Modest Style

Menjaga Tubuh Karunia dari Tuhan

,

Nasia Ullas mengungkap bagaimana etiket makan yang Islami dan pandangan yang benar terhadap olahraga membantunya membentuk gaya hidup sehat.

(Foto: Dreamstime)
(Foto: Dreamstime)

Pada saat seseorang memutuskan untuk ‘melakukan sesuatu’ terhadap berat badan mereka, mereka langsung berusaha menjalani diet ketat dan mengatakan kalimat tak logis seperti ‘Saya tidak mengonsumsi susu atau karbohidrat’. Gara-gara menghitung-hitung dan memangkas kalori ditambah dengan dana ekstra yang dihabiskan untuk keanggotaan gym: Anda mulai kehilangan akal sehat sebelum kehilangan kelebihan berat badan. Kekurangan kalori menyebabkan seseorang mengidam berlebihan (saya pernah bermimpi tentang pasta), ini merupakan sikap yang tidak sehat dalam urusan makanan – dalam beberapa kasus yang parah bahkan menyebabkan gangguan makan.

Sementara itu, ibu Anda memarahi, ‘Mengapa kamu menghindari semua makanan ini, padahal Allah telah menjadikannya halal bagimu?’ Anda pun jadi bingung. Apakah tidak ada cara untuk menjadi muslim sekaligus menghilangkan timbunan lemak ekstra?

Sebenarnya ada caranya, dan ini tidak melibatkan sit-up atau diet Atkins. Ajaran sederhana Nabi (SAW) bisa menyelamatkan kita dari membuang-buang waktu dan usaha yang kita habiskan untuk menjelajahi tips menurunkan berat badan di Internet.

Yang pertama adalah mengucapkan ‘Bismillah’ sebelum makan, dan setelah itu bersyukurlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah atas makanan dan minuman itu karena Dia telah memberkati kita dengan makanan yang kita sukai. Cara ini membuat saya lebih sadar apa yang saya makan, dengan mengingatkan saya untuk menikmati, mengunyah dan merasakan setiap gigitan.

Nabi (SAW) juga diriwayatkan pernah bersabda: ‘Makanan untuk satu (orang) cukup untuk dua, makanan untuk dua (orang) cukup untuk empat dan makanan untuk empat (orang) cukup untuk delapan.’ Hadits sederhana ini menyoroti bagaimana kita harus makan. Hadits ini menekankan pentingnya mengendalikan porsi makanan, juga tentang anjuran membagi makanan kita. Selama ini membuang-buang makanan dipahami oleh umat Islam sebagai tindakan negatif, tapi tidak demikian halnya dengan makan berlebihan. Bagaimanapun, makan melebihi kebutuhan tubuh juga merupakan pemborosan, karena akan berakhir sebagai timbunan lemak atau penyakit dalam tubuh kita.

Sekarang, perlahan-lahan saya memasuki zona berbahaya, yaitu olahraga. Saya berkali-kali menyerah berolahraga karena ada pendapat bahwa kita harus latihan selama satu jam atau lebih setiap hari untuk mendapatkan hasil. Hal ini sering membuat saya jadi tidak melakukan apa pun. Yang pada akhirnya membuat saya berolahraga adalah pendapat bahwa ‘sedikit itu lebih baik daripada tidak sama sekali’ – bahwa latihan 10 menit pun bermanfaat.  Berat badan saya turun lima kilogram hanya dengan menaiki enam tangga di kantor saya setelah shalat. Karena saya shalat empat kali di tempat kerja, itu berarti saya naik-turun 24 tangga setiap hari.

Timbangan seharusnya tidak menjadi satu-satunya alat untuk mengukur manfaat perubahan gaya hidup. Fakta-fakta yang tampak sepele seperti Anda tidak terengah-engah seperti biasanya ketika berjalan-jalan, atau bahwa sekarang Anda tidur lebih baik, merupakan tanda-tanda positif. Jangan biarkan angka pada timbangan mengecilkan hati Anda!

Yang paling penting, berdoalah untuk kesehatan Anda. Jika saya menyuruh siapa pun untuk mendoakan tubuh mereka, mereka merespons dengan ucapan, ‘Bagaimana saya bisa berdoa untuk hal yang begitu egois?’ Al-Quran memiliki jawaban untuk itu: ‘Sesungguhnya Tuhanku Mahadekat, dan Maha Memperkenankan’ (11:61). Saya rasa tidak ada cara yang lebih baik agar terhindar dari sikap menunda-nunda pola hidup sehat selain berdoa kepada Allah agar Dia membantu dan membimbing kita.

Karena pertolongan Tuhan dapat membuat tugas yang membosankan atau menyebalkan menjadi mudah belaka.

Leave a Reply
<Modest Style