Modest Style

Menjelajahi Tokyo di Musim Gugur (Bagian 3)

,

Di akhir perjalanannya, Ashfi Qamara mengenang hal-hal indah dan menyenangkan dari ibu kota Jepang.

WP Menjelajahi Tokyo di Musim Gugur (Bagian 3)

Matahari menatap dengan anggun dan cerah sehari setelah badai topan melanda Jepang pada tanggal 16 Oktober 2013, sehingga kami memutuskan untuk mengunjungi kuil Senso-ji di Asakusa, Sumida-ku, Tokyo.

Salah satu bangunan bersejarah dan tertua di Tokyo ini merupakan situs keramat bagi pemeluk agama Buddha dan merupakan salah satu daya tarik wisata bagi turis lokal maupun internasional.

Warga Jepang terkenal dengan kebiasaan mereka mengunjungi tempat-tempat sakral di seluruhdunia, sehingga tempat-tempat sakral di Tokyo pun terlihat amat terawat. Terasa di sepanjang jalan dari stasiun menuju lokasi kuil, suasana Asakusa yang berbeda dari area Tokyo lainnya, seakan kami mengunjungi bagian waktu yang lain dari Tokyo. Toko-toko di pinggir jalan Asakusa masih terjaga kesan tradisionalnya. Di area kuil Senso-ji sendiri, masih banyak toko-toko yang pemiliknya tidak berganti dari generasi ke generasi, sehingga tampilannya masih sangat otentik.

Salah satu hal menarik yang saya temui adalah setiap kali kami masuk ke dalam bangunan di lingkungan ini, disediakan sumur untuk mencuci muka, tangan dan kaki. Konsepnya mirip berwudu dalam Islam. Ternyata, konsep menyucikan diri sebelum berdoa juga dipraktekkan di situs ini.

[Not a valid template]

Dengan berakhirnya perjalanan saya, berarti total wilayah istimewa Tokyo yang berhasil saya kunjungi adalah sekitar 4 wilayah yaitu Chiyoda-ku, Shibuya-ku, Taito-ku dan Sumida-ku. Masing-masing wilayah memiliki karakter yang unik, sehingga rasanya tak cukup waktu seminggu untuk menjelajahi kota Tokyo.

Selain tempat-tempat yang saya kunjungi tersebut ada beberapa hal yang membuat saya merindukan Tokyo, antara lain:

1.     Akses kendaraan umum yang mudah, cepat dan bersih. Hampir setiap hari kami berjalan kaki dan menggunakan kereta bawah tanah. Tidak heran tubuh penduduk Tokyo umumnya langsing dan para wanita hamil di sini dapat melahirkan normal tanpa komplikasi, cukup ditangani oleh bidan.

2.     Orang tua, penderita cacat dan wanita hamil mendapat perlakuan istimewa di dalam kendaraan umum. Karena saya sedang hamil 5 bulan namun perut saya tidak begitu besar, saya mendapat sebuah lencana khusus wanita hamil dari pusat informasi di stasiun untuk digantungkan pada tas, sehingga bila kereta penuh ada seseorang yang harus merelakan kursinya untuk tempat saya duduk.

3.     Penggunaan eskalator yang teratur. Di manapun saya menemukan eskalator, semua penggunanya mengambil sisi kiri bila sedang tidak terburu-buru sedangkan sisi kanan dikhususkan untuk yang sedang terburu-buru.

4.     Deretan makanan di toko cepat saji (convenience store) yang menggiurkan. Namun sayangnya, tidak semua makanan tersebut bisa dimakan karena kehalalannya meragukan. Meskipun begitu, masih banyak makanan halal lainnya seperti  produk-produk roti dan susu. Saya termasuk pecinta makanan olahan susu, terutama makanan olahan susu dari Jepang.

Masih banyak hal lain yang saya rindukan dari kota ini yang tidak bisa sebutkan satu persatu. Meskipun masih ada beberapa tempat yang belum sempat saya kunjungi, saya cukup puas dan sangat mensyukuri perjalanan ini. Semoga artikel perjalanan singkat saya ini bermanfaat bagi Anda yang berniat mengunjungi Jepang. Enjoy Tokyo!

Baca bagian sebelumnya dari perjalanan Ashfi

Leave a Reply
<Modest Style