Modest Style

Perpustakaan Ganesa: dari warga Amerika untuk warga Solo

,

Sepasang seniman batik asal Amerika Serikat membuat perpustakaan gratis untuk masyarakat terpinggirkan di kota Surakarta. Khairina Nasution melaporkan.

[Not a valid template]

Ada satu hal yang membuat saya betah tinggal di Solo. Di kota ini ada perpustakaan gratis yang lengkap, mudah diakses, dan nyaman. Pendirinya, pasangan asal Amerika Serikat Michael Mrowka dan Debra Lunn, memang ingin menjadikan Perpustakaan Ganesa, nama tempat itu, sebagai tempat yang menyenangkan.

Minggu sore itu, Perpustakaan Ganesa dipenuhi pengunjung. Di satu sudut ruang baca, sekelompok anak muda tengah berdiskusi seru sambil mengakses internet lewat laptop. Jaringan Wi Fi yang gratis di tempat itu memungkinkan mereka terhubung dengan dunia maya tanpa terbatas waktu.

Di bagian lain ruangan, beberapa remaja membaca buku sambil bersandar di tumpukan bantal hasil kerajinan quilting Debra. Sementara itu, pengunjung lain menikmati tayangan National Geographic di televisi yang selalu menyala.

Di ruangan anak-anak, sejumlah bocah bersorak riang karena berhasil menyusun puzzle. Di ruangan ini terdapat aneka mainan dan buku anak-anak, yang sebagian besar merupakan mainan dan buku impor. Debra dan Michael mengirimnya langsung dari AS.

Perpustakaan Ganesa didirikan akhir 2010. Menurut Michael, ide awal untuk membangun perpustakaan itu justru datang dari Debra, istrinya.

Pada 2004, pasangan seniman quilting batik dan desainer motif batik yang memasarkan karya mereka ke Amerika Serikat itu pertama kali datang ke Solo. Mereka kaget ketika mengetahui di kota ini tidak ada perpustakaan yang layak untuk publik. Padahal menurut Michael, di Lancaster, Ohio, tempat mereka berasal, perpustakaan publik sangat nyaman dan koleksi bukunya lengkap.

Untuk kota dengan populasi 40.000 jiwa, Lancaster memiliki perpustakaan dengan koleksi 250.000 buku dan 50 buah komputer. Sepuluh komputer khusus diperuntukkan bagi anak-anak, 20 komputer untuk remaja, dan 20 komputer untuk dewasa.

Di rumah, Michael dan Debra pun memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi mencapai 4000 buku. “Kami pasangan yang suka membaca. Kami mendapat banyak hal dan menjadi jauh lebih pintar dari kebanyakan orang karena kegemaran kami membaca,” kisah Michael.

Menurut Michael, Debra berasal dari keluarga kurang mampu di AS. Ayahnya hanyalah pekerja pabrik. Namun, sejak kecil Debra sangat suka membaca. Hampir setiap hari Debra pergi ke perpustakaan umum. Berkat kegemarannya membaca, Debra berhasil meraih beasiswa studi di Kenyon College Ohio dan University of Minnesota.

Sebelum membuka perpustakaan, Michael dan Debra awalnya hanya membawakan buku-buku untuk anak-anak pekerja di pabrik batik. Mereka terenyuh melihat pekerja pabrik batik tidak mampu membeli buku dan karenanya tidak dapat mengakses bacaan. Lama-lama, Debra merasa jerih payah mereka akan lebih bermanfaat jika mereka mendirikan perpustakaan.

“Ini sebagai bentuk timbal balik juga untuk pekerja batik, karena batik telah berbuat banyak sekali untuk kami,” ujar Michael.

Saat awal dibuka, banyak tantangan yang mereka hadapi. Michael dan Debra mendengar banyak pendapat yang meyakini bahwa membaca bukanlah kebiasaan bangsa Indonesia. Sejumlah orang yang mereka tanya, bahkan orang dengan tingkat pendidikan baik, menganggap usaha yang dilakukan Michael dan Debra akan sia-sia.

“Saya lalu pergi ke toko buku. Di sana, saya lihat banyak sekali orang membaca, tapi tidak membeli. Itu yang membuat saya yakin bahwa minat baca orang Indonesia ada, tetapi sarananya tidak ada,” ujar Michael lagi.

Mendapat tempat gratis di atas sebuah tempat cuci mobil, Michael dan Debra akhirnya tetap membangun perpustakaan yang mereka rencanakan. Awalnya sebagai uji coba, perpustakaan hanya ditujukan bagi pekerja pabrik batik dan keluarganya. Lama-lama, perpustakaan itu dibuka untuk semua kalangan dengan fokus utama pada kalangan terpinggirkan yang tidak memiliki akses terhadap buku.

“Kalangan berpunya bisa membeli buku. Kami ingin semua orang punya akses yang sama terhadap buku sehingga bisa meningkatkan taraf hidupnya,” katanya lagi.

Ganesa memiliki koleksi 14.000 buku dengan komposisi 70 persen buku berbahasa Indonesia dan 30 persen buku berbahasa Inggris. Lebih dari 70 persen koleksi Ganesa adalah buku non-fiksi, di antaranya tentang sejarah, Islam, bisnis dan marketing, psikologi, biografi, travel, ensiklopedi, olahraga, sains, komunikasi, kesehatan, pendidikan, pertanian, dan seni.

Michael dan Debra baru saja mendatangkan 16.000 buku berbahasa Inggris dan mainan anak-anak yang dipak dalam 298 dus ke Indonesia. Di kampung halamannya, Michael memang membuka donasi untuk mendukung Perpustakaan Ganesa. Di AS, ia juga membuka lembaga swadaya masyarakat (LSM) bernama Ganesa Study Center dan mempekerjakan 10 relawan. Perpustakaan ganesa kini sedang diperbesar berkat sumbangan dari para warga AS tersebut.

Berbeda dengan perpustakaan-perpustakaan lainnya, di Ganesa anggota perpustakaan boleh memesan buku kepada pengelola. Caranya cukup dengan mengisi formulir yang disediakan. Saat berbelanja buku, Ganesa akan memprioritaskan buku yang banyak dipesan. Tentu saja asalkan buku pesanan tersebut tidak berbau kekerasan, seks, dan rasis.

Dengan cara seperti ini, Perpustakaan Ganesa hidup dan terus berkembang. Di Ganesa juga diselenggarakan berbagai kegiatan seperti Ganesa English Speaking, Ganesa Reading Community, dan berbagai kursus keterampilan yang diadakan secara gratis. Semuanya dilakukan oleh anggota untuk anggota.

Cara menjaring anggota pun cukup unik. Calon anggota hanya perlu datang dan membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP). Setelah mengisi formulir, mereka difoto di Ganesa dan mendapat kartu anggota yang langsung jadi. Anggota tidak keluar uang sepeser pun selain kewajiban melaminasi kartu agar tidak rusak.

Kesuksesan Ganesa membuat sejumlah tokoh masyarakat tertarik membuat perpustakaan serupa. Namun, beberapa diantara mereka memiliki konsep yang berbeda dengan Michael. Kebanyakan menginginkan perpustakaan kecil yang tersebar di banyak tempat. Namun, Michael mengaku belum merasa cocok dengan ide tersebut. Bagi Michael, perpustakaan haruslah besar, memiliki banyak buku untuk dipilih sehingga bisa memenuhi minat dan kebutuhan banyak orang, dan berbasis komunitas. Dengan begitu, semakin banyak orang datang ke perpustakaan dan merasa memiliki perpustakaan.

Ke depan, Michael ingin terus mengembangkan Ganesa. Dia ingin perpustakaan itu menjadi model bagi perpustakaan-perpustakaan lain di Indonesia. Dia ingin masyarakat Indonesia bisa merasakan manfaat membaca seperti yang ia dan Debra rasakan.

Leave a Reply
<Modest Style