Modest Style

Emosi negatif dan permusuhan tingkatkan risiko stroke

,
000_Del6208416-e1405048190700
Sikap sinis dan bermusuhan terhadap orang lain dapat melipatgandakan risiko terkena stroke. AFP Photo / Dibyangshu Sarkar

WASHINGTON, 10 Juli 2014 (AFP) – Sikap sinis dan bermusuhan terhadap orang lain dapat melipatgandakan risiko terkena stroke pada orang berusia paruh baya dan orang dewasa lainnya, menurut hasil studi yang terbit pada hari Kamis.

Penelitian dalam Stroke, jurnal Asosiasi Jantung Amerika, juga menemukan bahwa depresi dan stres berat meningkatkan risiko stroke.

Untuk studi ini, lebih dari 6.700 orang dewasa berusia 45 hingga 84 tahun menjawab kuesioner tentang kondisi pikiran dan perilaku mereka.

Survei ini menilai stres kronis, gejala depresi, kemarahan, dan permusuhan selama dua tahun, dan skor yang rendah mengindikasikan frekuensi lebih rendah munculnya perasaan-perasaan ini.

Para subyek tidak memiliki penyakit jantung pada awal studi.

Mereka diikuti selama delapan hingga 11 tahun, di mana pada masa tersebut 147 subyek terkena stroke dan 48 mengalami serangan iskemik transient (TIA, atau stroke mini), yang diakibatkan oleh terhalangnya aliran darah ke otak secara sementara.

Peneliti menemukan bahwa subyek dengan skor permusuhan tertinggi – yang diukur dengan menilai pemikiran sinis seseorang atas niat orang lain – memiliki kemungkinan lebih dari dua kali lebih besar terkena stroke atau stroke mini, dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor terendah.

Sejalan dengan itu, skor tinggi pada gejala depresi berarti 86 persen dari mereka yang menunjukkan gejala ini lebih berisiko, dan mereka yang stres kronis mendapaat 59 persen risiko stroke atau stroke mini yang lebih tinggi.

Mungkin mengejutkan, namun kemarahan tidak berkaitan dengan peningkatan risiko stroke manapun.

Studi ini melibatkan beragam orang keturunan Kaukasia, Afrika-Amerika, Latin, dan Asia.

Kaitan antara psikologi dan stroke tetap relevan meski peneliti mengikutsertakan faktor risiko stroke yang sudah diketahui seperti usia, ras, gaya hidup, dan lain-lain.

“Kita terlalu fokus pada faktor risiko tradisional – kadar kolesterol, tekanan darah, merokok, dan lain sebagainya – itu semua memang sangat penting, namun studi semacam ini menunjukkan bahwa karakter psikologis juga sama pentingnya,” ujar ketua penulis Susan Everson-Rose, profesor spesialis bidang kedokteran di University of Minnesota di Minneapolis.

“Dengan populasi yang menua, penting untuk turut mempertimbangkan faktor-faktor lain ini yang dapat berperan dalam risiko kesehatan.”

Leave a Reply
<Modest Style