Modest Style

Konsumen Muslim: Mitos atau Fakta

,

Melaporkan dari Global Islamic Economy Summit di Dubai, Jo Arrem mengkaji sejumlah perkembangan tren dan melontarkan pertanyaan: “Siapakah yang dimaksud dengan konsumen Muslim?”

Rasa apa yang Anda suka? AFP Photo / Martin Bureau
Rasa apa yang Anda suka? AFP Photo / Martin Bureau

Diskusi mengenai proses sertifikasi halal cenderung terbagi menjadi beberapa pendapat. Meski begitu, maknanya semakin kabur ketika terjadi benturan pemikiran dalam memahami istilah konsumen Muslim.

Sejumlah besar data statistik dilontarkan pada Global Islamic Economy Summit yang berlangsung di Dubai, Uni Emirat Arab. Mulai dari pembicaraan mengenai jumlah Muslim dunia yang diperkirakan berkembang dari 1.8 milyar menjadi 2.2 milyar pada 2030 dan pasar produk halal internasional dengan nilai luar biasa besar (USD$2.1 triliun), laju statistik yang dilaporkan memicu semangat.

Lagipula, kenapa tidak? Tersedia cukup banyak bukti di luar sana betapa Muslim merupakan demografi yang demikian pesat perkembangannya di semua jenis produk: fesyen, seni, finansial, wisata dan berbagai produk perawatan pribadi.

Jadi, sungguh sore hari yang menyenangkan saat empat panelis terkemuka membahas topik berjudul ‘Understanding Muslim Consumers’. Diskusi satu jam itu mengulas alasan paling utama kenapa acara yang diadakan di Dubai itu dihadiri lebih dari 3.500 orang: konsumen Muslim.

Tetapi, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan konsumen Muslim? Faisal Masood, pendiri organisasi nirlaba American Muslim Consumer Consortium, mengatakan Amerika Serikat mungkin bisa dijadikan model yang tepat untuk menumbuhkan pemahaman global.

Faisal menjelaskan, “Di Amerika, 25% penduduk Muslimnya berasal dari Timur Tengah, 25% lainnya dari subbenua India dan 25%-nya lagi dari Afrika. Sebanyak 25% sisanya berasal dari belahan dunia lain.

“Keragaman ini mewakili pasar internasional. Semua orang merasa bangga untuk melestarikan warisan dan nilai budaya mereka. Tetapi, ketika mereka memutuskan untuk membeli produk berlabel halal, mereka membelinya untuk empat alasan berbeda.

“Sebagian orang hanya fokus pada nilainya (harga). Mereka menghargai produk berharga paling mahal. Sebagiannya lagi sangat suportif terhadap komunitas mereka, dan kelompok lain memperhitungkan nilai labelnya saja. Kategori keempat melihat pada bagaimana dan kenapa agama begitu penting dalam kehidupan mereka, meyakini begitulah cara Islam seharusnya diamalkan, dan membelinya.”

Kepelikan struktur utama halal-lah yang menimbulkan perdebatan tentang di mana sesungguhnya letak batas yang disepakati bersama.

Mulai dari produk film, elektronik hingga barang konsumen yang benar-benar bergerak cepat, Muslim dan non-Muslim telah berbagi berbagai jenis produk sehari-hari. Namun, di mana letak batasnya ketika—seperti sejumlah pertanyaan yang dikemukakan hadirin—sampanye bebas alkohol dan pepperoni halal—termasuk ke dalam produk yang diperhitungkan? Apakah tindakan itu akan diperbolehkan, atau malah dicela seperti anak empat tahun yang baru saja mencoret-coret gorden baru dengan krayon?

Seperti yang mereka bilang, buktinya baru bisa diketahui setelah tindakannya dipraktikkan, atau dalam perdebatan yang satu ini, produknya dipasangi logo bersertifikasi halal. Ada banyak hal yang bisa disepakati bersama, seperti tuntutan akan kualitas, yang menjadi hakikat sertifikasi halal. Yang lebih penting, dan yang mungkin jarang dibahas, adalah kesepakatan bahwa konsumen Muslim seharusnya berhak menuntut hal tersebut ketika mereka melihat logo halal terpasang pada kemasan suatu produk.

Kepercayaan, di setiap bidang usaha atau industri, berarti kesuksesan. Muslim modern abad ke-21 sekarang terlalu cerdas, terlalu percaya diri dan terlalu berpendidikan untuk tidak mengetahui perbedaan antara kualitas dan kepastian emosi yang menyertai logo halal.

“Ada sesuatu tentang label yang bisa membuat orang memercayainya. Apakah istilah halal hanya terbatas pada logo atau proses sertifikasinya?” tanya Shelina Janmohamed, wakil presiden lembaga konsultasi brand Islam Ogilvy Noor di Inggris. Pertanyaannya menimbulkan berbagai reaksi dari hadirin, tetapi sebagai salah satu dari 500 Muslim paling berpengaruh di dunia, Shelina melontarkan pertanyaan yang amat penting.

“Di lebih dari 90% orang yang kami teliti, agama berpengaruh terhadap tingkat konsumsi mereka. Untuk label, itulah cara yang paling ampuh untuk memulai percakapan.

“Sebagai sebuah golongan, para ‘futuris’ menuntut standar yang terbaik dalam mutu. Mereka tidak menyesal menjadi Muslim. Yang penting buat label dan bisnis adalah para ‘futuris’ ini sangat setia pada label.

“Golongan ini ingin menjadi kreatif. Mereka ingin terlibat dengan dunia. Mereka sangat paham teknologi dan terhubung dengan sangat baik. Inilah kelompok yang kami inginkan untuk terlibat dengan kami.”

Jonathon Wilson, Pimpinan Redaksi Journal of Islamic Marketing di Inggris, sependapat dengan Shelina. Dia yakin istilah seperti kualitas, performa dan kemasan tidak sering dibahas dalam diskusi produk halal. Ditambahkannya, inilah waktu bagi industri Muslim untuk meniru apa yang dipelajari Jerman dan Jepang.

“Lihat saja Jerman dan Jepang. Lihat betapa kedua negara itu mengubah citra mereka, dan bagaimana cara mereka dalam melakukan bisnis,” ujar pria yang 14 tahun lalu menjadi mualaf itu.

“Mencoba mengklasifikasikan dan mengkategorikan orang tidak selalu berhasil. Ada perubahan fundamental dalam cara kita berkomunikasi. Label Islam sedang naik daun dan banyak orang ingin memahaminya. Arab adalah bahasanya Islam tetapi sering kali, pada konferensi seperti ini, kita berbicara dalam bahasa Inggris.

“Muslim di seluruh dunia sama saja, meskipun unik dalam cara mereka sendiri. Istilah halal tidak hanya terbatas pada penyembelihan hewan.

“Publik menuntut produk yang berkualitas tinggi, efisien, canggih dengan spesifikasi yang membuat konsumen senang menggunakannya—baik Muslim mapun bukan.”

Leave a Reply
<Modest Style