Modest Style

Penelitian: Istri bahagia adalah faktor pernikahan bahagia

,
Young couple in love
Istri yang bahagia menghadirkan pasangan yang bahagia. (Foto: Fotolia)

Kebahagiaan seorang suami secara signifikan berhubungan dengan apa yang istrinya rasakan tentang hubungan mereka, menurut peneliti di Rutgers University dan University of Michigan, yang menyatakan bahwa semakin bahagia seorang istri dengan pernikahan yang berlangsung, semakin senang kehidupan suaminya secara umum.

“Saya pikir hal ini ada hubungannya dengan kenyataan bahwa saat seorang istri merasa puas dengan pernikahannya, ia cenderung melakukan lebih banyak untuk suaminya, yang memiliki efek positif dalam hidup suami,” ujar Deborah Carr, seorang profesor di Departemen Sosiologi, Sekolah Ilmu Budaya dan Sains di RU. “Pria cenderung lebih tidak vokal tentang hubungan mereka dan tingkat ketidakbahagiaan pernikahan mereka mungkin tidak tersampaikan ke istri mereka.”

Tim peneliti menganalisis data dari 394 pasangan yang terlibat dalam sebuah penelitian berskala lebih besar tentang kesehatan dan pemasukan. Mereka rata-rata telah menikah selama 39 tahun, dan setidaknya salah satu pasangan berusia lebih dari 60 tahun.

Mereka diberi pertanyaan tentang interaksi mereka sebagai pasangan: seberapa sering mereka beradu pendapat, seberapa banyak mereka memahami satu sama lain, dan apakah mereka merasa dihargai oleh pasangan mereka. Selanjutnya, setiap pasangan diminta melakukan kegiatan berpasangan yang umum seperti menonton TV atau pergi berbelanja bersama dan mencatat perasaan mereka di jurnal selama 24 jam.

Nilai rata-rata kepuasan hidup mereka secara umum tinggi, di mana suami memperlihatkan sedikit lebih banyak antusiasme terhadap pernikahan mereka daripada yang diperlihatkan para istri.

“Bagi kedua pasangan, berada dalam pernikahan dengan nilai yang lebih tinggi dikaitkan dengan kepuasan dan kebahagiaan hidup yang lebih besar,” ujar Carr.

Jika suami jatuh sakit, kebahagiaan istri kemungkinan hilang, menurut Carr, yang menyatakan bahwa bukan sebaliknya yang terjadi.

Kita tahu saat pasangan sakit, seringkali istrilah yang merawat, pengalaman yang bisa jadi membuatnya tertekan,” ujar Carr. “Namun seringkali saat wanita yang sakit, ia tidak mengandalkan suaminya tetapi putrinya.”

Kunci kebahagiaan pernikahan adalah topik panas bagi peneliti yang mempelajari hubungan antara kebahagiaan pernikahan, konflik, dan kesehatan, dan berbagai penelitian telah menunjuk faktor-faktor berbeda sebagai hal yang paling berpengaruh.

Penelitian University of Chicago, diterbitkan Maret tahun ini, juga mengindikasikan bahwa kesehatan suami adalah faktor kunci dalam kualitas pernikahan, tetapi menyebutkan bahwa kunci hubungan yang bahagia sebenarnya terletak pada suami. “Para istri yang suaminya menunjukkan tingkat positivitas yang lebih tinggi melaporkan lebih sedikit konflik. meski begitu positivitas istri tidak berhubungan dengan laporan konflik suami mereka,” ujar penulis utama, James Iveniuk.

Sementara itu, sebuah penelitian di University of California at Berkeley tahun lalu menyimpulkan bahwa hubungan yang stabil bergantung pada kebahagiaan dan positivitas istri, karena peneliti melihat bahwa istrilah yang memegang kuasa untuk meyelesaikan masalah. “Emosi seperti kemarahan dan kebencian bisa tampak sangat mengancam bagi pasangan. Namun penelitian kami menunjukkan bahwa jika pasangan, terutama istri, bisa menenangkan diri mereka, pernikahan bisa terus bertahan,” ujar psikolog Lian Bloch, penulis utama penelitian.

Ketiga penelitian bekerja sama dengan pasangan berusia lanjut, dan anggota tim Rutgers menekankan dampak besar sebuah hubungan atas kesehatan peserta lanjut usia tersebut.

“Kualitas pernikahan itu penting karena memberikan pelindung dari efek memperburuk kesehatan atau penyebab tekanan di kemudian hari, dan membantu pasangan mengeola keputusan sulit sehubungan dengan kesehatan dan pembuatan keputusan medis, ujar Carr.

Penelitian Rutgers diterbitkan di Jurnal Pernikahan dan Keluarga.

Leave a Reply
<Modest Style