Modest Style

Atlet angkat beban Muslimah peroleh hak bertanding dalam hijab

,

Angkat beban tidak membuat gentar Kulsoom Abdullah, yang telah membantu membukakan pintu bagi wanita Muslim di arena angkat beban internasional. Oleh Lina Lewis.

WP-GS-lifting-sm

Semuanya berawal kurang dari 10 tahun yang lalu. Satu hal yang diinginkan Kulsoom Abdullah hanyalah meningkatkan kekuatan fisiknya.

Jadi ia mulai berlatih taekwondo sambil mengejar gelar PhD dalam bidang jaringan komputer di Georgia Tech, Atlanta. Dengan menggunakan panduan di sebuah situs, Kulsoom berlatih keras di gymnasium kampus. Ia bekerja keras hingga mendapatkan sabuk hitam dalam seni beladiri Korea tersebut.

Tidak lama sebelum kelulusan, warga Amerika keturunan Pakistan ini menemukan angkat besi. Kulsoom tidak tahu bahwa olahraga tersebut, yang kini menjadi kecintaannya, akan membawanya meraih pencapaian besar di dunia olahraga dunia.

Kulsoom memutuskan untuk memulai misi pribadi meyakinkan IWF bahwa busana santun tidak akan mengganggu penilaian juri

Perjalanannya dimulai di CrossFit Atlanta, di mana ia mempelajari olahraga Olympic Lifts and Crossfit dari para atlet angkat beban profesional. “Saya merasa seperti kecanduan, baik secara fisik maupun psikologis,” ujar wanita berusia 36 tahun itu dalam wawancara dengan Aquila Style.

Begitu cintanya ia dengan olahraga angkat beban hingga mengikuti sesi tambahan di luar program Crossfit. Tak lama sang pelatih meyakinkannya untuk mengikuti kompetisi angkat beban setempat. Ia bertanding untuk pertama kalinya pada Maret 2010.

Kulsoom jadi ketagihan bertanding. Pada bulan Oktober tahun yang sama, ia telah mengangkat cukup banyak beban untuk ikut serta dalam seleksi menuju tingkat nasional. Namun American Open Weightlifting Championships, yang akan diadakan pada bulan November, mengikuti peraturan internasional yang tidak mengizinkan peserta menutup anggota tubuhnya. Agar juri dapat memutuskan sah tidaknya sebuah angkat beban, mereka harus memastikan bahwa siku dan lutut para atlet “terkunci”.

Hal ini menandai kali pertama Kulsoom tersingkir dari pertandingan karena kewajibannya sebagi seorang Muslimah. Ia telah mengenakan hijab sejak usia 14 tahun.

Busana konvensional atlet angkat beban adalah baju pas badan yang memperlihatkan lengan, lutut, dan tulang kering. Untuk memenuhi ajaran Islam, Kulsoom biasanya berlatih mengenakan busana olahraga longgar yang menutupi lengan dan tungkai. Saat mendaftar ke Turnamen Angkat Beban Internasional, yang akan diadakan pada bulan Juli 2011, ia juga menemui rintangan yang sama.

Saat itulah Kulsoom memutuskan untuk memulai misi pribadi meyakinkan Federasi Angkat Beban Internasional (IWF) bahwa ada pilihan berbusana yang tetap memenuhi persyaratan kesantunan Islam yang tidak akan mengganggu penilaian juri. Presentasi setebal 43 halaman yang ia buat menekankan bahwa busana santun, yang termasuk unitard penuh, tidak akan membatasi kemampuan bertanding penggunanya (hijab harus selalu diizinkan).

Pada bulan Juni 2011, Kongres IWF mengadakan rapat di Penang, Malaysia. Termasuk dalam agenda rapat tersebut adalah masalah busana angkat beban yang sah. Akhir, laporan Kulsoom terbukti meyakinkan. Badan pengatur olahraga tersebut setuju untuk merevisi peraturannya – ia telah memenangkan kasusnya.

Di dalam sebuah pernyataan, IWF mengumumkan:

Perubahan peraturan [mengizinkan] para atlet untuk mengenakan unitard penuh di balik kostum angkat beban yang diwajibkan. “Unitard” memungkinkan petugas teknis menilai secara efektif bagian tubuh yang penting dalam pelaksanaan beban yang benar.

Kemenangannya bermakna bahwa ia kini dapat bertanding di US National Weightlifting Tournament di Iowa, yang akan diadakan dua pekan kemudian. Di blognya ia menceritakan pengalaman melaksanakan tugas yang bertumpuk, seperti membuat jadwal berlatih, menyiapkan busana bertanding, melakukan persiapan perjalanan, merencanakan pola makan, dan berbincang dengan para wartawan yang ingin wewawancarainya mengenai perubahan aturan IWF.

Di dalam situasi yang sulit pada saat menjalani kompetisi nasionalnya yang pertama, ia meraih juara kelima dari enam peserta dalam kategori beratnya, sekaligus membuat catatan sejarah bertanding dalam balutan kostum angkat bebannya yang baru saja disahkan dan membuka jalan bagi wanita Muslim lain dalam bidang olahraga ini.

Kurang dari dua bulan kemudian, Kulsoom tiba di Washington, DC untuk acara yang sama sekali berbeda. Ia diundang oleh Departemen Dalam Negeri AS untuk berbicara dalam acara menyambut Idul Fitri. Acara sore itu diadakan oleh Sekretaris Negara Hillary Clinton untuk memberi pengharaan pada kontribusi Muslim Amerika dalam kompetisi atletik.

Dalam pidatonya, Kulsoom menyebut pencapaiannya dalam bidang pendidikan dan olahraga sebagai “perjalanan yang menantang yang biasanya tidak diharapkan dari orang sepertinya.” Ia berbagi nasihat yang telah membantunya melalui perjuangannya:

Saya ingin Anda memahami kekuatan manusia untuk membawa perubahan. Percayalah pada diri Anda sendiri – kekuataan individual Anda. Tujuan apapun membutuhkan kerja keras, namun apapun hasilnya, Anda selalu belajar dari perjalanan tersebut.

Selain meningkatkan kekuatan fisik dan mentalnya, Kulsoom juga menikmati keuntungan berolahraga dalam kegiatan sehari-harinya. Ia dapat dengan mudah mengangkat dan membawa semua belanjaannya ke mobil, sehingga tidak usah kerepotan mendorong dan mengembalikan troli. Dan saat ia buru-buru harus mengejar penerbangan, berlari dengan membawa koper adalah urusan sepele.

[Not a valid template]

Rasa lapar dan haus saat Ramadhan tidak menghentikannya berlatih enam hari sepekan, bahkan dalam cuasa musim panas di Atlanta. Bahkan ia berlatih lebih keras tahun ini, dengan harapan untuk mewakili Pakistan di Olimpiade London. Sayangnya, atlet wanita Pakistan tidak mendapat izin IWF.

Namun Kulsoom tidak membiarkan kekecewaan ini menghancurkan semangat juangnya. Kini, ia menikmati hari-hari terakhir bulan Ramadhan, sambil berkumpul dengan anggota komunitas Muslim di Atlanta untuk beribadah, berbuka, dan kegiatan lainnya.

“Masyarakat di sini cukup beragam, jadinya sangat menarik,” ujarnya. “Saya jadi bisa bertemu umat Muslim dari negara dan kelompok etnis lain.” Kulsoom akan merayakan Ied dengan keluarganya di rumah. Kebanyakan keluarga besarnya berada di Pakistan.

Sebagaimana yang telah ia tunjukkan pada dunia, wanita Muslim bukanlah masyarakat kelas dua. Wanita juga tidak lemah.

Dan dengan masalah busana yang kini terselesaikan, tidak ada yang dapat menghentikan Muslimah mana pun untuk terlibat secara kompetitif dalam olahraga yang didominasi oleh kaum pria.

“Jangan biarkan omongan orang lain menghentikan Anda, baik dalam hal angkat beban maupun yang lainnya,” tegas Kulsoom. “Anda tidak akan pernah merasa bahagia bila terus-menerus membatasi diri Anda berdasarkan apa yang orang lain anggap baik. Kejarlah mimpi Anda.”

Cari tahu lebih banyak tentang Kulsoom dan perjalanannya dari situsnya, Lifting Covered. Hingga tanggal 8 September, Anda dapat menyumbang untuk penggalangan dananya untuk menyediakan pendidikan bagi korban kekerasan dalam rumah tangga dan seksual di LaunchGood

Artikel ini pertama kali terbit dengan judul “Mengangkat beban dari bawah kerudung” di majalah Aquila Style edisi Ied Agustus 2012, yang dapat Anda baca secara lengkap dengan gratis di Apple Newsstand iPad atau iPhone Anda, atau Google Play tablet Android Anda.

Leave a Reply
<Modest Style