Cibiran dan hambatan bagi Muslimah di dunia kerja

,

Seorang Muslimah menghadapi tekanan besar untuk tinggal di rumah, sementara media terus-menerus membicarakan soal “menyeimbangkan” kerja dan keluarga. Oleh Amina Jabbar.

WP-Professional-by-Amina-Dreamstime-sm
Gambar: Dreamstime

Saya tumbuh besar dengan seorang ibu yang selalu menekankan agar saya menjadi seorang wanita profesional yang terpelajar. Alasannya ada banyak, termasuk bahwa sebagai seorang profesional saya akan memiliki keleluasaan dan kemandirian saat hal yang tidak diinginkan terjadi. Saya berbagi kisah ini bukan karena kisah ini istimewa, namun karena kisah ini umum terjadi di kalangan banyak Muslimah.

Saya pernah mengeluhkan pada seorang teman bahwa dokter Muslimah tidak memiliki ruang untuk membicarakan isu yang spesifik bagi kita sebagai wanita; isu-isu seperti mengejar cita-cita profesional, menikah, dan membesarkan anak. Sebagai tanggapan, ia mengatakan, “Bukannya para pria Muslim juga menghadapi isu yang sama?”

Tidak, tidak dengan cara yang sama.

Banyak Muslimah dibebani batasan implisit dalam kehidupan profesional mereka. Saya sengaja menggunakan kata “implisit” karena anggapan yang terkubur dalam diskursus di media memberikan pemahaman mendalam tentang tuntutan sosial terhadap Muslimah profesional. Berbagai tuntutan sosial ini seringkali dibebankan pada kita – sebagai Muslimah – dengan cara yang bisa membatasi cita-cita profesional kita.

Bagi sejumlah Muslimah di Barat, terutama mereka yang memilih untuk berhijab, mengejar cita-cita profesional berarti menegosiasikan identitas di dalam konteks Barat. Proses negosiasi tidak selalu dilakukan secara sukarela atau adil, terutama karena media umumnya membingkai wanita yang mengenakan hijab sebagai “orang asing”. Quebec telah mengajukan Piagam Nilai, yang dibicarakan oleh Krista, yang memperlihatkan bagaimana proses “meliyankan” kerudung menjadikan Muslimah rawan mengalami pelecehan.

Ya, pria Muslim mungkin berjanggut, dan karenanya, lebih “terlihat” Muslim. Namun dengan janggut, mereka bisa berlindung di balik alasan pilihan gaya atau mode dan tidak menerima sorotan media yang sama banyaknya. Stereotipe wanita berhijab secara tidak mengejutkan seringkali dikenakan ke seluruh Muslimah: mereka dianggap penurut, patuh, dan lebih tertarik untuk menikah dan memiliki anak.

Jadi, tidak aneh Muslimah mengalami kesulitan mendapat pekerjaan dan memiliki stabilitas ekonomi. Dengan kata lain, pengalaman mendapat harapan kosong berbeda bagi Muslimah.

Selain tekanan sosial, banyak Muslimah yang membuat tuntutan rumah tangga yang tinggi. Meski hati saya sudah tertambat pada Ilmu Penyakit Dalam untuk dalam hal karir, saya mestilah berbohong kalau tidak mengakui bahwa saya sempat ragu memilih residensi ini dibandingkan Kedokteran Keluarga, yang jadwalnya cenderung lebih fleksibel dan tuntutan residensinya agak lebih baik.

Pria Muslim yang saya kenal tidak membicarakan soal mengubah jalur karir mereka berdasarkan tuntutan untuk menikah dan memiliki anak. Namun Muslimah harus “menyeimbangkan” karir dengan keluarga. Konsep “menyeimbangkan” adalah diskursus media yang dikhususkan bagi wanita, bukan hanya Muslimah, yang umumnya digunakan untuk menggambarkan tantangan dalam menegosiasikan kewajiban profesional dan keluarga.

Apakah adil menggunakan istilah “seimbang” jika tekanan utama bagi Muslimah adalah untuk berada di rumah?

Parents Magazine, misalnya, menerbitkan artikel “10 Cara Ibu Dapat Menyeimbangkan Kerja dan Karir.” Bahkan ada laman Wikihow yang memberikan saran bagi wanita untuk mencapai keseimbangan tersebut. (Yang paling saya sukai tentang laman Wikihow ini adalah isinya yang dikhususkan untuk wanita, tanpa tulisan serupa untuk pria.)

Tentunya, diskursus media umum tentang tempat dan ruang wanita di dunia sosial mengedepankan aspek hidup rumah tangga. Bahkan di antara mereka yang mengakui kontribusi hebat yang dilakukan wanita di dunia profesional, dunia sosial menganggap wanita memiliki tanggung jawab untuk membuat keduanya berjalan baik. Sebuah artikel dari Wharton (University of Pennsylvania), misalnya, memberikan contoh empat eksekutif yang berprestasi dalam jabatan profesional tingkat tinggi mereka dan tetap menjaga komitmen mereka pada keluarga.

Tidak mengejutkan, anggapan ini juga menyentuh Muslimah. Dalam sebuah profil Nasya Bahfen di Muslimvillage, seorang dosen pengajar program jurnalisme di RMIT University di Australia, fokusnya terletak pada kemampuannya “melakukan segalanya”: kerja, keluarga, dan menjalani keyakinannya. Sekali lagi, sudat pandang yang digunakan melanggengkan kepercayaan yang tidak lagi dipertanyakan bahwa wanita pekerja bisa dan harus membagi perhatian antara kerja dan keluarga.

Bagi banyak Muslimah, konteks dirkursus profesional termasuk satu bingkai tambahan, meski dengan hasil yang sama. Kewajiban terhadap keluarga seringkali disebut sebagai kewajiban terhadap agama – seakan Muslimah hanya boleh bekerja jika tidak mengganggu kegiatan membesarkan anak dan mengurus rumah tangga. Di OnIslam, artikel ini menggunakan istilah “berakrobat” untuk menggambarkan wanita yang membagi perhatian antara tanggung jawab pekerjaan dan rumah tangga. Artikel yang sama juga membingkai pria memiliki kewajiban terhadap agama untuk menjadi tulang punggung keluarga.

Di dalam artikel Examiner ini, Sadia Raheem melontarkan persyaratan agar wanita bisa bekerja di luar rumah, termasuk aturan seperti “Pekerjaan di luar tidak boleh didahulukan, atau terlalu mempengaruhi kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu.” Pembingkaian kewajiban keagamaan atas rumah tangga bagi wanita sangat menarik, umumnya dalam kerangka bahwa rumah adalah tempat “alami” bagi wanita, sebagai tempat yang terhormat dan mulia.

Padahal bagi banyak Muslimah bekerja merupaka realitas ekonomi pragmatis. Tidak peduli seorang lajang, janda, atau istri, dengan atau tanpa anak, dengan biaya hidup masa kini, hanya sedikit orang dengan keistimewaan tersendiri yang dapat memenuhinya tanpa harus bekerja.

Lalu pertimbangkan lapisan lain dalam diskursus tentang Muslimah profesional, yang termasuk ketidaknyamanan inheren pada wanita mandiri. Dalam artikelnya “The scary independent woman,” Afia membahas cuitan seorang ustadz Indonesia, termasuk pernyataan semacam, “Seorang wanita harus kuat, mandiri, tidak bergantung pada orang lain” | itu pilihan Anda, tidak banyak pria yang menginginkan wanita semenyeramkan itu hehe…”

Judul artikel Jalees Rehman di Altmuslimah, “Apakah pria Muslim takut pada wanita Muslim profesional lajang berusia 30-an?” adalah sebuah jawaban. Jadi, apakah adil menggunakan istilah “seimbang” jika tekanan utama bagi Muslimah adalah untuk berada di rumah?

Pergeseran besar dalam diskursus media bermakna pembagian peran jender yang adil dalam sebuah hubungan yang didasari oleh prinsip keadilan

Artikel ini sama sekali tidak bertujuan untuk menyindir para Muslimah yang “tinggal di rumah.” Yang mereka lakukan adalah sebuah pekerjaan (ya, pekerjaan) yang seringkali tidak dihargai dan dianggap, penuh keringat dan air mata, tanpa waktu berlibur. Namun harapan saya adalah bahwa merekalah yang membuat pilihan tersebut tanpa paksaan dan bahagia karenanya.

Tentu, cara-cara pasangan Muslim heteroseksual menegosiasikan pekerjaan rumah tangga sedang mengalami pergeseran. Terutama di Barat, di mana pendapatan dua orang memang dibutuhkan untuk memiliki kualitas hidup rumah tangga yang pantas, keluarga Muslim harus beradaptasi. Terlepas dari semua itu, diskursus bagi wanita – Muslim atau tidak – berarti masalah perawatan anak dan rumah pada dasarnya adalah tanggung jawab seorang wanita.

Pergeseran nyata dalam diskursus media tentang wanita pekerja, yang benar-benar mengakui pentingnya wanita dalam Islam, bisa bermakna pembagian peran jender yang adil dalam sebuah hubungan yang didasari oleh prinsip keadilan. Tanda-tanda perubahan yang akan datang tersebut hadir secara nyata dalam dunia blog.

Dalam artikel Ramadhan di Zaadialogues misalnya, Zaid membahas anggapan-anggapan yang menyebutkan wanita memiliki kewajiban untuk memenuhi tuntutan lebih untuk mengasuh anak dibandingkan ketaatan dalam beribadah dan mengikuti shalat tarawih. Sebaliknya, ia menantang para pria untuk bercermin atas “ketamakan spiritual” mereka dan menyarankan agar kaum pria menjalankan hubungan mereka dengan cara yang memungkinkan adanya “kesetaraan spiritual.”

Lagipula, jika kita benar-benar percaya surga ada di telapak kaki seorang ibu, maka tidakkah seharusnya setiap pria memohon-mohon untuk mengambil alih jabatan mulia tersebut di rumah?

 

Artikel ini pertama kali terbit di Muslimah Media Watch

Leave a Reply
Aquila Klasik