkin juga karena mereka percaya pada saya. Kami saling memahami dengan sangat baik. Hanya orang-orang yang tinggal di penjara yang tahu bagaimana rasanya menderita di dalam penjara tanpa makanan dan kesehatan. Situasi di dalam penjara mengerikan,’ katanya.

Reformasi politik yang melanda negara itu sejak pemerintahan sipil semu yang baru mengambil alih kekuasaan pada tahun 2011 berarti mantan tahanan tidak lagi ditolak oleh rumah sakit pemerintah.

Tapi loyalitas lama tetap teguh.

‘Dokternya seperti anggota keluarga saya. Kami percaya padanya, jadi kami pergi ke rumah sakit setelah kami dibebaskan,’ kata Kyaw Soe Naing, seorang tahanan politik lima kali yang kini menjadi orang dekat Suu Kyi.

Pria 44 tahun itu mengatakan ia berharap Rumah Sakit Islam akan terus tumbuh dan pusat-pusat medis lain lebih bisa mengikuti contohnya.

‘Apa pun agama yang orang peluk, mereka harus mendapat pengobatan ketika mereka sakit. Saya ingin ada banyak rumah sakit macam itu,’ harapnya.

Leave a Reply
<Modest Style