Modest Style

Kemarahan Lebih Cepat Menyebar di Media Sosial

,

 

Menurut sekelompok ilmuwan, ketika sebuah pesan disampaikan dan disebarluaskan via situs Sina Weibo, ternyata kemarahan lebih populer daripada emosi lainnya. ©AFP PHOTO/Peter PARKS
Menurut sekelompok ilmuwan, ketika sebuah pesan disampaikan dan disebarluaskan via situs Sina Weibo, ternyata kemarahan lebih populer daripada emosi lainnya.
©AFP PHOTO/Peter PARKS

 

Ternyata ucapan khas sekaligus peringatan terakhir Bruce Banner, karakter di buku komik, ‘You won’t like me when I’m angry (Kau tak akan menyukaiku saat aku marah),’ sangat mendekati kenyataan. Menurut penelitian yang dipublikasikan Universitas Beihan di Cina, kemarahan lebih memiliki pengaruh dan karenanya lebih populer daripada emosi lainnya saat sebuah pesan disampaikan dan disebarluaskan via situs jejaring sosial Sina Weibo.

Selama enam bulan penelitian, tim yang dipimpin Rui Fan mengumpulkan 70 juta pesan yang disampaikan melalui Twitter versi Cina tersebut, dan menggunakannya untuk membangun jaringan media sosial dari para pengirim pesan (posters), para penyebar pesan (reposters) dan pengikut (followers) yang berpengaruh.

Jaringan ini menghubungkan para pengguna satu sama lain jika mereka saling berinteraksi secara langsung atau saling menyebarkan pesan masing-masing. Begitu kerangkanya tersusun, para peneliti menganalisis setiap kiriman pesan berdasarkan nilai emosinya dan membaginya menjadi pesan kesedihan, kegembiraan, kemarahan atau muak.

Mereka menemukan bahwa meskipun pesan kegembiraan menimbulkan tingkat respons dan penyebaran yang sama menggembirakannya—halaman muka situs Sina Weibo sendiri pun berisi ajakan untuk bergabung dengan tujuan berbagi kasih sayang dan kebahagiaan—namun pesan kemarahanlah yang menyebar lebih cepat dan lebih lantang melalui jaringan tersebut. Tweet bernada kemarahan rata-rata diikuti oleh tiga tindakan kemarahan yang sama, apakah berupa respons maupun penyebaran, di mana pesan kesedihan dan muak tampaknya memperoleh reaksi penyebaran yang paling rendah.

Para peneliti menegaskan bahwa walaupun temuan ini mengejutkan, dua dari topik paling populer di situs tersebut, yakni politik dalam negeri dan internasional, merupakan subjek yang paling mungkin memicu debat dan perang pendapat. Dan biarpun hasil temuan ini terbatas pada sampel dari 500 juta pengguna Sina Weibo, dibandingkan dengan Twitter pun memang tweet negatif dan pertikaian di dunia mayalah yang sering menjadi berita utama

Begitu seringnya sehingga istilah ‘twitwar’ (perang tweet) telah menjadi frasa yang paling sering digunakan untuk menggambarkan fenomena ini.

Leave a Reply
<Modest Style