Modest Style

Mencari untung di pasar produk halal

,

Perusahaan di seluruh penjuru dunia berlomba memasuki pasar produk halal dunia yang bernilai lebih dari Rp 23.000 triliun dan terus berkembang. Oleh Lina Lewis.

Halal: Toples permen yang ingin diraih semua orang. AFP Photo / Martin Bureau
Halal: Toples permen yang ingin diraih semua orang. AFP Photo / Martin Bureau

Pasar halal dunia, dinilai memiliki harga lebih dari Rp 23.000 triliun, merupakan salah satu segmen dengan pertumbuhan konsumen terbesar di dunia. Sektor makanannya saja mencapai nilai tahunan sekira Rp 8.000 triliun.

Angka-angka ini terus berkembang. Tidak mengejutkan bahwa perusahaan di seluruh dunia berebut untuk ikut ambil bagian dalam segmen ini. Perusahaan dalam sektor makanan tidak membuang-buang waktu untuk mendapatkan sertifikat halal.

Takasago International, sebuah perusahaan Jepang yang menjual perasa dan pewangi, secara resmi membuka fasilitas senilai Rp 686 miliar di Singapura pada 14 Maret, berdasarkan laporan oleh The Straits Times.

Perasa yang dimaksud digunakan dalam pembuatan makanan semacam keripik kentang, biskuit, dan mi instan.

Pada 2004, Takasago menjadi perusahaan pertama di Singapura yang membuka fasilitas yang memproduksi perasa halal. Pabrik baru perusahaan ini, dengan besar setara lima lapangan sepak bola, akan menggantikan dua pabrik lama.

Perusahaan tersebut mendapatkan sertifikasi halalnya baik dari Badan Keagamaan Islam Singapura serta Majelis Ulama Indonesia.

Presiden Takasago Ritaro Igaki berkata: “Pembukaan operasi Singapura memberikan lompatan besar bagi Takasago di pasar Asia.”

Produsen makan Korea pun tidak ingin ketinggalan, dengan merek ramen Nongshim berada di barisan terdepan.

Nongshim mendapatkan sertifikasi halalnya dari Jakim, Departemen Pembangunan Islam Malaysia.

The Korea Herald melaporkan bahwa 100 juta porsi mi instan dikonsumsi di Indonesia setiap harinya.

Sektor jasa syar’i juga memiliki daya tarik tersendiri. Umat Muslim tidak hanya dapat memilih praktek perbankan Islami, namun hotel syar’i pun mulai bermunculan.

Di Indonesia, Sofyan Hotel Betawi di Jakarta mewajibkan pasangan menunjukkan bukti pernikahan atau pertalian darah saat mendaftar untuk mendapat kamar.

Hotel tersebut, yang juga melayani tamu non-Muslim, tidak menyediakan alkohol dan hanya menawarkan makanan halal. Tidak terdapat karya seni yang menggambarkan manusia atau hewan di dinding-dinding hotel, dan sajadah serta Qur’an terdapat di setiap kamar.

Yang menarik – dan mungkin tidak banyak diketahui oleh umat Muslim – jaringan penyedia pengobatan Tiongkok tradisional Eu Yan Sang juga berada dalam daftar halal: Rempah-rempah yang dijual di gerai-gerainya bersertifikat halal dari Asosiasi Pembangunan Integritas Halal Taiwan.

Perusahaan tersebut, yang dikenal dengan perawatan akupunkturnya, bulan lalu mengatakan pada The Straits Times bahwa etnis Melayu merupakan kelompok pasien non-Tionghoa terbesar di seluruh gerai Singapura.

Dengan tumbuhnya jumlah perusahaan yang berlomba menjejakkan kaki di pasar halal, hal ini menjadi situasi yang menguntungkan bagi semua pihak: Perusahaan mendapat pasar yang lebih besar, konsumen memiliki lebih banyak pilihan, kompetisi yang tercipta mendorong kualitas produk dan jasa, dan inovasi pun berkembang.

Leave a Reply
<Modest Style