Modest Style

Studi menunjukkan kemalasan bisa jadi penyakit keturunan

,
©holbox/shutterstock.com
©holbox/shutterstock.com

Dapatkah gen menjadi penyebab kurangnya motivasi untuk pergi ke pusat kebugaran? Studi yang baru-baru ini dilakukan di University of Missouri menunjukkan bahwa hal ini mungkin.

Dengan mempelajari sebuah populasi tikus selama lebih dari sepuluh generasi, peneliti menyimpulkan adanya kecenderungan genetik untuk kemalasan, setidaknya pada hewan pengerat. Studi tersebut dilakukan oleh Franck W. Booth dan Michael D. Roberts dari Fakultas Kedokteran Hewan University of Missouri dan hasilnya diterbitkan dalam edisi terbaru Jurnal Fisiologi Amerika.

Sekitar 50 tikus ditempatkan di dalam kandang dengan roda putar. Dalam periode enam hari, peneliti mencatat jumlah waktu yang digunakan setiap tikus untuk berlari tanpa paksaan di dalam roda. Tikus-tikus tersebut kemudian dipisahkan ke dalam dua kelompok pembiakan, sehingga 26 tikus paling aktif hanya berkembang biak dengan sesama mereka, dan begitu juga dengan 26 tikus yang kurang aktif. Proses ini kemudian diulangi selama sepuluh generasi.

Di akhir eksperimen, peneliti melihat bahwa keturunan dari lini “pelari super” berlari tanpa paksaan rata-rata 10 kali lebih lama setiap harinya dibanding dengan keturunan dari lini “pemalas”.

Untuk mengetahui sifat mana yang mendorong tikus yang aktif untuk berolahraga, peneliti mempelajari sejumlah faktor, termasuk komposisi tubuh dan kandungan mitokondria pada sel otot. Namun perbedaan yang sangat signifikan di antara kedua populasi adalah gen mereka.

“Dari lebih dari 17.000 gen berbeda di dalam satu bagian otak, kami mengindetifikasi 36 gen yang mungkin berperan dalam memberi motivasi kegiatan fisik,” simpul Roberts.

Tentu saja, masih perlu diteliti apakah gen tersebut ada pada manusia dan seberapa penting perannya dalam menentukan motivasi kita untuk terlibat dalam kegiatan fisik.

Leave a Reply
<Modest Style