Modest Style

Penelitian Ungkap Penyebab Mengejutkan Kanker Payudara

,

 

Berkas foto: Seorang ilmuwan mengamati sampel laboratorium di sebuah rumah sakit. AFP Photo / Quique Garcia
Berkas foto: Seorang ilmuwan mengamati sampel laboratorium di sebuah rumah sakit. AFP Photo / Quique Garcia

WASHINGTON, 11 November 2013. Oleh Kerry Sheridan (AFP) – Upaya penelitian selama satu dasawarsa untuk menemukan faktor lingkungan penyebab kanker payudara dengan mempelajari hewan percobaan di laboratorium serta sekelompok gadis Amerika Serikat yang sehat telah menunjukkan hasil yang mengejutkan. Demikian diungkapkan para ilmuwan.

Subjek utama penelitian adalah 1.200 siswi yang tidak mengidap kanker payudara, tetapi yang telah memberikan sejumlah petunjuk penting baru kepada para ilmuwan mengenai kemungkinan asal usul penyakit tersebut.

Beberapa faktor risiko dapat dikenali dengan baik, termasuk pubertas dini, kehamilan di usia lanjut, menopause yang terlambat, terapi sulih estrogen, konsumsi alkohol dan paparan radiasi.

Sejumlah kemajuan juga telah dilakukan dalam mengidentifikasi mutasi gen berisiko, meskipun kasus-kasus ini terbilang minoritas kecil.

“Sebagian besar kanker payudara, terutama pada perempuan muda, tidak berasal dari riwayat keluarga,” ujar Leslie Reinlib, direktur program National Institute of Environmental Health Sciences.

“Kami masih memiliki 80% kemungkinan yang pastinya disebabkan faktor lingkungan,” ungkap Reinlib, salah seorang peneliti dari Breast Cancer and the Environment Research Program (BCERP), yang telah menerima dana sebesar $70 juta dari pemerintah Amerika Serikat sejak 2003.

Sebagian ilmuwan di program ini melacak apa yang terjadi pada populasi manusia, sementara yang lain meneliti bagaimana karsinogen, polutan dan pola makan memengaruhi perkembangan kelenjar susu dan tumor payudara pada tikus-tikus laboratorium.

Fokus utama program ini ada pada pubertas karena masa puber yang terlalu cepat “kemungkinan menjadi salah satu faktor utama penyebab kanker payudara pada perempuan,” tutur Reinlib.

Pubertas adalah masa pesatnya pertumbuhan jaringan payudara. Penelitian terhadap para korban yang selamat dari bom atom Hiroshima di Jepang telah menunjukkan bahwa mereka yang terpapar radiasi di usia remaja mempunyai kemungkinan lebih besar untuk terkena kanker payudara saat dewasa.

Sebanyak 1.200 gadis Amerika yang mengikuti studi di sejumlah tempat di New York City, California utara serta Cincinnati dan sekitarnya di Ohio ini mulai bergabung sejak 2004, saat usia mereka sekitar enam hingga delapan tahun.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur paparan bahan kimia terhadap gadis-gadis tersebut melalui tes darah dan urine, serta mempelajari bagaimana faktor lingkungan berpengaruh terhadap permulaan pubertas dan mungkin risiko kanker payudara di kemudian hari.

Para ilmuwan segera menyadari bahwa usaha mereka untuk menghubungi gadis-gadis itu sebelum memasuki pubertas ternyata tidak sepenuhnya berhasil.

“Sekitar 40% dari mereka rupanya sudah puber sejak berumur delapan tahun,” kata Reinlib. “Informasi ini cukup mengejutkan.”

Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa gadis-gadis itu tampaknya memasuki usia puber enam atau delapan bulan lebih awal dibandingkan gadis-gadis sebaya mereka pada 1990-an.

Studi yang minggu lalu dimuat di jurnal Pediatrics pada grup gadis-gadis ini mengungkapkan obesitas merupakan pemicu utama pertumbuhan payudara sebelum waktunya.

Sejumlah studi lain pada gadis-gadis ini berfokus terhadap bahan kimia yang dikenal sebagai pengganggu endokrin karena dianggap menyebabkan pertumbuhan payudara yang terlalu cepat atau lambat.

Hasil awal menunjukkan “untuk pertama kalinya ftalat, BPA, pestisida terdapat di semua gadis yang mereka amati,” kata Reinlib.

Para ilmuwan tidak hanya terkejut oleh tersebar luasanya paparan tersebut, tetapi juga oleh data yang kelihatannya menunjukkan bahwa pengaruh bahan kimia plastik terhadap pertumbuhan payudara kemungkinan tidak sebesar yang ditakuti sebagian orang.

“Mereka tidak banyak menemukan hubungan antara pubertas dan ftalat, bahan kimia yang luruh dari botol plastik dan produk-produk Tupperware yang dipanaskan,” ungkap Reinlib.

Penemuan besar lain berhubungan dengan kimia darah dari dua kelompok bertetangga di Ohio dan Kentucky—keduanya meminum air yang kelihatannya terkontaminasi limbah industri.

Para gadis yang tinggal di sebelah utara Kentucky memiliki kadar bahan kimia-industri di dalam darah—asam perfluorooktanoat (PFOA atau C-8) yang ditemukan pada lapisan anti-lengket panci Teflon—tiga kali lebih tinggi dari mereka yang meminum air dari Sungai Ohio dekat Cincinnati, di mana airnya disaring dengan teknologi canggih.

“Kentucky utara tidak mempunyai filtrasi karbon aktif granular” pada suplai air mereka, ujar penelilti Susan Pinney, profesor di University of Cincinnati School of Medicine.

“Setelah mengetahui hasil awal penelitian kami, mereka mulai melakukan proses penyaringan pada 2012.” Menurut Pinney, pihak keluarga juga diberi tahu tentang tingkat darah putri-putri mereka.

Bahan-bahan kimia ini dapat menetap di dalam tubuh selama bertahun-tahun. Para ilmuwan merasa kecewa saat mengetahui semakin lama gadis-gadis ini memperoleh ASI semasa bayi—yang biasanya dipuji bermanfaat bagi kesehatan—semakin tinggi pula tingkat PFOA mereka dibandingkan dengan gadis-gadis yang diberi susu formula.

Apa yang tidak dapat dipelajari pada gadis-gadis tersebut lantas diujicobakan kepada tikus-tikus laboratorium. Dalam satu eksperimen, mereka diberi makanan tinggi lemak dan dipaparkan kepada karsinogen tingkat tinggi untuk melihat bagaimana interaksi antara kedua zat tersebut.

Tumor payudara tumbuh lebih cepat pada kelompok tikus yang diberi makanan tinggi-lemak, kata peneliti Richard Schwartz dari departemen mikrobiologi dan genetika molekuler di Michigan State University.

Tikus-tikus yang gemuk memiliki lebih banyak suplai darah di kelenjar susu, tingkat peradangan yang lebih tinggi dan menunjukkan perubahan pada sistem kekebalannya.

Sejumlah studi lanjutan mengindikasikan bahwa risiko kanker akan tetap tinggi bahkan jika tikus-tikus tersebut menjalani diet tinggi-lemak di masa pubertas lantas beralih ke diet rendah-lemak di masa dewasa, ujarnya kepada AFP.

“Kerusakan sudah telanjur terjadi,” katanya. “Apakah ini berarti manusia mempunyai risiko yang sama? Kami belum mengetahuinya secara pasti.”

Tetapi penemuan ini memang memperkuat saran yang sering kita dengar tentang cara menjaga kesehatan—menghindari makanan berlemak, mempertahankan berat normal dan mengurangi asupan bahan kimia sesering mungkin. Demikian ujar para pakar.

“Cara itu tidak sulit, dan hanya itulah yang bisa membantu,” ungkap Schwartz.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker payudara adalah kanker paling umum yang menyerang perempuan sedunia serta menyebabkan 508.000 kematian pada 2011.

Leave a Reply
<Modest Style