Modest Style

Mencari identitas mode pribadi

,

Dalam perjalanan mengarungi budaya satu ke budaya lainnya, Theresa Corbin mencoba menemukan identitasnya sebagai mualaf Amerika.

Kesantunan memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang. Makna yang berbeda bagi budaya satu dan lainnya, bagi pria dan wanita, bagi agama satu dan lainnya, dan bahkan dari orang satu dan lainnya. Meski masyarakat memberitahu kita semua apa-apa yang layak dan yang tidak, wanita secara khusus mendapat tekanan untuk mematuhinya.

Adanya pemahaman yang berbeda akan kesantunan sangat jelas terlihat pada masyarakat Muslim di seluruh dunia. Saya merasakan sendiri hal ini saat memasuki agama Islam dan hidup berpindah-pindah dari berbagai komunitas berbeda – setiap komunitas memiliki seperangkat aturan tersendiri perihal kesantunan.

Seiring perpindahan saya ke dalam berbagai komunitas ini, saya menyadari bahwa kesantunan merupakan hal yang abstrak dan setiap kebudayaan menganggap busana yang umum mereka kenakan sebagai kesantunan yang benar. Dalam perjalanan saya dari satu komunitas ke komunitas lainnya, seraya berusaha membangun identitas sebagai seorang mualaf Amerika dalam sebuah ruang budaya, saya merasa seperti Goldilocks di dalam rumah Keluarga Beruang.

Dari pengalaman ini, saya mempelajari bahwa pada akhirnya, setiap wanita harus merasa nyaman dengan cara berpakaiannya.

Terlalu ketat

Islamofobia sedang parah-parahnya saat saya menjadi mualaf pada November 2001. Saya takut dijadikan sasaran kebencian jika mengenakan hijab, yang merupakan pernyataan terbuka atas keyakinan saya.

Selain ketakutan akan reaksi yang tidak diinginkan, hijab juga menjadi tantangan besar bagi keimanan saya karena mode merupakan bagian besar hidup saya. Saya pun terombang-ambing antara keyakinan dan penampilan. Citra wanita yang berbusana serba hitam yang membosankan sama sekali tidak menarik. Saya senang mengenakan warna dan mengikuti tren – termasuk jins dan atasan ketat.

Setelah menyampaikan kekhawatiran saya akan hijab pada seorang Amerika yang menjadi mualaf jauh sebelum saya, saya mulai memahami bahwa bagian terpenting dalam menjadi seorang Muslim bukanlah apa yang Anda kenakan, namun apa yang Anda yakini. Dengan pemahaman baru ini, saya mampu berkembang dalam keyakinan saya.

Seiring tumbuhnya keimanan, saya mulai merasa semakin tidak nyaman dalam balutan jins dan kemeja ketat. Jika Goldilocks berada dalam posisi ini, ia pasti akan berkata: “Pakaian ini terlalu sempit!”

Saya merasakan kecenderungan ke arah kesantunan dan mulai mengenakan celana yang lebih longgar dan kemeja lengan panjang – namun tanpa hijab – dalam keseharian saya.

Langkah awal saya dalam kesantunan dengan shalwar kameez
Langkah awal saya dalam kesantunan dengan mengenakan shalwar kameez

Terlalu berbeda

Bersamaan dengan perkenalan saya dengan komunitas Muslim pertama dan praktek keagamaan, saya juga berkenalan dengan berbagai kebudayaan Asia Selatan. Makan dengan tangan kanan dan sajian Pakistan serta India juga diperkenalkan sebagai hal yang Islami.

Begitu pula dengan shalwar kameez yang diperkenalkan sebagai bentuk kesantunan. Saya jatuh hati dengan keragaman gaya gaun yang dikenakan para wanita ini; kemeriahan warna dan tekstur yang diperlihatkan dalam busana menarik minat saya. Belum lagi kenyamanan yang ditawarkan!

Saya mulai merasa lebih aman di dalam komunitas Musim dan lebih berkembang dalam hal keimanan dengan mempelajari cara shalat dan mulai berpuasa. Berbagai pengalaman ini memotivasi saya untuk mencari tahu lebih banyak tentang kesantunan.

Saya mulai mengenakan busana yang dianggap santun oleh budaya yang berlaku di komunitas ini: shalwar khameez dan hijab. Namun jika Goldilocks berada dalam balutan jutti Punjab, ia pasti akan berkata: “Setelan ini bukan gaya kamu banget!”

Dalam balutan abaya dan niqab, saya rindu tersenyum pada orang lain
Dalam balutan abaya dan niqab, saya rindu tersenyum pada orang lain

Terlalu kaku

Kemudian saya pindah ke tempat yang berjarak beberapa jam dengan mengemudi dan berkenalan dengan komunitas yang didominasi oleh orang Arab. Dalam komunitas ini, saya bekerja di sebuah perpustakaan Islam dan terus-menerus dikelilingi oleh kebudayaan dan pemikiran Arab.

Dengan banyaknya tulisan tentang Islam yang saya baca, tingkat keimanan saya melonjak. Di saat yang sama, saya diperkenalkan pada daun anggur berisi yang dianggap sebagai makanan berbuka puasa “yang benar” dan gaya berbusana santun khas Arab. Abaya yang menutupi seluruh tubuh merupakan simbol kebenaran. Dan meski tidak melihat banyak perbedaan antara shalwar khameez dan abaya, saya mulai menyukai kenyamanan dan keanggunan yang ditawarkan oleh abaya.

Dan karena meningkatnya tekanan untuk berbusana dengan semakin santun – dalam tradisi Arab Saudi, warna dianggap tidak pantas dan memperlihatkan tangan, kaki, dan wajah dianggap mendekati batas cabul – saya pun mulai mengenakan niqab. Saya merasa niqab memerdekakan. Saya tidak lagi perlu mengkhawatirkan napas bau maupun jerawat membandel, semuanya sudah tertutup.

Meski begitu, saya merindukan rasanya tersenyum pada orang lain dan makan di tempat-tempat umum. Goldilocks di dalam diri saya berbisik (dengan napas bau dan hal lain yang ditutupi): “Adat ini terlalu kaku untukmu!”

Merasa paling pas dengan rok buatan sendiri dan atasan denim
Merasa paling pas dengan rok buatan sendiri dan atasan denim

Pas

Saya kemudian menyadari bahwa identitas kebudayaan dan keagamaan saya tidak perlu dipisahkan. Saya tidak perlu mengikuti budaya lain untuk menjadi Muslim yang baik. Jika orang-orang Asia Selatan dan Arab dipersilakan merayakan kebudayaan mereka dalam batasan nilai Islam, masuk akal tentunya jika saya, seorang Amerika, mendapat kebebasan untuk melakukan hal yang sama.

Akhirnya, saya merengkuh identitas saya sebagai seorang Muslim berkebangsaan Amerika dan mulai membangun gaya saya sendiri. Saya mulai mengenakan gaun-gaun maxi dan jaket jins dengan hijab senada. Saya terus mencari (hingga kini) rok atau tunik maxi sempurna yang tidak terlalu melekat di tubuh, pendek, maupun ketat. Namun setelah mengalami banyak kekecewaan dengan ketatnya desain pakaian Amerika, akhirnya saya menggali keahlian menjahit saya semasa kecil dan mulai menjahit sendiri busana yang cocok dengan kesantunan dan gaya pribadi saya.

Kesantunan merupakan hal yang abstrak dan setiap kebudayaan menganggap busana yang umum mereka kenakan sebagai kesantunan yang benar.

Kini saya memadukan warna, pola, ukuran, kenyamanan, dan keanggunan ke dalam setiap pakaian yang saya jahit atau beli. Saya suka menggambar dengan inspirasi dari Islam, budaya saya sendiri, gaya saya, dan semua kebudayaan yang diperkenalkan oleh berbagai komunitas Muslim yang pernah saya tinggali dalam membentuk kepribadian saya. Goldilocks di dalam diri saya merasa gaya dan kesantunan saya sudah pas!

Dari pengalaman ini, saya mempelajari bahwa pada akhirnya, setiap wanita harus merasa nyaman dengan cara berpakaiannya. Saya mempelajari bahwa kesantunan muncul dalam berbagai bentuk, dan nilai kesantunan seseorang tidak boleh dipaksakan pada orang lain.

Leave a Reply
<Modest Style