Modest Style

Pertama Kalinya, Film Arab Saudi Berlaga di Oscar

,

RIYADH, 15 September 2013 (AFP) –  Tahun depan, untuk pertama kalinya negara Arab Saudi yang melarang keberadaan bioskop akan bersaing meraih piala Oscar lewat film feminis Wadjda arahan sutradara Haifaa al-Mansour. Demikian diumumkan seorang pejabat negara Saudi, Minggu (15/9).

Film ini menceritakan perjalanan seorang gadis muda untuk memiliki sepeda di kerajaan Muslim yang amat sangat konservatif itu, di mana banyak hak perempuan telah dirampas, salah satunya adalah mengemudikan kendaraan.

Wadjda akan mewakili Arab Saudi di Oscar, bersaing untuk kategori film berbahasa asing terbaik, untuk yang pertama kalinya bagi kerajaan ini,’ ujar Sultan al-Bazie, Ketua Masyarakat Budaya dan Seni Arab Saudi, kepada AFP.

Keputusan untuk mengikutsertakan Wadjda dalam ajang penghargaan film bergengsi tersebut diambil menyusul ‘sukses yang telah diraih film dan sutradaranya di sejumlah festival film internasional,’ katanya.

Disutradarai oleh sutradara perempuan pertama Arab Saudi dan sepenuhnya dikerjakan di negara Teluk itu, film ini telah memenangi penghargaan film feature Arab terbaik di Festival Film Dubai tahun lalu, serta meraih penghargaan pada Festival Film Cannes, Maret lalu.

Produksi Wadjda didukung Razol Film dari Jerman serta sejumlah perusahaan Arab, termasuk Rotana Studio yang masih memiliki pertalian dengan anggota keluarga kerajaan.

Tetapi, film yang pertama kali dirilis di Perancis ini hanya akan diputar di Arab Saudi dalam bentuk DVD atau film TV.

Mansour sempat mengungkapkan dirinya terpaksa menyutradarai film pertamanya itu dari dalam mobil van dengan bantuan walkie-talkie di beberapa wilayah paling konservatif. Di sana, publik tidak boleh melihatnya bersama dengan kru dan para pemeran laki-laki.

Di area-area tertentu, teriakan para penduduk lokal akan sepenuhnya menghambat jalannya proses pengambilan gambar.

Kaum perempuan di Arab Saudi dilarang bepergian keluar negeri atau terlihat tanpa wali di wilayah publik yang boleh dimasuki laki-laki dan perempuan.

Kerajaan ini menjadi satu-satunya negara yang melarang perempuan mengemudikan mobil. Di antara batasan lainnya adalah keharusan bagi mereka untuk menutupi tubuh dari kepala hingga kaki di depan publik.

April lalu, media-media lokal melaporkan bahwa otoritas keagamaan setempat telah mengizinkan perempuan Arab untuk mengendarai sepeda asalkan didampingi seorang wali atau kerabat laki-laki mereka.

Mereka pun diwajibkan mengenakan jubah hitam tradisional panjang yang disebut abaya.

Leave a Reply
<Modest Style