Modest Style

Studi: Stres Ringan Pun Membuat Emosi Lebih Sulit Terkendali

,
Menurut sebuah penelitian baru, stres ringan pun dapat memengaruhi kemampuan Anda dalam mengendalikan emosi.
Menurut sebuah penelitian baru, stres ringan pun dapat memengaruhi kemampuan Anda dalam mengendalikan emosi.

Sebuah penelitian baru mengungkapkan stres ringan pun dapat memengaruhi kemampuan Anda dalam mengendalikan emosi.

Menurut sekelompok ahli saraf dari New York University, penemuan mereka menunjukkan bahwa beberapa terapi untuk melatih pasien supaya dapat mengatur emosi dengan lebih baik — seperti metode yang digunakan dalam mengatasi kegelisahan sosial dan fobia — mungkin tidak berhasil jika diterapkan pada situasi yang penuh tekanan.

‘Kami sudah lama curiga stres bisa merusak kemampuan untuk mengendalikan emosi, tapi inilah penelitian pertama yang mendokumentasikan bagaimana stres ringan pun dapat melemahkan terapi yang dirancang untuk mengatur emosi,’ ujar penulis senior dan profesor psikologi Elizabeth Phelps. ‘Dengan kata lain, apa yang Anda pelajari di klinik bisa jadi tidak serelevan di dunia nyata saat Anda sedang mengalami stres.’

Untuk membantu pasien dalam belajar mengontrol berbagai penyakit emosional, adakalanya para terapis menggunakan teknik restrukturisasi kognitif di mana pasien dianjurkan untuk mengalihkan pikiran atau persepsi mereka terhadap situasi tertentu demi mengubah respons emosi mereka. Teknik ini dapat berupa memfokuskan diri terhadap aspek positif atau yang tidak mengancam dari sebuah peristiwa atau stimulus, yang dalam situasi normal barangkali menimbulkan rasa takut.

Untuk menguji bagaimana teknik-teknik ini bertahan di situasi nyata, kelompok ilmuwan tersebut mengumpulkan 78 relawan, yang kepada mereka diperlihatkan sejumlah foto ular dan laba-laba. Beberapa foto diperlihatkan bersama dengan kejutan listrik yang pada akhirnya menimbulkan rasa takut pada para peserta. Dilaporkan LiveScience, para subjek penelitian ‘melaporkan perasaan takut yang lebih intens saat melihat foto-foto itu, dan tes konduktans (daya hantar listrik) kulit menunjukkan mereka lebih terguncang secara psikologis, dibandingkan dengan saat mereka melihat foto-foto yang tidak dipasangkan dengan arus listrik.’

Berikutnya para peserta penelitian dilatih menggunakan strategi kognitif, sama dengan metode yang diajarkan para terapis dan yang dikenal sebagai terapi perilaku kognitif atau cognitive-behavioral therapy (CBT), supaya bisa belajar mengurangi rasa takut yang diakibatkan dari percobaan ini.

Hari berikutnya, para peserta dibagi dalam dua kelompok: ‘grup stres’ dan ‘grup kontrol’. Pada grup stres, tangan para partisipan direndam dalam air es selama tiga menit — metode standar untuk menciptakan respons stres ringan dalam penelitian-penelitian psikologi. Pada ‘grup kontrol’, tangan para subjek penelitian direndam dalam air suam-suam kuku. Untuk memastikan apakah peserta di grup stres benar-benar mengalami stres, para ilmuwan mengukur tingkat kortisol di air ludah mereka, yang dalam tubuh manusia dikenal sebagai hormon stres. Para partisipan di grup stres menunjukkan peningkatan kortisol yang tinggi setelah percobaan tersebut, sedangkan grup kontrol tidak mengalami perubahan.

Beberapa saat kemudian, kelompok ilmuwan menguji respons rasa takut peserta terhadap foto-foto ular atau laba-laba yang sama dengan tujuan memastikan apakah stres merusak penggunaan teknik kognitif yang diajarkan di hari sebelumnya.

Seperti dugaan, grup kontrol menunjukkan tingkat respons ketakutan yang rendah terhadap gambar-gambar tersebut, menandakan mereka mampu menggunakan metode kognitif yang telah diajarkan. Akan tetapi, meskipun grup stres menerima latihan yang sama, respos ketakutan mereka tidak berkurang, menandakan mereka tidak dapat memanfaatkan teknik kognitif tersebut untuk mengurangi rasa takut di hari kedua.

‘Penggunaan teknik kognitif untuk mengendalikan rasa takut sebelumnya telah terbukti bergantung pada daerah prefrontal cortex (otak bagian depan) yang telah diketahui secara fungsional terganggu oleh stres ringan,’ ujar Phelps.

‘Penemuan ini konsisten dengan anjuran bahwa efek stres ringan pada korteks prefrontal dapat mengurangi kemampuan dalam menggunakan teknik mengendalikan rasa takut yang sebelumnya telah dipelajari.’

Penelitian yang dirilis Senin (26/8) ini diterbitkan pada jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Leave a Reply
<Modest Style