Modest Style

Menghabiskan Hari di Mali

,

Saat berada di Afrika Barat lupakan soal jadwal yang ketat dan perkiraan waktu. Musa Chowdhury mengawal kita memasuki dataran luas serta sejarah panjang negara Mali.

[Not a valid template]

Tiba di Bamako

Dengan tripod setia melilit di tas punggung, saya pun menuju Bamako, ibu kota Mali, siap menguji keterampilan berbahasa isyarat dan negosiasi. Tugas pertama: menemukan pilihan transportasi ke pedalaman desa dan dusun yang letaknya lebih di pelosok. Pagi ini saya berharap dapat mulai mengambil foto sebelum matahari bersinar terlalu terik. Tiba di stasiun bus, tanpa kemampuan bicara bahasa Perancis atau Bambara sepatah pun, saya mendekati jendela loket untuk menanyakan jadwal ke Segou. Mendapatkan informasi berbeda-beda dari berbagai orang di balik jendela loket, saya pun memutuskan untuk berkeliaran saja serta mengikuti petunjuk penduduk setempat.

Dengan kamera yang sangat mencolok tergantung di leher, saya tidak bisa membeli sebungkus pun air mineral (Di sana air mineral dikemas dalam sachet plastik)  tanpa menarik perhatian anak-anak yang jahil dan penuh rasa ingin tahu. Seorang anak perempuan menatap saya dengan matanya yang besar, berbisik dalam bahasa Bambara, ‘enichi’. Pada saat itu, saya tahu wajahnya akan meninggalkan kesan mendalam di benak saya. Saya tidak ingin menakutinya dengan menarik keluar kamera dengan lensanya yang buruk rupa, tapi reaksinya yang tenang terbilang mengejutkan untuk seorang gadis cilik.

Segou

Sesampainya di kota Segou, sekitar 230 km dari Bamako, saya sudah gelisah, lebih tepatnya putus asa, untuk turun dari bus yang panas menyengat. Di dalam  tidak ada sepoi angin, tidak ada jendela yang terbuka; Bus bagaikan sepetak kotak panas yang penuh sesak. Penduduk setempat naik ke dalam bus dengan tampang pasrah, siap menghadapi segala ketidaknyamanan. Saya hampir tidak bisa mengabadikan kesempatan yang terbuka lebar untuk mengambil foto di dalam bus lantaran badan saya basah kuyup. Alih-alih, saya mencoba menghibur diri dengan memandang keluar jendela – itulah pengalaman singkat pertama saya dengan brousse (semak) Afrika yang terkenal itu. Warna-warna alam mulai berubah dari cokelat yang menjemukan menjadi nuansa kekuningan dan terakota.

Tak sabar untuk meluruskan kaki serta memulihkan diri dari pengalaman naik bus yang menyiksa, saya bertolak ke sungai Bani, salah satu dari dua urat nadi kehidupan di kota itu. Matahari yang mulai terbenam membawa getaran yang menenangkan pada kesibukan industri perikanan di sana. Cahaya pun meremang saat saya menyusuri jalanan yang berliku. Tidak terdengar bunyi klakson, dan riuh kerik jangkrik mengisi lagu tema malam itu. Saya terpesona oleh warna, tekstur serta gaya hunian di sana. Tempat-tempat tinggal berwarna karat, retak-retak, dan kering sangat kontras dengan sosok sungai Bani sang pemberi kehidupan. Warna merah rumah-rumah, jalan dan ladang semakin memukau ditimpa cahaya matahari terbenam.

Perempuan Fulani

Para perempuan Fulani merupakan permata suku Segou dalam hal kekuatan, warna dan semangat. Mulai dari rambut mereka yang berhias manik-manik warna-warni sampai ke hidung yang bertindik, kebanggaan mereka terletak pada ketaatan yang kuat terhadap Islam, gelang emas dan batu ambar berornamen, serta kontribusi yang tak ternilai kepada keluarga dan desa. Sebagai tulang punggung masyarakat, perempuan-perempuan Fulani bekerja tak kenal lelah di rumah, mengasuh anak, mencuci dan memasak. Banyak dari mereka harus mencari nafkah demi membantu perekonomian keluarga dan tidak bisa sepenuhnya bergantung kepada suami. Kadija Yanoga, seorang perempuan Fulani muda, memukau saya dengan auranya yang tulus dan murni. Di matanya yang bertindik, saya melihat kekuatan yang kekal dan tenang. Tangannya, bernoda akibat kerja keras bertahun-tahun mencelup baju-baju jumputan, serta punggungnya, menggendong bayi laki-lakinya yang tertidur, merupakan  sebuah ikrar untuk kehidupan yang berat dan sederhana.

Bergegas dan Menunggu

Salah satu tujuan utama perjalanan saya ini adalah untuk mendokumentasikan bangunan lumpur terbesar di dunia: Masjid Agung Djenné. Arsitektur Sudan dan auranya terlarangnya itulah yang memaksa saya untuk mencapai kota Djenné.

Di bawah guyuran hujan, dengan hati-hati saya menghindari genangan lumpur untuk sampai di halte bus. Tidak ada bus yang menuju Djenné kecuali pada hari digelarnya pasar di sana, jadi saya harus naik bus dengan tujuan kota Mopti yang lebih besar, turun di pertengahan jalan di Carrefour Djenné, lantas menumpang kendaraan yang lewat. Khawatir salah jalan, setiap bus berhenti saya selalu bertanya, “Apakah ini Carrefour Djenné?” Kelakuan saya segera menjadi bahan gurauan di dalam bus. Tiap kali bus akan berhenti, orang-orang itu sudah mendahului bilang, belum sampai.

Setiap saya bertanya seberapa jauh lagi jaraknya, tidak peduli kami ada di mana, respons yang saya dapat selalu, “Tidak jauh lagi.”

Di bawah terik matahari siang, dengan suara mesin yang memekakkan telinga, bus berhenti dan menurunkan saya

di perempatan jalan utama dan percabangan Djenné.  Saat melihat-lihat sekeliling, saya menjumpai deretan warung-warung makan kecil di pinggir jalan,  menanti pembeli yang melintas. Persimpangan ini jelas bukan jalur utama. Setelah sekitar beberapa jam tidak menemukan satu pun kendaraan lewat, sebuah mobil sedan rongsok akhirnya menepi di persimpangan, sopirnya keluar dan dengan bersemangat menawari saya tumpangan. Sama bersemangatnya, saya mendekati laki-laki tua itu dan menanyakan ongkos ke Djenné. Kami pun menyepakati harga, tapi setelah menaruh tas punggung dan masuk ke mobil, saya mencium ada yang tidak beres. Saya segera menyadari kami belum akan ke mana-mana. Kami harus menunggu sampai ada cukup banyak penumpang untuk membuat jarak 30 km ke Djenné layak untuk ditempuh sang sopir. Pria tua itu menyeringai ke arah saya seraya berkata, “Sekarang kita tinggal menunggu tujuh orang lagi.” Selama penantian tersebut, tak seorang pun naik untuk pergi ke Djenné. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengisi mobil dengan tujuh orang? Mencapai Djenné kini mulai tampak seperti mimpi yang mustahil untuk terwujud.

Selama berada di Mali, para pelancong lain kerap mengingatkan saya akan mantra sakti ‘bergegas dan menunggu’. Akan tetapi, kegiatan menunggu transportasi memberikan kesempatan terbaik untuk bertemu warga setempat. Berjam-jam waktu yang dihabiskan di persimpangan Carrefour Djenné yang sepi itu memungkinkan saya untuk membangun hubungan yang akrab dengan anak-anak serta orangtua mereka. Saya mendekati mereka dengan menggunakan kamera –  mengambil foto anak-anak dan menunjukkan hasilnya kepada orangtua mereka adalah cara kami berkomunikasi dan menjalin keakraban. Wajah para orangtua itu bersinar dengan seringai lebar saat menyaksikan putra-putri mereka bermain-main dengan liar demi diabadikan kamera.

Anak-anak itu sangat tangkas. Para bocah yang baru belajar berjalan mengejutkan saya dengan kelincahan dan inisiatif mereka. Setelah menurunkan diri dari sebuah bangku di depan warung teh orangtuanya, seorang anak laki-laki yang usianya tidak lebih dari dua tahun berjalan tertatih-tatih menuju cerek berisi air teh panas, mengambilnya dan membawanya ke nampan berisi gelas-gelas kecil. Sesudah berhasil memilih gelas yang bersih, ia menuangkan teh ke dalamnya. Dikembalikannya cerek teh itu ke tempatnya untuk kemudian berjalan ke arah saya sambil membawa gelas. Saya memikirkan banyak orangtua di negara saya yang akan menjerit karena takut tangan si anak terbakar. Di sini anak-anak bermain dan belajar meniru orangtua mereka tanpa banyak khawatir. Ibunya yang kelihatan bangga mengangkat anak laki-laki itu ke dalam pelukannya serta membungkusnya dengan sehelai selendang biru.

Tanpa memberi alasan apa pun, sang sopir tiba-tiba menghidupkan mesin dan memanggil saya untuk naik ke dalam mobil. Setelah menanti lebih dari lima jam dan berpikir saya akan bermalam di pinggir jalanan berdebu itu, saya merasa lega dan hampir tak percaya. Teman baru saya, gadis kecil 10 tahun, bersandar ke mobil untuk mengucapkan selamat tinggal.

Keajaiban DuniaMasjid Djenné

Saya sampai di Djenné larut malam. Jam alarm saya setel ke pukul 4.30 pagi berikutnya. Misi utama dari perjalanan sudah tinggal selangkah lagi –mengambil foto-foto Masjid Djenné, baik bagian dalam maupun luarnya. Sejak tahun 1996, onmuslim dan orang-orang asing dilarang untuk memasuki situs yang menjadi UNESCO World Heritage ini. Penyebabnya, seorang fotografer Perancis pernah memotret para model yang berpose ‘tidah pantas’ di sana untuk halaman fashion Vogue, serta memicu kemarahan warga setempat. Saya putuskan, satu-satunya cara terbaik untuk memasuki masjid itu adalah dini hari, tepat sebelum waktu solat Subuh. Dengan tripod di tangan dan kamera yang tergantung di leher, saya pun keluar dari tenda di tengah kegelapan yang pekat untuk menuju masjid. Di kota ini dan banyak kota lainnya, listrik bukanlah barang umum. Lantaran tidak bisa melihat jejak ban yang dalam di jalanan berlumpur, saya harus menyelamatkan sandal jepit yang terjebak di salah satu ceruknya. Jatung saya berdebar saat memasuki bangunan lumpur yang terlarang itu – saya tidak mau diseret keluar karena dianggap mengganggu atau tidak sopan. Dengan mengandalkan telinga, saya pun mengikuti suara doa yang bergema keluar masjid dan bergaung sampai ke koridor yang sempit. Bagian dalam masjid ternyata sama gelapnya dengan di luar. Suara yang saya dengar hanyalah gumam zikir yang bergema dan sesekali mengalun indah. Bulu kuduk saya pun berdiri.

Lengkungan interior bangunan lumpur besar itu bahkan tampak lebih dramatis saat matahari mulai terbit dan pagi hari mengintip di jendela. Saya kembali ke masjid beberapa kali lagi pada hari itu untuk menyerap pengalaman yang hebat dari maha karya Islam yang bersejarah ini.

Meninggalkan Djenné

Dijejalkan dalam truk reyot berukuran 4×4, seharusnya hanya hitungan menit sampai kami berhasil keluar dari alun-alun kota Djenné. Mengambil tempat di samping jendela, saya berjejal di dalam truk gardan ganda yang sudah reyot untuk perjalanan berikutnya dan merasakan nikmatnya angin yang menerobos masuk. Sejumlah pria yang membawa bungkusan besar dan karung-karung goni berebut ke arah truk. Dua orang pria memanjat samping truk untuk menaruh barangnya di atap, memanfaatkan bingkai jendela sebagai tangga. Satu per satu, karung-karung yang berat itu pun terdorong ke samping truk yang berguncang-guncang. Tepat ketika saya berpikir atap truk tak lagi mampu memuat benda sekecil apa pun, karena muatan di raknya sudah setinggi badan truk itu sendiri, sebuah gerobak yang ditarik keledai mengangkut rangka tempat tidur besar ke sisi truk. Benar-benar truk yang sakti. Rangka tempat tidur? Tak masalah, tumpuk saja di atas muatan lainnya. Oke, sekarang bisakah kita berangkat? Semakin lama truk mengetem, akan semakin banyak pula penumpang naik ke dalam truk sampai bisa saja nanti kami harus saling memangku. Tiba-tiba, pekikan kesengsaraan meluncur dari tiga ekor kambing. Kambing-kambing malang itu diseret oleh tali yang melingkari leher mereka menuju truk. Apa lagi sekarang? Mustahil masih ada tempat di dalam truk untuk kambing! Sudah ada ayam, bayi dan ikan kering di pangkuan kami. Tidak, mereka tidak akan muat di dalam. Ketiga kambing itu pun diangkat ke rak atap di mana mereka akan terpang sinar magangtahari selama enam jam perjalanan menuju Dogon Country.

Dogon CountryKehidupan di Lereng Curam

Dogon Country memukau saya dengan kelebihannya yang menakjubkan. Wilayah ini merupakan rumah bagi sekelompok masyarakat yang menghuni lereng curam Bandiagara di pusat negara Mali. Bertengger di pinggir tebing yang memesona, desa-desa tua suku Tellem tetap utuh. Orang Dogon modern telah meninggalkan desa di tebing yang sulit dicapai ini dan menetap di puncak dataran tinggi, atau dataran luas di bawahnya. Meski demikian, setiap hari mereka tetap melewati tebing curam berbatu itu untuk berdagang di pasar-pasar atau mengurus ladang-ladang milet mereka.

Mendaki Ketinggian 450 meter di atas, saya pun tersandung-sandung sepanjang jalan, berhati-hati menelusuri tebing batu yang berbahaya, lingkungan keras mereka yang bersanding dengan rumah-rumah lumpur Tellem kuno, desa modern Dogon dan dataran luas Mali. Pencahayaan langit sore yang kering dan berdebu menambahkan sentuhan akhir kepada pemandangan yang dramatis ini.

Mendekati lereng yang curam, saya mulai menyadari kegigihan yang sangat mengagumkan dari suku yang menetap di kondisi lingkungan paling sulit ini. Sebagai turis, saya memiliki kemewahan untuk dapat mengobservasi, mempelajari, bertemu dan merasakan. Akan tetapi, selama ini saya tahu di akhir perjalanan panjang ini saya akan pergi. Suku Dogon tidak pergi. Mereka belajar untuk bertahan dan berkembang di tengah lereng keras yang menantang ini.

Tergeletak di atas tikar yang sudah bolong-bolong di atap sebuah rumah lumpur, saya tidur di bawah naungan kelambu usang bertambal sulam yang sobek. Saya tidak peduli. Saya terlalu terpesona pada pemandangan indah langit di malam hari. Cubitlah saya. Apakah saya berada di planetarium yang telah diprogram untuk menampilkan bintang jatuh setiap 15 detik? Apakah saya benar-benar berbaring di bawah bintang, di tengah-tengah desa Dogon pada dataran tinggi lereng curam Bandiagara? Beberapa menit berlalu sebelum ringkik keledai dan gemerisik pohon meyakinkan saya memang di sinilah saya berada. Kepada diri sendiri, saya bertanya-tanya bagaimana caranya tidur dengan perasaan takjub seperti ini.

Pagi berikutnya saya dibangunkan oleh suara ayam berkotek, meski saya heran kapan pula saya jatuh tertidur. Berusaha berhemat air, saya membersihkan diri dengan berbekal air setengah ember, lalu pergi ke dataran tinggi saat matahari mulai tinggi. Sepoi angin sejuk  dan kering menyapa, membuat saya Saya pun tidak sabar lagi untuk melanjutkan pendakian melewati juranberbatu yang berkelok-kelok menuju desa-desa suku Dogon.

Saya membutuhkan pemandu lokal, untungnya saya didampingi oleh yang terbaik – Hassimi Minta, pemandu bertubuh besar tapi lembut dan ramah, yang berusaha semaksimal mungkin untuk menjelaskan seluk-beluk upacara keagamaan; sejarah suku Tellem dan Dogon; hubungan antara penganut agama Islam, Kristen dan animinisme; arsitektur desa; serta kehidupan ekonomi, politik dan sosial sehari-hari.

Hidup damai berdampingan, terdapat tiga komunitas berbeda yang menghuni puncak paling rendah dataran tinggi Bandiagara di desa Begnimato. Mereka adalah muslim, umat Kristen dan penganut paham Animisme. Setiap komunitas memiliki kepala desa masing-masing yang bertugas menyelesaikan berbagai masalah serta membantu warga desa untuk semaksimal mungkin bersikap saling peduli. Setiap keluarga mempunyai anggota yang cukup banyak, dan jumlah anak-anak yang bermain dan bekerja sangatlah mencolok. Mengetahui angka kematian bayi yang tinggi serta anak-anak yang disamakan dengan kekayaan, seharusnya saya tidak usah kaget lagi akan besarnya jumlah anak yang dimiliki setiap keluarga.

Timbuktu yang Misterius

Timbuktu, kota misterius nan memikat di tepi Gurun Sahara, adalah tujuan saya yang berikutnya. Mencapainya sama menantangnya dengan berada di sana, membuat perjalanan 24 jam menuju kota yang ternyata kecil itu menjadi menarik dan tak terduga. Perjalanan naik mobil yang lama,gerah dan penuh sesak itu, diselingi oleh entah berapa kali kami berhenti lantaran pecah ban, terperosok ke parit, menjemput penumpang dan waktu solat. Babak terakhir perjalanan ini melibatkan kegiatan menunggu kapten kapal di tengah malam untuk bangun dan membawa kami ke seberang Sungai Niger. Berhubung tenggorokan dan hidung saya mulai terasa sakit, sadarlah saya udara telah dipenuhi oleh pasir gurun. Saya pun menutupi muka dengan meniru cara yang dilakukan orang Tuareg demi melindungi diri dari sengatan pasir. Pada hari itu, jalanan kota yang menjadi rumah bagi 50.000 orang itu kosong karena suhunya yang mencapai 44 derajat.

Saya mengelilingi kota bersejarah yang pada abad ke-18 menjadi incaran para penjelajah Eropa yang bertahun-tahun berusaha mencari lokasinya, usaha yang telah menewaskan banyak orang. Pencarian mereka disebabkan oleh jalanan kota yang konon terkenal beraspal emas. Dengan salah satu dari universitas-universitas tertua di dunia serta tiga mesjid yang terkemuka, Timbuktu menawarkan banyak hal. Jalanannya, yang ternyata tidak beraspal emas melainkan gundukan pasir panas, membawa saya melewati labirin tenda-tenda kasta Bella, madrasah tersembunyi serta pasar-pasar orang Tuareg.

Sempat dikunjungi oleh Ibnu Batutah, petualang abad pertengahan yang terkenal, dulunya Timbuktu merupakan pusat ajaran Islam. Para murid datang dari jauh untuk mempelajari hukum, sastra, sains dan ilmu pengobatan. Kini, di rumah-rumah penduduk tersimpan manuskrip-manuskrip kuno yang selama beberapa abad telah menjadi warisan turun-temurun. Sejumlah museum di pusat Timbuktu pun masih mengoleksi beberapa manuskrip Islam tertua di dunia.

Tidak jauh dari pusat kota, saat melintasi gundukan pasir gunung Sahara, saya mendengar genderang yang mengentak-entak. Ragu jangan-jangan badai pasir telah mengecoh telinga, saya pun memutuskan untuk mengikuti suara itu dan bertemu dengan sekelompok anak laki-laki yang sedang bermain-main dengan drum mereka. Tanpa terganggu oleh deru badai yang mengintip di horison, atau oleh sengatan matahari, para bocah lelaki itu nyaris tidak menyadari kedatangan saya. Sejarah Timbuktu pun hidup kembali, mewujud dalam semangat tanpa beban dari gairah bermusik mereka.

Semua foto oleh Musa Chowdhury.

Leave a Reply
<Modest Style