Modest Style

Irak Memugar Konstruksi Busur Kuno untuk Memikat Turis

,
Sekelompok warga Irak berdiri di bawah lengkungan sisa bangunan lorong-berkubah dari istana Ctesiphon, yang berada di ibukota kerajaan dari Kekaisaran Persia pada masa Parthia dan Sassania, dekat Madean, 30 kilometer sebelah selatan Baghdad, pada tanggal 15 Mei 2013. ©FOTO AFP / ALI AL-SAADI
Sekelompok warga Irak berdiri di bawah lengkungan sisa bangunan lorong-berkubah dari istana Ctesiphon, yang berada di ibukota kerajaan dari Kekaisaran Persia pada masa Parthia dan Sassania, dekat Madean, 30 kilometer sebelah selatan Baghdad, pada tanggal 15 Mei 2013. ©FOTO AFP / ALI AL-SAADI

(MADAIN, Irak-AFP) – Pihak berwenang Irak telah mengontrak sebuah perusahaan asal Ceko untuk menangani restorasi berdurasi 10 bulan untuk bangunan kuno Arch of Ctesiphon (Busur Ctesiphon) sebagai bagian dari rencana untuk mendongkrak pariwisata ke situs yang dulu pernah populer tersebut.

Selama puluhan tahun konflik yang memporak-porandakan Irak, monumen terkenal dari abad ke-6, yang merupakan lengkungan berbahan batu bata terbesar di dunia dan satu-satunya yang masih berdiri sejak zaman ibukota kekaisaran Persia kuno Ctesiphon, telah mengalami keruntuhan.

Sebuah lempengan besar di monumen ini runtuh tahun lalu dikarenakan kelembaban akibat tingginya curah hujan.

Situs ini berada di sebelah selatan Baghdad, tak jauh dari makam Salman al Farisi, salah satu sahabat Nabi Muhammad.

Kedua situs Busur Ctesiphon dan makam Salman al Farisi dulu pernah menjadi atraksi utama pariwisata Irak di kota Madain. Namun puluhan tahun peperangan telah menghancur-leburkan daerah Irak yang dulu pernah maju ini.

Kota ini dicurigai sebagai lokasi sarana penelitian senjata biologis di bawah rezim kekuasaan diktator Saddam Husein, dan setelah penggulingannya tahun 2003 dan dilanjutkan dengan eksekusinya, daerah ini menjadi markas Al Qaeda.

Upaya untuk menghidupkan kembali reputasinya sebagai pusat wisata berkali-kali terhenti di tengah jalan.

Kini, sebuah perusahaan Ceko, Everis, telah didatangkan untuk merestorasi bangunan busur yang juga dikenal dengan nama Persia Taq-i Kisra tersebut, sebagai langkah awal untuk menghidupkan kembali perekonomian kota itu.

‘Kami memulai pekerjaan kami beberapa waktu lalu, dengan melakukan penelitian pada situs,’ ujar manajer Everis di Irak, Imad Abu Aqlam, sambil menambahkan bahwa survei diharapkan akan tuntas bulan depan.

‘Proses restorasi membutuhkan waktu 10 bulan – itu termasuk proses memperkokoh fondasi situs, mengatasi kelembapan, dan menyokong Taq-i Kisra untuk memastikan tidak ada bagian yang runtuh lagi di kemudian hari.’

Perusahaan itu berharap proyek tersebut akan membantu daerah ini membenahi sebagian kejayaan masa lalunya.

Pembangunan Busur ini dimulai pada tahun 540 SM selama peperangan panjang dinasti Sassania Persia dengan Kekaisaran Byzantium.

Busur ini membentuk sebagian dari kompleks istana yang dimulai tiga abad sebelumnya, dengan tinggi 37 meter (122 kaki) dan panjang 48 meter (158 kaki), menjadikannya bangunan busur berbahan batu bata terbesar di dunia.

Busur tersebut membentang sekitar dua kilometer (1,2 mil) dari makam Salman al Farisi, yang sebelumnya penganut Zoroaster namun beralih ke Nasrani, dan kemudian dijual dalam perbudakan kepada keluarga Yahudi di Madinah yang sekarang menjadi bagian Arab Saudi, sebelum kemudian masuk Islam.

Sebelum invasi yang dipimpin Amerika Serikat tahun 2003 terjadi, area ini termasyhur dengan taman-taman dan ruang hijaunya, juga museumnya yang terkenal.

Namun sekarang hanya tinggal sedikit dedaunan tersisa dikarenakan hancurnya pipa-pipa irigasi dan ditebangnya pepohonan untuk kayu bakar, sementara museumnya dijarah habis setelah penggulingan Saddam.

Di tahun 2004, Global Heritage Fund mengatakan, sebagai akibat dari kerusakan tersebut, bangunan busur itu ‘terancam runtuh’.

Peringatan itu terbukti nyata – akhir tahun lalu, sebongkah lempengan dengan panjang sekitar dua meter (enam kaki) runtuh.

Taq-i Kisra sudah terabaikan untuk sekian lamanya – selama empat dekade – dan kami memutuskan untuk merehabilitasinya ketika sebuah bongkahan runtuh di akhir tahun lalu akibat hujan,’ jelas direktur  kepurbakalaan Madain, Abdulhadi Hassan.

‘Hal itu membangkitkan kekhawatiran dan kepedulian kami terhadap situs bersejarah ini.’

Pihak berwenang berharap restorasi bangunan busur ini akan menghidupkan kembali Madain sebagai destinasi wisata, namun untuk saat ini, area ini tertutup untuk pengunjung, dan dibutuhkan persetujuan lebih dulu bagi mereka yang ingin melihatnya.

Bangunan busur tersebut saat ini masih dikelilingi oleh kawat duri dan dinding semen, memisahkannya dari kebun di dekatnya, dan pihak yang berwenang tidak memiliki jadwal waktu yang jelas kapan mereka bisa membuka kembali tempat ini untuk publik.

‘Semuanya bergantung kepada perkembangan dari pekerjaan ini,’ Menteri Pariwisata dan Kepurbakalaan Liwaa Smaisim menjelaskan kepada AFP.

‘Kami membutuhkan infrastruktur yang baik sebagai upaya membuka kembali tempat ini untuk semua orang, dan insya Allah (Tuhan Maha Berkehendak), semoga dapat selesai sesegera mungkin.’

Leave a Reply
<Modest Style