Modest Style

Gerombolan berhijab mengepung selebriti YouTube di London

,

Tidak ada yang lebih parah daripada segerombolan hijabi yang bersikap menghebohkan dan memancing perdebatan di antara umat Muslim, tulis Ameera Al Hakawati. Mungkin ini waktunya Muslimah “modern” menyadari bahwa mereka perlu sedikit menahan diri.

hijabi horde 2
Adam Saleh mengunggah foto dirinya di dalam mobil polisi (Gambar: Twitter)

Saya akui saya tidak tahu siapa itu Adam Saleh – bagian dari duo TrueStoryASA – hingga adik perempuan saya meminta saya mengantarnya ke Hyde Park di London pada hari Minggu untuk ‘bertemu’ dengannya.

Ini adalah kali pertama saya melihatnya memiliki ketertarikan pada selebriti pria, maka sebagaimana kakak lainnya, saya ingin mencari tahu siapa lelaki yang membuatnya – dan ribuan gadis Muslim lainnya – berbinar dan bersemu.

Setelah menonton video milik pemuda New York keturunan Yaman dan teman keturunan Bengalnya, Sheikh Akbar, melancarkan lelucon (yang cukup lucu) terhadap warga New York, saya mengerti mengapa gadis-gadis remaja menganggapnya menarik. Menurut saya, lelaki berusia 21 tahun tersebut tampak tidak berbahaya untuk adik saya jika ia ingin menghadiri pertemuan yang diumumkan Adam di akun Twitternya (lagipula, ibu saya menawarkan diri untuk menjaga anak saya dan bayangan sore hari bermandikan matahari di London Tengah terlalu menggiurkan untuk dilewatkan).

Pertemuan tersebut dijadwalkan pada pukul 3 sore, namun adik saya memaksa sampai di lokasi lebih cepat agar kami tidak berada di bagian belakang antrian. Memasuki taman pada pukul 1:45 di Marble Arch, kami melihat sekumpulan gadis muda, kebanyakan dalam balutan hijab, memakan es krim dan menunggu dengan semangat. Beberapa di antaranya telah berada di sana sejak pukul 9:00, karena menyangka pengaturan pertemuan tersebut akan sama dengan pertemuan Dubai. Namun tidak tampak ada antrian, palang pembatas, maupun panggung.

[Not a valid template]

Seiring mendekatnya pukul 3, wilayah yang paling dekat dengan lengkungan mulai terisi. Dan meski ada tidak lebih dari 50 gadis saat kami tiba, kini ada ratusan remaja yang melompat-lompat, semuanya ingin menikahi Adam – atau setidaknya, berfoto dengannya. Bahkan ada beberapa remaja lelaki mengendap-endap di sudut, berusaha bersikap cuek dan tidak tahu.

Saya bertanya-tanya bagaimana caranya kerumunan ini akan dikendalikan – namun, ini kan hanya remaja Muslim. Acara ini bukan pertandingan sepakbola, jadi akan seberapa parah sih?

Setelah beberapa informasi salah, dengan seseorang berteriak dan menunjuk “ADAM!!!” yang menyebabkan gerombolan gadis remaja berlarian ke arah sana – bahkan berlarian menyeberangi jalan dengan lalu lintas bergerak – saya memutuskan untuk meninggalkan adik saya bersama teman-temannya dan bertemu dengannya setelah acara. Saya sudah terlalu tua untuk kehebohan macam ini.

Saat berjalan menjauhi kerumunan, saya melihat Adam di kejauhan dengan dua orang lainnya berjalan menuju lengkungan. Beberapa detik kemudian, ia dilihat oleh penggemar. Yang dapat Anda dengar hanyalah teriakan dan debuman dengan banyaknya wanita yang mengelilinginya, dan hampir menjatuhkannya. Teriakan, dorongan, tarikan, hentakan, dan cakaran menimbulkan histeria yang hampir menakutkan.

Satu penggemar menarik topi bisbolnya sementara yang lain menarik rambutnya, dan itulah akhirnya. Gerombolan penggemar telah benar-benar mengelilinginya. Ia tidak dapat pergi ke mana-mana, suaranya tidak terdengar di antara teriakan hijabi yang histeris. Kerudung-kerudung terlepas dari kepala saat para gadis remaja tersebut mati-matian berusaha mendapatkan sebagian dirinya.

hijabi horde

Saat entah bagaimana ia berhasil melepaskan diri dari gerombolan tersebut, ia mulai memanjat gerbang Marble Arch seperti Spiderman – mungkin untuk keselamatannya pribadi, mungkin agar dapat melihat lebih baik, mungkin agar orang-orang dapat melihatnya dengan jelas. Apapun alasannya, hal tersebut tidak menghentikan para remaja yang dengan sigap mulai memanjat mengikutinya.

Kemudian muncul suara sirine saat mobil polisi mendekat dan membebaskan Adam dari lokasi. Merasa kecewa, para penggemar perlahan membubarkan diri dan menghibur diri dengan berfoto bersama Sheikh Akbar. Dan satu gadis (sekali lagi, mengenakan hijab) dengan baik hati memijat pundak Sheikh saat ia mengambil gambar.

Siapapun yang telah membaca novel saya Desperate in Dubai tahu bahwa saya bukanlah hijabi yang paling baik dan sopan. Namun menyaksikan kejadian ini sebagai penonton cukup membuka mata. Kali terakhir saya melihat kejadian seperti ini adalah di Masjidil Haram dengan banyaknya umat Muslim yang berusaha menyentuh hajar aswad. Kesadaran bahwa para gadis remaja ini adalah Muslimah masa depan tidak hanya menyedihkan, namun juga menyeramkan.

Apa yang terjadi pada kita?

Masalah kita bukan lagi tentang gadis Muslim yang mengenakan busana terbuka. Bukan lagi tentang mengenakan hijab dengan jins ketat (saya melihat seorang hijabi dengan rompi tanpa lengan dan seorang lainnya dengan rok berbelahan samping selutut). Bukan lagi tentang menggunakan terlalu banyak riasan, mendengarkan musik, atau mengenakan kerudung dengan poni rambut masih terlihat. Semuanya bukan lagi tentang tampilan luar, yang terlihat.

Sekarang masalahnya adalah tentang perilaku. Martabat. Harga diri. Sejak kapan seorang anggota masyarakat yang baik dan terhormat boleh mengerumuni seorang lelaki, mencopot topinya, dan menarik rambutnya? Ada masanya citra seorang wanita berhijab dipadankan dengan ketiga hal tersebut. Kini, dalam upaya kita untuk menjadi trendi, dalam keinginan kita untuk menyesuaikan diri, dan karena ketakutan kita untuk terlihat menghakimi, kita hanya duduk dan menyaksikan adik-adik kita berperilaku seperti sekelompok orang gila yang tidak berakhlak.

Saya tidak masalah dengan gadis-gadis Muslim yang ingin bertemu dengan lelaki setengah selebriti. Saya bahkan mengantarkan adik saya. Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah tentang bagaimana mereka bersikap, seperti anak yatim kelaparan dengan sepotong daging terjuntai di hadapan mereka. Apakah saya sudah menyebut tentang berbinar dan bersemu tadi? Sebagian dari mereka memang begitu, terutama beberapa yang saya temui yang sekadar duduk manis (lihat foyo kelompok di galeri). Namun kebanyakan dari mereka bahkan dapat menakuti penggemar sepakbola yang paling fanatis sekalipun.

Tidak berhenti sampai di situ. Twitter dan Instagram dipenuhi dengan topik Adam Saleh. Beberapa gadis remaja (ya, mengenakan hijab) mengumumkan bahwa mereka berhasil mencium Adam dengan kebanggaan jelas-jelasan dan tanpa malu. “Polisi haram” berpesta besar hari itu, sebagian menyamakan Adam dengan Dajjal. Tidak keren sama sekali. Namun sebagian memberi komentar yang mengena – misalnya yang mempertanyakan integritas para Muslimah ini.

Meski begitu, Adam berhasil tetap tenang.

Betapa pun takutnya ia sebelumnya, ia tetap santai dan mampu menyenangkan para penggemarnya, bahkan menuliskan cuit tentang pertemuan dadakan setelah meninggalkan kantor polisi (dengan bijak, cuit ini dihapus tidak lama setelahnya). menurut pihak kepolisian ia tidak ditahan, meski diberi “petunjuk tentang mengadakan acara berskala besar”.

Dan untuk para penggemar? Saya tidak memiliki pemecahan untuk masalah yang benar-benar nyata dalam masyarakat kita ini. Apakah ini terjadi karena kurangnya tokoh panutan di masyarakat kita? Apakah karena tahun 2014 telah memberi terlalu banyak tantangan dan godaan? Apakahini  karena globalisasi dan peningkatan popularitas media sosial? Kakak yang satu ini tertarik ingin mengetahui pendapat Anda.

Leave a Reply
<Modest Style