Studi: Kata kunci menyehatkan di label makanan menipu pembeli

,
Menurut sebuah studi baru-baru ini, pembeli harus mengacu pada daftar kandungan suatu produk agar tidak tertipu klaim menyesatkan tentang manfaat kesehatan yang tertera pada banyak label. ©Dmitry Kalinovsky / shutterstock.com

Kata kunci seperti “bebas gluten”, “antioksidan”, dan “gandum utuh” memenuhi gang-gang toko bahan makanan, namun apakah artinya makanan tersebut benar-benar sehat? Sebuah studi yang baru-baru ini dilakukan di University of Houston memperingatkan pembeli untuk lebih waspada.

Peneliti mengatakan bahwa eufimisme kesehatan ini berdampak besar pada pembeli dan, mengingat kandungan asli dari beberapa produk, dapat menimbulkan rasa sehat yang palsu.

Contohnya, 7-Up Ceri kini menggunakan label “antioksidan”, yang melambangkan anti penuaan dan pencegahan penyakit kanker dan jantung.

“Menyebut 7-Up Ceri mengandung antioksidan itu menyesatkan,” ujar Temple Northup, seorang asisten profesor di Fakultas Komunikasi Jack J. Valenti di UH. “Pemasar makanan kini memanfaatkan keinginan pembeli untuk menjadi sehat dengan memasarkan produk yang diklaim bernutrisi padahal tidak.”

Meski FDA mewajibkan pencantuman Informasi Nutrisi di Amerika Serikat dan sistem yang sama juga berlaku di negara lain, penelitian Northup menyimpulkan bahwa pengaruhnya terhadap pembeli kecil.

“Kata-kata seperti organik, antioksidan, alami, dan bebas gluten mengesankan adanya manfaat kesehatan tertentu,” ujar Northup. “Saat orang benar-benar memikirkannya, tidak ada yang menyehatkan dari 7-Up Ceri Antioksidan – kandungannya kebanyakan adalah sirup fruktosa atau gula. Namun nama yang digunakan memberi kesan adanya manfaat kesehatan tertentu pada produk yang sama sekali tidak menyehatkan.”

Dalam studi tersebut, sejumlah 318 partisipan diberi pertanyaan untuk menganalisis aspek kesehatan produk-produk tertentu dan mencari tahu apakah produk tersebut benar-benar menyehatkan.

Label produk berikut diperlihatkan kepada para partisipan dengan dan tanpa “kata ajaib”: Annie’s Bunny Fruit Snacks (organik), Apple Sauce (organik), Chef Boyardee Beefaroni (gandum utuh), Chef Boyardee Lasagna (gandum utuh), Chocolate Cheerios (jantung sehat), Cherry 7-Up (antioksidan), Smuckers Peanut Butter (100% alami), dan Tostitos (100% alami).

Menggunakan sebuah survey online, tim Northup juga memperlihatkan label produk yang sama dengan kata kunci yang sudah dihilangkan menggunakan Photoshop. Para partisipan diminta memberi nilai untuk setiap produk.

Hasilnya, saat iklannya menjanjikan manfaat kesehatan, pembeli memberi tanggapan positif.

“Setiap saat seorang partisipan melihat salah satu kata pemicu pada sebuah label, mereka akan menganggap produk tersebut lebih sehat daripada gambar satunya yang tidak memiliki kata tersebut,” ujar Northup.

Penelitian Northup menyelami aspek psikologis manipulasi melalui konotasi kata, yang disebut “priming”, dan caranya mempengaruhi anggapan dan mendorong tingkah laku.

Dan memang, di satu fase studi, partisipan cenderung meyakini bahwa produk daging olahan kalengan Spam merupakan pilihan yang lebih menyehatkan daripada salmon.

Northup mengatakan bahwa hal ini merupakan contoh bagaimana iklan dapat menyesatkan pembeli dan juga mengindikasikan kekurangpahaman umum tentang informasi yang disajikan oleh label nutrisi.

Ia berharap penelitiannya berujung pada literasi media yang lebih luas dan pemahaman umum yang lebih baik tentang pemasaran makanan.

Studi tersebut, dengan judul “Truth, Lies, and Packaging: How Food Marketing Creates a False Sense of Health” (“Kebenaran, Kebohongan, dan Kemasan: Cara Pemasaran Makanan Menciptakan Rasa Sehat yang Palsu”), diterbitkan di Food Studies.

Leave a Reply
Aquila Klasik