Modest Style

Pejuang jalanan: Bukan sekadar peminta-minta

,

Tiap manusia memiliki bakat dan potensi, termasuk para tunawisma dan pengamen berikut. Oleh Miranti Cahyaningtyas.

1401 WP pejuang jalanan

Meningkatnya jumlah pengemis di jalanan pada bulan Ramadhan, khususnya di kota-kota besar, merupakan masalah lama yang tak kunjung terselesaikan. Tiap tahun mereka datang dari berbagai daerah, memanfaatkan peluang meraup uang dari orang-orang yang ingin menjadikan puasanya berkah dengan lebih banyak bersedekah.

Sejenak mengamati para “pengemis professional” ini berderet di tepi jalan yang ramai, tampak bahwa banyak dari mereka datang dengan persiapan matang. Mulai dari balutan perban, celana satu kaki hingga ranjang dan kursi roda mereka pergunakan agar dapat memperoleh simpati warga yang melintas.

Reaksi masyarakat terhadap para peminta-minta tentunya beragam. Ada yang tersentuh, ada yang sebenarnya gerah namun tak tega bila tidak memberi, dan ada juga yang gerah sekaligus geram. Bagaimana dengan Anda? Apa reaksi Anda saat melihat peminta-minta di kota Anda?

Akankah reaksi Anda berbeda jika yang Anda temui di jalanan adalah individu-individu macam berikut?

Ted Williams, tunawisma bersuara emas

Hingga tiga tahun lalu, Ted Williams adalah tunawisma mantan pecandu alkohol dan narkoba. Ia biasa berdiri di tepi jalanan di kota Columbus, Ohio, AS sambil memegang potongan kardus bertuliskan “I have a God given gift of voice. I’m an ex-radio announcer who has fallen on a hard time. Please! Any help will be great and appreciated. Thank you and God bless you.” (“Saya memiliki suara emas. Saya mantan penyiar radio yang mendapat musibah. Tolonglah! Bantuan apapun akan sangat dihargai. Terima kasih dan Tuhan memberkati Anda.”).

Pada suatu hari, seorang pengendara mobil menghampirinya dan kemudian, sembari merekam dengan kamera video, meminta Ted untuk memperdengarkan suara emasnya. Tanpa ragu ia menirukan narasi penyiar radio dengan intonasi khas pemandu siaran olah raga radio era 80-an.

Rekaman video yang diunggah ke YouTube tersebut menarik perhatian banyak orang, termasuk dari kalangan media. Ted lalu menerima banyak permintaan wawancara dan tawaran pekerjaan. Kini, ia bekerja sebagai pengisi suara di samping menjadi rekan penulis buku serta pendiri Ted Williams Project, sebuah lembaga non-profit yang menyediakan tempat tinggal bagi para tunawisma.

Philani Dladla, memilih mengulas dan menjual buku bekas daripada mengemis

Meskipun belum keluar dari jeratan kemiskinan seperti Ted, Philani yang juga seorang tunawisma di Afrika Selatan memilih cara yang tidak biasa untuk mengamen. Dengan membawa setumpuk buku, ia mengajak orang yang lewat untuk berdiskusi perihal sastra dan mengulas buku-buku yang bawa, yang dapat mereka beli jika mereka berminat. Dari hasil menjual buku tersebutlah Philani bertahan hidup.

Semua buku-buku yang Philani jual telah khatam ia baca. Kutu buku ini menganggap bahwa, “[M]embaca itu tidak berbahaya. Tidak ada pengetahuan yang berbahaya. [Buku] hanya akan membuat Anda menjadi orang yang lebih baik.”

Philani tinggal di jalanan kota Johannesburg dan dikenal dengan julukan Pavement Bookworm (Kutu Buku Trotoar – harfiah sekali, bukan?). Kecintaan Philani pada buku muncul sejak keberhasilannya membebaskan diri dari ketergantungan narkoba dengan bantuan buku-buku self-help. Kini ia menjadi inspirasi kaum muda di daerahnya untuk menghargai buku.

Grup pengamen dari Cilacap, menghibur dengan alat musik tradisional

Pengalaman pertama saya menyaksikan grup pengamen asal Cilacap ini adalah saat sedang menggunakan fasilitas bis TransJogja terakhir kali saya mengunjungi Yogyakarta. Saat sedang melamun memandangi jalan, telinga saya menangkap hentakan musik menghibur yang dihasilkan oleh harmoni instrumen-instrumen sederhana.

Ciri khas grup ini, selain menggunakan campuran alat musik sederhana, adalah seragam ikat kepala dan busana yang seragam. Yang menyenangkan saat itu adalah melihat keteraturan para pemusik yang hanya berdiri di pinggir trotoar tanpa menghalangi pejalan kaki dan tidak mengganggu lalu lintas. Selain itu, wajah mereka selalu berhias senyum dan tidak pernah memaksa pelintas memberi uang – seperti yang umum dilakukan oleh para peminta-minta jalanan lainnya.

Seorang ibu yang kebetulan searah dengan saya memberitahu bahwa kelompok ini dapat disewa untuk acara-acara perayaan sekolah atau pesta dengan tarif setengah hari atausatu hari penuh. Tarif mereka pun cukup terjangkau, tidak mencapai nilai jutaan rupiah. Penyewa bisa memesan lagu dan permainan mereka pun tidak membosankan. Hebat sekali!

 

Satu kesamaan yang dapat ditemukan dari kisah para pejuang jalanan ini adalah bahwa orang-orang ini tidak sekadar meminta-minta. Mereka menyadari potensi-potensi yang Allah SWT berikan dalam diri mereka dan berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin demi keberlangsungan hidup mereka.

Kalau saja ada lebih banyak pejuang jalanan yang positif seperti mereka…

Leave a Reply
<Modest Style