Modest Style

Ramadhan Seorang Peziarah di Tanah Suci

,

Sahar Deshmukh berbagi kenangan Ramadhan di Mekah dan Madinah.

[Not a valid template]

Empat tahun yang lalu, orangtua saya dan saya pergi umrah (haji kecil) ke kota-kota suci selama 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Tantangan perjalanan ini te antara lain jumlah peziarah yang lebih banyak dari biasanya ditambah dengan suhu terik Timur Tengah.

Saya benar-benar senang berada di Arab Saudi lagi. Setelah pernah tinggal di sana 17 tahun yang lalu, kenangan masa kecil saya terkilas kembali. Selama tahun-tahun yang menyenangkan itu, saya ingat emosi saya bercampur aduk setiap kali kami meninggalkan Madinah.

Saya tidak pernah mengerti mengapa saya merasa begitu. Meskipun lebih lekat dengan Mekah, saya tidak pernah merasakan sentimen yang sama ketika meninggalkan kota itu. Setelah meninggalkan kota-kota suci selama 13 tahun, saya tidak yakin apa yang akan terjadi dalam perjalanan ini.

Madinah

Atmosfer Madinah memiliki ketenangan yang khas, sesuatu yang tidak pernah saya perhatikan sewaktu masih kecil. Di Madinah, jika Anda mengeluh tentang cuaca, Anda akan diberitahu untuk tidak mengucapkan kata-kata seperti itu karena Anda berada di kota Nabi (saw). Itulah budaya penduduk setempat di Madinah – lembut bertutur kata, ramah, dan terus berusaha untuk mempertahankan beberapa karakteristik dari Nabi (saw) kita tercinta karena cinta dan hormat.

Selama waktu berbuka puasa, beberapa jalur terpal plastik dihamparkan di luar Masjid Nabawi (Masjid Nabi) dan di atasnya disebar kurma, laban (minuman yoghurt lokal), roti, jus dan bahan makanan lainnya yang berlimpah. Bahkan selagi Anda berjalan ke arah masjid, banyak orang berdiri dengan berbagai kotak makanan, yang mereka berikan begitu saja kepada semua orang. Saya hanya pernah melihat kemurahan hati seperti itu di sini.

Keindahan dalam mengunjungi kota-kota suci di bulan Ramadhan adalah kita sungguh-sungguh berniat untuk beribadah. Kita dapat berjalan kaki ke masjid pulang pergi lima kali sehari untuk shalat, dan juga shalat tambahan qiyamul lail di larut malam. Setiap kali saya berjalan ke masjid dalam suhu yang membakar, dengan mulut kering dan tubuh bersimbah peluh, saya melihat ratusan orang lain melakukan hal yang sama semata-mata karena Allah. Saya menemukan atmosfer ini benar-benar luar biasa. Seberapa sering kita mendapatkan pengalaman ibadah semacam ini?

Tapi beberapa hal telah berubah sejak tahun 90-an ketika saya masih kecil. Dulu, kami dapat mendekati makam Nabi (saw) dalam rombongan sekeluarga, dan perempuan memiliki akses yang sama untuk berdoa di sana. Sekarang tempat itu telah berubah – perempuan hanya diperbolehkan masuk dalam waktu terbatas di siang hari.

Meskipun saya kecewa dengan hal ini, saya menyukai fakta bahwa bagi perempuan diberikan penjelasan lebih dulu tentang etiket mengunjungi makam Nabi (saw) dalam bahasa yang mereka pahami. Sayangnya, seluruh proses ini terburu-buru dan saya tidak benar-benar bisa menghayati kesempatan berada begitu dekat dengan apa yang saya anggap sebagai hadiah terbesar bagi umat manusia.

Begitu saya selesai berdoa di Riaz ul-Janna (lokasi yang dikenal sebagai ‘pintu gerbang ke surga’), saya diminta untuk pergi oleh para perempuan yang berjaga di sana. Meskipun saya ingin lebih banyak berdoa dan meresapi momen ini, waktunya tak cukup untuk menghargai apa yang baru saja saya alami.

Ini bukan satu-satunya perubahan yang telah terjadi. Saya ingat pernah menjalani tur Madinah sebelum kami pindah ke Kanada pada tahun 1996. Selama tur ini kami mengunjungi banyak masjid, tapi ada satu masjid yang paling berkesan. Masjid itu terbuka dan saya ingat shalat di rumput beralaskan tikar bambu. Pengalaman itu sangat berkesan.

Sayangnya, monumen ini telah ditutup karena ada pengunjung yang diduga melakukan bid’ah (ibadah yang tidak didasarkan pada Al-Qur’an atau hadits). Pemerintah Saudi sangat keras dalam mencegah aksi ini, dan reaksi mereka adalah menutup atau menghancurkan banyak situs bersejarah yang penting.

Meski demikian, masih banyak hal yang bisa dilihat di Madinah. Lokasi pegunungan Perang Uhud, Masjid Quba (masjid pertama dalam sejarah Islam), dan semua masjid penting tempat Nabi (saw) pernah shalat di sana masih terbuka untuk pengunjung.

Masjidil Haram (Masjid Agung), Mekah

Saya selalu senang mengunjungi Mekkah. Sebagai seorang anak, saya sangat terpesona dengan Ka’bah, titik pusat Masjidil Haram, sehingga tidak mengherankan kalau kegembiraan saya meluap ingin melihat monumen megah ini lagi.

Saya berkonsentrasi untuk memanjatkan doa begitu melihat Ka’bah, karena saya diberitahu bahwa doa pada saat itu selalu dikabulkan. Jadi saya mulai menyusun keinginan saya dalam satu kalimat ketika kami memasuki pintu yang paling dekat dengan Ka’bah. Saya masih berusaha merumuskan do’a saya ketika Ibu menyenggol saya untuk menengok. Ketika saya menjatuhkan pandangan ke Ka’bah, segala pikiran saya langsung terhapus dan saya tidak bisa lagi mengucapkan keinginan saya. Saya merasa sangat bersyukur kepada Allah (swt) yang telah membawa saya ke sana setelah bertahun-tahun hanya dapat mengenangnya.

Kemudian, kami memulai tawaf (berjalan mengelilingi Ka’bah) tujuh kali. Sambil melakukan ini, saya melihat beragam jamaah yang datang dari berbagai belahan dunia ke tempat suci ini. Tidak peduli apa ras, bahasa atau statusnya, kami semua sama seperti keadaan sebenarnya di mata Allah. Sungguh pemandangan yang indah!

Bukit-bukit Safa dan Marwa juga memiliki tempat khusus di hati saya. Ketika saya masih kecil, sebagian dari bukit itu terbuka untuk umum. Saya biasa memanjat ke puncak dengan anak-anak lain untuk istirahat sebentar dan menyesap air zamzam, mata air alami yang mengalir di antara kedua gunung tersebut. Seperti banyak hal lainnya, hal ini juga telah diubah untuk mengakomodasi meningkatnya jumlah peziarah.

Di bulan Ramadhan, hampir mustahil untuk mendapat tempat di dalam Masjidil Haram kecuali kita tinggal di sana hampir sepanjang hari. Pergi ke sana untuk shalat seperti berjalan melalui lautan manusia. Seperti kami, orang-orang itu mencari tempat di jalan-jalan di luar masjid untuk berbuka puasa dan shalat.

Meski perjalanan ini sangat ramai, saya tidak pernah begitu menikmati Ramadhan seperti kali ini. Menjauhkan diri dari dunia dan mendedikasikan diri untuk beribadah, paling baik dilakukan di dua kota suci ini. Semangat memberi, kekuatan doa dan mengalami keajaiban terkabulnya keinginan-keinginan sederhana kita selama berada di sana hanya dapat dirasakan langsung di tempat-tempat tersebut.

Saya mendoakan agar kita semua mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Mekah dan Madinah setidaknya sekali dalam hidup kita. Entah Anda pergi di bulan Ramadhan atau tidak, Anda akan merasakan kedamaian dari dalam dan saya percaya doa Anda di sana pasti akan dijawab. Semoga Allah memberikan kita semua kesempatan ini segera.

Leave a Reply
<Modest Style