Modest Style

Perlukah mencantumkan agama pada résumé?

,

Studi baru-baru ini menghasilkan temuan menarik bagi para pencari kerja. Oleh Lina Lewis.

resume
Gambar: iStock

Studi oleh Social Currents tentang “Hubungan Keagamaan dan Diskriminasi Perekrutan” menunjukkan bahwa pelamar kerja yang mencantumkan keyakinan mereka di CV memiliki kemungkinan 26 persen lebih rendah lolos seleksi, berdasarkan laporan The Washington Post.

Meski studi oleh Social Currents ini dilakukan di AS – peneliti dari University of Connecticut mengirimkan 3.200 lamaran palsu untuk 800 pekerjaan melalui situs pencari kerja – maka hasilnya berlaku untuk pasar tenaga kerja manapun.

The Washington Post juga menyebutkan dari semua résumé yang disebar, “pelamar kerja Muslim” memiliki kemungkinan terkecil dihubungi oleh pemberi kerja. Mereka menerima 54 persen lebih sedikit telepon dan 38 persen lebih sedikit surel dibandingkan dengan résumé yang tidak mencantumkan agama.

Meski saya sangat mendukung hak seseorang untuk menjalankan agamanya, saya harus akui saya merasa terkejut dengan hasil studi ini. Bukan pada persentanse kerugian yang disebabkan oleh pencantuman agama, namun pada kenyataan bahwa ada orang yang mencantumkan agama atau keyakinan mereka di résumé.

Banyak perusahaan yang membanggakan diri sebagai pemberi kerja yang adil, karena memberikan kesempatan yang setara pada pencari kerja tanpa melihat ras, agama, usia, atau bahkan difabelitas mereka. Namun pernyataan ini, saya yakin, hanyalah strategi humas untuk menampilkan citra positif perusahaan – pokoknya terlihat adil itu baik secara politis.

Saya ingat pernah melamar posisi paruh waktu sebagai petugas entri data setelah kelulusan. Karena merupakan posisi yang sederhana, iklan lowongan tersebut hanya meminta pelamar menelepon kantornya.

Kurang lebih beginilah percakapan yang terjadi antara saya dan seorang perwakilan perusahaan tersebut:

Saya               : Halo, saya Lina. Saya lihat iklan lowongan kerja Anda di koran. Saya ingin melamar lowongan tersebut.
Personnel     : Oke, berapa usia Anda?
Me                   : 21.
Personnel     : Berapa hari dalam sepekan Anda dapat bekerja?
Me                   : Lima.
Personnel     : Anda mampu berbahasa Mandarin?
Me                   : Tidak.
Personnel     : Anda bukan keturunan Tionghoa?
Me                   : Bukankah papan tik komputer Anda menggunakan alfabet Romawi?
Personnel     : Memang, tetapi semua yang bekerja di sini keturunan Tionghoa. Akan sulit bagi Anda. Maaf.

Diskriminasi hadir di mana-mana dalam berbagai bentuk – atas dasar bahasa, ras, agama, jender, atau orientasi seksual. Jadi, saat melamar pekerjaan, seorang pelamar harus berusaha sebaik mungkin menghilangkan hal-hal yang dapat digunakan sebagai dasar diskriminasi.

Kecuali memang diminta, atau jika pekerjaannya berhubungan dengan keagamaan, saya rasa tidak ada perlunya mencantumkan agama atau keyakinan. Menurut saya yang terbaik yang dapat kita lakukan adalah tampil netral saat melamar pekerjaan. Biarkan kemampuan Anda memberi Anda pekerjaan yang Anda inginkan – itulah intinya.

Saya mengerti bagaimana seorang yang baru lulus, dengan portofolio seadanya, akan mencantumkan segala macam kegiatan ekstra untuk memenuhi résumé. Saat diminta bantuan berkenaan dengan penulisan résumé, biasanya saya mengatakan pada pelamar untuk menghilangkan segala hal yang mengindikasikan hubungan dengan kepercayaan atau ras tertentu dan sebaliknya menambahkan dua referensi.

Hal ini bukan untuk membohongi orang maupun menutupi keyakinan Anda. Bukan juga karena saya malu pada agama saya – sama sekali bukan. Namun masalahnya saya sedang berusaha mendapatkan pekerjaan dan berusaha memiliki kesempatan dipanggil perusahaan. Tidak perlulah mengurangi kesempatan kita mendapat pekerjaan yang diinginkan dengan mencantumkan detil berlebihan.

Leave a Reply
<Modest Style