Modest Style

Indahnya Istanbul

,

Reguklah ramuan kontras ibukota Turki yang memabukkan. Cerita dan foto oleh Jack McGee.

Masjid Raya Sulaiman
Masjid Raya Sulaiman

Istanbul. Anda bisa tinggal berminggu-minggu di sini, berkelana antara masjid tua dan kafe lokal, menikmati sambutan yang sangat hangat dari Istanbullular – penduduk Istanbul – dan makan banyak-banyak. Inilah kota yang kontras mencolok namun karakternya sangat percaya diri. Istanbul bukanlah kota yang gagap budaya, mencoba menyeimbangkan modernitas dan tradisi. Inilah tempat Anda dapat menjadi taat dan progresif, atau tidak keduanya. Ungkapan klise ‘Timur bertemu Barat’ telah lama hilang. Didukung oleh ekonomi yang berkembang pesat dan minat besar dari investor luar negeri, Turki bangga akan identitasnya yang unik dan hal ini tampil dengan mantap.

Ribuan kenikmatan
Ribuan kenikmatan

Mulailah hari dengan sarapan ala Turki di sebuah kafe kecil di distrik Beyoğlu yang trendi di sisi Eropa. Kuliner Turki terkenal dengan kebab dan mezze-nya, tetapi pada saat sarapan, oven penuh dengan kue-kue yang baru dipanggang, ekmek (roti), simit (bagel renyah) dan açma (bagel empuk). Pola makan Turki jelas-jelas non-Atkins, sebagian besar berupa adonan tepung. Kuliner ini mencapai puncaknya pada periode Ottoman, dan para tukang roti pada masa itu percaya bahwa Adam adalah orang suci pelindung mereka. Mereka meyakini bahwa malaikat Jibril mengajari Adam cara memanggang roti setelah Adam diusir dari Taman Surga. Apa pun cerita yang Anda percayai, roti mereka jelas yang terbaik. Di atas meja juga terhampar yoghurt kental dan lembut yang sukar dilukiskan, buah ara segar dan madu, dan tentu saja, kopi. Pentingnya kahve dalam budaya Turki masih terlihat di kata-kata mereka untuk ‘sarapan’, kahvaltı, yang berarti ‘sebelum kopi’. Setelah cangkir kedua Anda, Anda akan ingin segera menjelajahi kota.

Istanbul bukanlah kota yang gagap budaya, mencoba menyeimbangkan modernitas dan tradisi.

Berjalan-jalanlah melalui Beyoğlu menyusuri jalan utama, Istiklal Caddesi, dan masuki jalan-jalan sempit untuk tawar-menawar. Mulailah di ujung Taksim Square dan telusurilah jalan berliku-liku menurun menuju Galata Tower. Anda akan melewati banyak toko yang menjual lokum (permen Turki), tapi Haci Bekir pastilah yang terbaik.

Semua daging harus disembelih sesuai dengan metode halal, karena sebagian besar penduduknya muslim dan ini adalah praktik yang berlaku. Namun, karena kebanyakan tempat juga menyajikan alkohol, sertifikasi halal pada restoran bukanlah konsep yang lazim di sini.

Masukilah masjid indah Hüseyin Ağa Camii untuk beristirahat dari keramaian orang belanja. Selanjutnya, beranjaklah ke Paşabahçe, salah satu dari sekian banyak outlet di industri rumahan yang menjual berbagai gelas teh Turki, dari yang untuk penggunaan sehari-hari sampai kristal berlapis emas meriah. Jangan buang uang Anda di tempat lain.

Di daerah itu pun banyak butik dengan pakaian muslimah desain terbaru; carilah Tekbir yang termasyur. Di Turki, apa yang ditutupi wanita sering menjadi topik yang lebih hangat daripada apa yang mereka tampakkan. Pemakaian tesettür (kerudung), bagi sebagian pihak, memicu perdebatan politik yang intensif tentang kebebasan beragama dan identitas muslimah. Sejak Presiden Atatürk mensekulerkan negara ini pada tahun 1924 untuk menghapus tradisi Ottoman, perempuan di sektor publik dilarang mengenakan kerudung di tempat kerja.

Selama tahun 1980-an, mahasiswa yang ingin menunjukkan komitmen mereka terhadap Islam mulai mengenakan kerudung dan gamis ke kelas — praktik yang dilarang pada saat itu. Ribuan orang bergabung dengan protes ini dan banyak universitas mencabut larangan tersebut. Masalah pedoman berpakaian terus mempengaruhi budaya seni dan politik. Isu dalam konteks lokal ini sering berarti lebih mengenai sikap politik seorang wanita terhadap sekularisme daripada kesalehannya; banyak perempuan Turki yang patuh memilih untuk tidak mengenakan hijab.

Pondok Galata Sufi
Pondok Galata Sufi

Pada ujung Istiklal Anda akan melihat Galata Mevlevihanesi kecil, pondok sufi Tarekat Mevlevi (Maulawi). Ini adalah salah satu dari beberapa pondok Darwis di kota ini yang masih berfungsi, dengan koleksi tulisan, kaligrafi, dan alat musik Mevlevi. Selanjutnya, Anda akan menemukan toko-toko kecil yang menjual alat-alat tradisional seperti ney, oud, dan kanun, dan lain-lain yang menawarkan kebutuhan untuk hamam (mandi ala Turki): peştamal (handuk seperti sarung) sutra atau katun, tas (mangkuk air berhias) tembaga atau perak dan kese (sarung tangan penggosok).

Jalan kemudian menurun tajam menuju Golden Horn dan Jembatan Galata (Galata Köprüsü), menghubungkan sisi non-muslim yang bersejarah dengan sisi kekaisaran tua Konstantinopel di mana istana dan masjid bersejarah dapat ditemukan. Foto terbaik kota ini bisa diambil dari jembatan tersebut saat Anda menyeberanginya.

Di ujung jembatan adalah Masjid Baru (Yeni Camii) yang menakjubkan, dibangun pada tahun 1665 dengan menggunakan batu-batu dari pulau Rhodes Yunani. Berjalan melalui distrik Eminönü yang bersejarah di sekitarnya menuju Hagia Sophia dan Masjid Biru, Anda akan merasa memasuki periode lain dari sejarah.

Tidaklah sulit untuk melihat kemegahan Masjid Biru di puncak bukit di hadapan Anda selagi Anda berjalan mendekatinya, lengkung-lengkungnya yang elegan dan kubahnya yang tinggi mempesona berlatar langit, legendaris saat bermandikan cahaya setelah maghrib. Tapi hal pertama yang Anda akan lihat adalah enam menara, bukannya empat seperti umumnya. Ini menyebabkan protes publik pada waktu itu dan Sultan dikritik keras karena keangkuhannya; kemegahan semacam itu hanya layak bagi Masjid al Haram. Tidak terpengaruh, Sultan hanya mengatasi hal ini dengan membayar untuk pembangunan menara ketujuh di Mekkah. Legenda mengatakan bahwa dalam pembelaannya, katanya ia hanya memerintahkan pembangunan ‘Altin Minare’ (menara emas) untuk masjid, dan bukan salahnya jika arsiteknya, mungkin sedikit sulit mendengar, keliru memahaminya dengan ‘Alti Minare’ (enam menara).

Saat Anda berjalan ke halaman di sisi barat, Anda mungkin melihat rantai besi menakutkan yang berat menggantung di atas Anda. Selama periode Ottoman, menjadi hak istimewa sultan untuk naik ke halaman. Rantai dipasang untuk memaksa sultan untuk merundukkan kepalanya saat ia memasuki tempat ibadah ini, dalam sikap simbolis kerendahan hati dan kesetaraan.

Istanbul telah menghilangkan semua tirai masjid dalam kampanye baru ‘Mempercantik Masjid untuk Wanita’

Setelah memasuki masjid, Anda akan melihat area perempuan terletak di bagian belakang sepanjang dinding pintu masuk, di belakang area laki-laki tapi tidak bertirai; keindahan spiritual dari masjid adalah untuk pria dan wanita. Bahkan, pada tahun lalu, Istanbul telah menghilangkan semua tirai masjid dalam kampanye baru ‘Mempercantik Masjid untuk Wanita’

Fasilitas wudhu
Sebelum Anda memasuki masjid, Anda dapat melakukan wudhu di fasilitas yang terletak di luar pada kedua sisi halaman.
Masjid al Haram
Juga dikenal sebagai ‘The Grand Mosque/Masjid Agung’ dan ‘The Sacred Mosque/Masjid Suci’, ini adalah masjid terbesar di dunia, dan mengelilingi Ka’bah di Mekkah.
Kampanye ‘Mempercantik Masjid untuk Wanita’
Prakarsa pemerintah ini, yang diterapkan untuk semua masjid di Istanbul yang jumlahnya diperkirakan 3.100 buah, menghilangkan pembatas dan tirai pemisah gender serta fasilitas wudhu yang layak dibangun untuk perempuan, dalam upaya memberikan akses yang lebih setara.
Pintu masuk utama masjid di Eyup
Pintu masuk utama masjid di Eyup

Masjid Biru mendapat nama demikian karena keramik biru yang menakjubkan melapisi interiornya. Lebih dari 20.000 ubin digunakan untuk membuat efek sejuk lembut yang menarik mata sampai ke bagian dalam kubah. Ubin yang lebih rendah memiliki lebih dari 50 desain tulip yang berbeda, dan bila pandangan Anda naik Anda akan melihatpola ubin menjadi lebih rumit, menampilkan melati, buah ara, dan pohon-pohon cemara. Permintaan pasokan ubin luar biasa tinggi pada waktu itu dan ubin-ubin di belakang dinding balkon belakang area muslimah adalah bekas dari harem di Istana Topkapi. Pandanglah lampu gantung besar yang tergantung di langit-langit dan Anda mungkin melihat telur burung unta ditaruh untuk mengusir laba-laba dan jaringnya.Ketinggian bangunan yang tiada tara, penggunaan batu dan detail yang rumit di langit-langit mendorong perasaan keagungan spiritual yang mengingatkan pada katedral Eropa. Bahkan desain masjid menjadi klimaks dari dua abad pembangunan masjid Ottoman dan gereja Bizantium.Sebagai masjid utama di Istanbul selama hampir 500 tahun, Hagia Sophia di sebelahnya menjadi model untuk masjid Ottoman yang dibangun kemudian yang berusaha keras untuk melebihi keindahannya. Nama yang digunakan dalam bahasa Inggris sebenarnya adalah bahasa Yunani untuk ‘Kebijakan Suci’; bahasa Turkinya adalah Aya Sofya.

The-stunning-interior-of-the-Blue-Mosque-sm

Awalnya bangunan ini adalah basilika Ortodoks, kemudian katedral Katolik Roma dan baru kemudian menjadi masjid. Bangunan ini dulunya katedral terbesar di dunia selama hampir seribu tahun dan sangat terkenal karena kubahnya yang sangat besar, yang dianggap sebagai puncak arsitektur Bizantium. Bangunan itu akhirnya disekulerkan pada tahun 1931 selama berdirinya Republik dan dibuka sebagai museum yang luar biasa megah.

Lantai marmer yang asli tidak berkarpet untuk pertama kalinya dalam berabad-abad dan lapisan seni keagamaan di dinding dan kubah dikelupas kembali untuk mengungkapkan setiap periode peribadatan dan iman. Tapi sejarahnya sangat berdarah. Setiap agama berjuang untuk mengklaim bangunan ini sebagai milik mereka, kadang-kadang bahkan membantai penganut agama lain karena mereka beribadah di bangunan itu sendiri. Sekarang, bangunan ini berdiri sebagai pengingat toleransi beragama dan perdamaian yang sarat ornamen.

Dapatkan layanan pijat, digosok dan disikat batu apung sampai Anda yakin cukup bersih untuk pergi ke masjid

Setelah wisata yang serius, saatnya untuk bersantai alaTurki – hamam. Awalnya dirancang untuk memastikan ghusl (mandi besar) menyeluruh sebelum salat Jumat, hamam kini sering dikunjungi oleh Istanbullular sebagai sarana memanjakan diri sesekali, beberapa warga setempat datang dengan rasa ingin tahu dan ketidaktahuan sebagai wisatawan. Akibatnya, hamam sekarang secara luas dibagi menjadi dua kategori: mewah dan fungsional. Perawatannya sama, tapi produk yang digunakan dan arsitektur bangunannya berbeda, sesuai anggaran Anda. Pada intinya, Anda akan bersantai dalam berbagai variasi kamar panas, hangat, dan suam-suam kuku, dan dipijat, digosok dan disikat dengan batu apung sampai cukup bersih untuk pergi ke masjid. Anda mungkin akan terkejut melihat berapa banyak kulit mati yang dihasilkan bahkan oleh orang yang paling bersih dan terawat.

Indahnya Istanbul_Aquila Style
Wanita İstiklal
Apa itu Ghusl?
Ghusl adalah ‘mandi besar’, dibandingkan dengan wudhu (bersuci kecil). Ritual mandi ini mencakup seluruh tubuh. Wudhu mencakup mencuci hanya bagian-bagian tubuh, seperti lengan, wajah dan kaki, sementara ghusl adalah ritual wajib bagi umat Islam setelah hubungan seksual atau menstruasi, misalnya.
Pedoman Berpakaian HamamCatatan tentang ketelanjangan: di daerah gender terpisah, perempuan boleh berjalan-jalan dengan pakaian seminim yang mereka merasa nyaman. Beberapa wanita menutupi tubuh mereka dengan handuk atau pestamal (sarung); para pria selalu menutup aurat mereka dengan pestamal.

Di puncaknya adalah hamam kekaisaran terkenal seperti Cagaloglu Hamami yang indah, dekat Hagia Sophia. Ini adalah hamam terakhir yang dibangun selama Kekaisaran Ottoman. Meskipun pengalamannya cenderung terasa sedikit terburu-buru dan khas turis, uang Anda layak dihabiskan di sini kalaupun hanya bisa melakukannya sekali. Çemberlitaş Hamami juga fantastis. Untuk pengalaman yang lebih lokal, cobalah Büyük Hamami atau Nur Hamami di Beyoğlu dan dekat Caddesi Istiklal.

Dengan perpaduan lama dan baru yang mulus, Istanbul adalah tempat yang fantastis untuk menemukan keseimbangan sendiri antara tradisi agama dan identitas modern. Di mana lagi Anda dapat menikmati masakan Ottoman terbaik di museum seni modern terkemuka, atau shalat di masjid batu kuno yang dikelilingi oleh butik yang menjual mode terbaru? Istanbul mungkin tidak memiliki semua jawaban, tapi kota ini menawarkan ekspresi menarik dari apa artinya menjadi muslim yang tinggal di dunia multikultural ini.

Leave a Reply
<Modest Style