Modest Style

“Klinik sampah” untuk rakyat miskin di Malang

,

Seorang perawat di Klinik Bumi Ayu di Malang mengumpulkan bungkusan sampah daur ulang yang diantarkan oleh  anggota klinik. AFP Photo / Aman Rochman

MALANG, 15 Juni 2014 (AFP) – Mahmud menyeret kantung-kantung berisi sampah ke klinik kecil kumuh di samping jalanan sibuk di Pulau Jawa, pulau utama Indonesia, beberapa kali dalam sebulan.

Di sana ia menukarkan kardus-kardus kumal, botol-botol plastik, dan sampah lainnya dengan sesuatu yang harus ia perjuangkan dengan susah payah jika tidak melalui cara ini: perawatan kesehatan.

“Saya tahu saya dapat menjual sampah saya di sini, maka saya simpan mereka,” ujar pria usia 60 tahun tersebut, yang seperti banyak orang Indonesia lain, hanya memiliki satu nama. “Saya dulu membuang segalanya langsung ke jalan, namun saya telah mulai mengingatkan diri saya bahwa sampah itu sebenarnya berguna.”

Mahmud, yang menderita radang sendi, adalah satu dari banyak anggota Klinik Bumi Ayu di Malang yang secara rutin menerima sampah sebagai ganti untuk pemeriksaan kesehatan dan obat-obatan.

Terdapat lima tempat seperti ini di kota tersebut sebagai bagian dari skema yang dinamai “Asuransi Klinik Sampah” oleh pendirinya yang berusia 24 tahun, Gamal Albinsaid, yang menyediakan perawatan dan konsultasi secara gratis bagi rakyat miskin di negara tersebut.

Seiring dengan perjuangan negara terbesar di Asia Tenggara ini dalam pemerataan kekayaan untuk rakyat miskin dalam tahun-tahun belakangan, klinik-klinik tersebut merupakan upaya kreatif untuk mengisi kesenjangan yang ditinggalkan oleh sistem kesejahteraan yang usang.

Tahun ini pemerintah mulai meluncurkan program yang direncanakan akan menjadi sistem pelayanan kesehatan universal di seluruh negara kepulauan berpenduduk 250 juta ini.

Saat telah terimplementasi secara penuh pada tahun 2019, sistem ini diperkirakan akan menghabiskan biaya sekira $15 miliar (Rp 178 triliun) setahun – namun kritikus menyebut bahwa program tersebut kekurangan dana dan Indonesia kekurangan tenaga kesehatan terlatih.

Di sebuah negara di mana setengah populasinya hidup dengan $2 (Rp 24 ribu) sehari, pemerataan kemajuan dari lonjakan ekonomi berkelanjutan menjadi fokus utama belakangan ini, ketika peserta pemilu presiden bulan Juli berjanji memperbaiki taraf hidup masyarakat kurang mampu.

Di luar pelayanan kesehatan, gerakan yang dibuat Albinsaid memberi manfaat penting lain – penciptaan pasukan pembersih jalan-jalan di sekitar kota Malang, yang seperti halnya banyak kota di Indonesia, berjuang mengatasi tumpukan sampah.

Albinsaid memutuskan membuka tempat pertama pada 2010 setelah mendengar kisah tentang putri kecil pemulung sampah yang meninggal karena diare. Keluarganya tidak mampu membiayai pengobatan.

Klinik tersebut gagal terealisasi, namun pada 2013, Albinsaid dan empat orang lain berhasil mengumpulkan dana untuk membuka lima klinik di Malang, yang sejauh ini berjalan dengan baik.

Penghargaan

Pencapaiannya diakui pada bulan Januari di mana ia dianugerahi Unilever Young Sustainability Entrepreneur Prize oleh Pangeran Charles pada sebuah upacara di London. Hadiah yang ia terima termasuk 50.000 euro (Rp 807 juta) dalam bentuk dukungan keuangan dan bimbingan.

Orang-orang yang ingin mendapatkan perawatan di klinik tersebut mengumpulkan sampah sekali dalam sepekan pada hari Sabtu. Mereka harus mengumpulkan sampah senilai Rp 10.000 setiap bulannya untuk menjadi anggota skema tersebut, dan mendapatkan dua jatah kunjungan setiap bulannya.

Setiap sampah memiliki nilai yang berbeda, ujar Albinsaid. Sampah organik dapat diubah menjadi pupuk yang dijual ke petani. Bahan-bahan lainnya, seperti plastik dan logam, dibeli oleh pengumpul sampah yang akan mengolah dan menjualnya.

Klinik Bumi Ayu dioperasikan oleh dua dokter, satu perawat, dan dua apoteker. Klinik ini buka setiap hari pada sore hari. Kebanyakan pasiennya adalah buruh tani di sekitar kota Malang, Jawa Timur.

Pada hari Sabtu baru-baru ini di klinik, sekitar 10 pasien menunggu giliran bertemu dengan dokter.

Seorang wanita menggendong erat-erat putrinya yang berusia dua tahun, berbungkus sarung, dengan mata merah dan bengkak. Setelah pemeriksaan singkat, seorang dokter mendiagnosisnya dengan serangan diare parah dan mempersilakan mereka pulang setelah membekali dengan obat-obatan.

Efriko Septananda, seorang dokter di klinik tersebut, mengatakan masalah umum yang dimiliki orang-orang yang berkunjung antara lain tekanan darah tinggi, diabetes, pilek, dan radang lambung.

Kebanyakan mereka berpenghasilan Rp 500.000 hingga satu juta sebulan, dan akan kesulitan mendapat perawatan kesehatan yang memadai jika klinik ini tidak menyediakan pilihan pembayaran dengan sampah, ujarnya.

Perawatan kesehatan masyarakat gratis memang ada di Malang dan tempat-tempat lain di Indonesia. Namun akses untuk mendapatkannya harus melalui proses birokrasi tinggi yang rumit, jelasnya.

Bagi Mahmud, perawatan di klinik ini telah membantunya meredakan radang sendinya.

“Sebelumnya saya tidak merasa cukup baik, terutama saat harus membungkuk untuk shalat,” ujarnya. “Namun kini saya dapat shalat dengan normal.”

Albinsaid, yang sedang dalam masa pelatihan menjadi dokter namun tidak secara langsung merawat pasien di klinik, mengatakan bahwa sistem yang ada sudah berhasil karena hanya 10 hingga 15 persen dari orang yang membawakan sampah membutuhkan pelayanan mereka.

Hal ini menyediakan cukup uang untuk menjalankan klinik dan mendanai perkembangannya.

Ia berharap dapat mengembangkan skema ini di seluruh Indonesia dengan klinik yang rencananya akan dibangun di tiga kota lainnya. Pemerintah mengungkapkan ketertarikan untuk ikut terlibat.

Bagi Albinsaid, klinik ini juga berarti memberi mereka yang kurang mampu kemampuan yang lebih besar dalam menentukan nasib hidupnya.

“Dengan klinik ini, kami dapat membantu memberdayakan orang miskin,” ujarnya.

Leave a Reply
<Modest Style