Modest Style

Melibatkan Komunitas Muslim Terbesar di Dunia

,

Peran media dan hubungannya dengan konsumen muslim berubah dengan cepat, tulis Jo Arrem.

Seorang wanita muda mengecek halaman Facebook-nya di Afghanistan. AFP Photo/Shah Marai
Seorang wanita muda mengecek halaman Facebook-nya di Afghanistan. AFP Photo/Shah Marai

Mari kita sisihkan statistik untuk sesaat. Peran media dalam menyikapi dialog antara konsumen muslim kehilangan relevansinya. Semakin lama semakin nyata, sekarang fokus media adalah memungkinkan ucapan, pikiran, dan ide-ide konsumen untuk berkembang.

Aktivis media di industri mengangkat demografi perkembangan gaya hidup muslim dan pentingnya memenuhi kebutuhan dan permintaan dari muslim abad ke-21.

Ada banyak ruang untuk pragmatisme di sini. Media sebagai sebuah industri tidak lagi sama seperti lima sampai 10 tahun yang lalu. Peran untuk mempromosikan, mendukung, dan mendorong kebutuhan bawaan konsumen muslim telah berubah secara drastis.

Pada hari kedua dan terakhir KTT Ekonomi Islam Dunia di Dubai, sesi petang yang bertajuk “New Media and Entertainment for the Socially Conscious (Hiburan dan Media Baru untuk Mereka yang Sadar Sosial)” mempertanyakan sikap yang telah lama ada.

Pendekatan agenda itu orisinal namun rumit. Akankah muslim baru yang cerdas-media di masa kini – yang tidak puas dengan apa yang ditawarkan media standar dan mencari pilihan hiburan dan rekreasi alternatif yang peka terhadap nilai-nilai mereka – selaras dengan konsep-konsep baru dan inovatif yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka?

Solusinya tidak pernah akan mudah, yang pasti bukan dari satu jam sesi KTT di Mina A’Salam. Tapi yang jelas, ada upaya bersama oleh para panelis untuk mengakui pergeseran dari kontrol media yang dulu bersifat satu arah untuk mengubah percakapan itu menjadi dua arah.

Telah ada perubahan mendasar dalam supremasi kontrol, arah, dan nilai media. Lewatlah sudah hari-hari di mana media tradisional seperti koran dan majalah menyelenggarakan percakapan satu arah. Dewasa ini, seluruh lanskap menjadi jalur supercepat lalu lintas informasi lintas negara yang hidup, lintas bahasa, lewat perangkat multimobile.

Tidak diragukan lagi, munculnya media jejaring sosial dan aksesibilitas smartphone yang terus meningkat telah mendorong transformasi pertukaran ide-ide ini. Ada mimpi besar bagi dunia digital di akhir tahun 90-an dan awal abad ke-21, sebelum menjamurnya dotcom pada tahun 2001 yang menyebabkan visi ini berhenti.

Mimpi-mimpi itu sekarang telah kembali, dan kembali sepenuh hati dengan positif. Infrastruktur tak pernah sebaik ini sebelumnya, dan kemajuan teknologi sekarang memfasilitasi mimpi yang sama yang dibayangkan pada tahun 1995. Lupakan bahwa perusahaan teknologi sekarang diperdagangkan pada angka yang membuat industri tradisional seperti komoditas yang tak berharga. Dongeng yang menarik sekarang adalah media baru seperti Facebook dan Twitter telah memicu pikiran – orang-orang muda khususnya – untuk menjadi lebih berani dan kreatif, serta berbeda dari rekan-rekan mereka.

Tanpa mempertimbangkan mentalitas hipsternya, dorongan untuk relevan dengan komunitas muslim merupakan pesan utamanya. Mengakomodasi transformasi ini adalah kunci keberhasilan, dan upaya untuk menahan pergeseran melalui peraturan pemerintah kemungkinan besar akan sia-sia.

Shahed Amanullah, pendiri panduan berbasis halal zabihah.com, adalah seorang pengusaha yang memahami pentingnya membuka keran kebebasan berbicara tersebut. Bagi Shahed, fokusnya adalah mempelajari demografi muslim dan mengetahui apa yang mereka cari.

“Komunitas muslim terbesar di dunia adalah komunitas Internet, bukan negara tertentu,” kata Shahed.

“Dalam percakapan orang-orang muda, kita akan menemukan peluang-peluang baru dalam media. Jika Anda tidak berbicara kepada mereka, mereka tidak akan beranjak. Orang-orang muda sangat aktif di media sosial. Ada kekuatan di sana, jadi manfaatkanlah kekuatan itu.”

Ahmed Nassef adalah pendiri Telfez, sebuah wadah TV sosial di UEA. Seperti Shahed, ia memiliki pandangan yang kuat bahwa komunitas muslim harus diberikan hak untuk memerintah diri mereka sendiri:

Orang-orang memiliki ide-ide mereka sendiri tentang apa yang dapat diterima dan apa yang alami bagi mereka. Ketika saya masih di Yahoo, kami tidak memoderasi forum tapi kami memberikan pengguna hak untuk menandai komentar yang menyinggung mereka. Segala sesuatu bisa terjadi secara alami tetapi itu semua merupakan hasil dari rasa percaya kepada khalayak.

Kita perlu menciptakan lingkungan yang mendorong kreativitas dan semuanya dimulai di masa kanak-kanak, dengan memastikan ada wacana dalam berpikir berbeda. Itulah inovasi. Dulu, menjadi seorang entrepreneur tidak selalu merupakan hal yang positif, karena orangtua kita sering menasihati kita untuk menjadi dokter atau pengacara.

Kita sedang melihat lebih banyak semangat entrepreneur sekarang; orang-orang muda yang hebat dengan ide-ide luar biasa berasal dari UEA, Arab Saudi, dan banyak tempat lain. Banyak hal menakjubkan yang terjadi dan semuanya dimulai dengan pola pikir kita.

Ide-ide yang paling menakjubkan memiliki tempat yang sah dalam sejarah umat manusia. Kemajuan terbesar dari umat manusia – yang logis, analitis, dan objektif – semua diselenggarakan oleh otak kiri. Teknologi, sebagai aturan umum, didefinisikan oleh otak kiri. Matematika, sains, dan kedokteran semua membutuhkan imajinasi, namun secara fundamental pengembangannya digerakkan oleh perhitungan murni dan faktor acak yang terkendali dalam proses berpikirnya.

Revolusi Industri adalah contoh utama tentang bagaimana pikiran manusia telah mendorong inovasi. Bahkan penemuan roda, sebuah inovasi yang lahir dari kebutuhan, mengusung karakteristik yang sama.

Sekarang, selagi kita membayangkan hidup kita masing-masing dengan latar belakang kejatuhan Wall Street, sedikit yang kita ketahui bahwa otak kiri kita yang secara tradisional dominan bercampur dengan otak kanan – intuitif, bijaksana, dan subjektif.

Kita menjadi makhluk visual yang sebenarnya, seperti yang ditunjukkan oleh keberhasilan YouTube, Instagram, dan Pinterest. Kita sekarang berbagi ide, pikiran, dan pengalaman tanpa kata-kata, dikualifikasikan dengan tagar-tagar untuk mengarahkan keyakinan kita kepada saluran dan khalayak yang sesuai.

Tapi mencari informasi tetap menjadi sifat yang alami. Konten yang bersifat informatif atau pendidikan tetap menjadi komoditas yang diinginkan. Relevansi dengan demografi muslim menjadi faktor penentu berikutnya.

Navid Akhtar, pendiri Gazelle Media dari Inggris Raya, sigap mengenali mentalitas pencarian informasi yang mungkin – dan bisa dianggap benar – memisahkan pola perilaku antara muslim dan non-muslim.

“Kita harus memperbaiki kesalahpahaman melalui televisi dan radio,” kata mantan produser BBC Channel 4 itu. “Konsumen [muslim] masa kini tidak peduli di mana mereka menontonnya, BBC atau CNN atau Economist. Pokoknya mereka akan mencari apa yang mereka inginkan.

“Pada dasarnya, kita berbicara tentang gaya hidup. Orang-orang berbeda dalam hal gaya hidup dan cara menerapkan Islam. Kita membutuhkan informasi tentang bagaimana muslim di Nigeria mempraktikkan Islam dan [bagaimana] di tempat lain di dunia – baik itu di Eropa atau Asia – mempraktikkan Islam. Informasi ini akan membantu setiap orang mendefinisikan apa artinya menjadi seorang muslim abad ke-21.”

Ahmed, seorang Mesir yang dibesarkan di California selatan, melanjutkan: “Komunitas muslim yang sangat beragam tidak sering tercermin seperti itu di media korporasi. Pada tahun 2001 ketika saya tiba di Timur Tengah, saya belajar dengan cepat untuk memungkinkan pengguna untuk memiliki konten dan layanan yang layak mereka dapatkan. Mampu berinteraksi dalam bahasa Anda sendiri amat memberdayakan pada masa itu.

“Sekarang semuanya berkisar soal konten yang relevan. Intinya adalah memungkinkan konten untuk platform tersebut, baik itu di Amerika Serikat, Eropa atau Asia. Orang-orang perlu memiliki akses ke hal itu, sehingga mereka dapat menciptakan sesuatu yang relevan untuk mereka dan masyarakat mereka.”

Shahed mungkin mengutarakannya dengan paling baik ketika ia menjelaskan mengapa pemberdayaan harus menjadi alasan, dan bukannya perdebatan tentang bagaimana media dapat dan harus memainkan peran dalam kehidupan gaya hidup muslim sepanjang waktu.

Dia menjelaskan: “Bagaimana kita dapat memanfaatkan alat baru ini [teknologi dan media sosial] untuk menumbuhkan identitas muslim baru antara Barat dan Timur? Ada cara-cara teknis untuk melakukan itu.

“Kita bisa membuat jalan di mana generasi muda muslim bisa mengekspresikan diri mereka dengan cara mereka sendiri, [dan] menciptakan ruang bagi jutaan orang muda untuk memiliki percakapan intens tentang apa artinya menjadi seorang muslim.”

Leave a Reply
<Modest Style