Modest Style

5 mainan tradisional Indonesia yang “jadul” namun edukatif

,

Aneka permainan yang mendidik ini mulai terkalahkan oleh gadget. Oleh Beta Nisa.

Gambar: Fotolia
Gambar: Fotolia

Banyak orang mengatakan bahwa generasi 80-an dan 90-an adalah generasi emas. Salah satunya dikarenakan masa anak-anak pada tahun-tahun tersebut masih diramaikan oleh berbagai permainan tradisional seru yang kini sedikit banyak telah tergantikan oleh kehadiran tablet dan gadget lainnya.

Meski lebih sederhana, mainan tradisional Indonesia mendorong anak-anak hidup lebih sehat dibandingkan dengan mainan masa kini seperti play station karena membuat anak-anak bergerak. Tak ada pula risiko paparan radiasi dari layar komputer. Selain itu, mainan tradisional juga banyak menyimpan pesan dan manfaat edukatif. Pembelajaran apa saja yang bisa kita peroleh melalui berbagai permainan tradisional?

1. Engklek

Gambar: www.rumahku.com
Gambar: rumahku.com

Permainan yang satu ini merupakan permainan favorit saya sewaktu kecil dulu. Engklek adalah permainan yang mengharuskan anak-anak untuk melompati kotak- kotak dengan tulisan angka di atasnya. Untuk bermain engklek, seseorang diharuskan melemparkan batu kecil, karet penghapus atau penanda lainnya pada nomor tertentu. Ia kemudian harus melompati kotak yang tidak terisi karet penghapus hanya dengan satu kaki. Engklek melatih anak untuk berhitung dan mengenal angka. Permainan tradisional ini juga melatih keseimbangan tubuh, yang berperan penting dalam perkembangan kemampuan sensori integrasi pada anak.

2. Kerajinan jeruk bali

Gambar: promomainan.com
Gambar: promomainan.com

Dulu sewaktu saya masih kecil, ayah saya sering membuatkan mobil-mobilan atau kapal-kapalan yang terbuat dari kulit jeruk Bali. Kreasi semacam ini mengajarkan pada anak-anak untuk mendaur ulang barang bekas atau sampah menjadi sesuatu yang berguna. Berkreasi dengan kulit jeruk Bali juga melatih kreativitas anak untuk bereksplorasi dengan imajinasi yang ia miliki.

3. Gobak sodor

Gambar: gedoor.com
Gambar: gedoor.com

Gobak sodor atau galah asin adalah permainan daerah yang melibatkan dua kelompok beranggotakan sekitar tiga sampai lima orang anak. Permainan khas Indonesia ini cukup menguras tenaga karena mengharuskan tiap kelompok untuk mempertahankan barisannya selagi anggota kelompok lainnya berusaha untuk menerobos melewati garis “pertahanan” lawan.

Selain menyehatkan bagi anak-anak karena mengharuskan anak untuk bergerak dan berlari, gobak sodor juga mengajarkan anak-anak tentang pentingnya kerja sama dalam tim. Dengan bermain dalam kelompok, para pemain berlatih untuk saling bertanggung jawab dan bekerja sama dengan anggota sekelompoknya untuk mencapai tujuan yang sama: mempertahankan “benteng”.

4. Bekel

Gambar: nice.or.id
Gambar: nice.or.id

Ketika anak laki-laki bermain kelereng, maka permainan tradisional favorit yang biasanya dimainkan anak-anak perempuan adalah bekel. Bekel adalah permainan yang menggunakan sebuah bola karet (disebut juga bola bekel) dan biji-bijian. Dalam permainan ini, para pemain ditantang untuk mengambil biji bekel satu per satu selagi bola dilempar dan dipantulkan.

Cara bermain bekel yang mengharuskan anak untuk berkonsentrasi pada gerakan bola sekaligus pada posisi biji bekel amat baik untuk melatih sistem koordinasi motorik. Tangan kanan, tangan kiri dan mata harus bergerak beriringan dalam permainan ini.

5. Congklak

Gambar: rumahku.com
Gambar: rumahku.com

Congklak (dikenal pula dengan berbagai nama lain seperti dakon atau dhakonan) adalah permainan tradisional Indonesia yang saat ini sudah jarang saya lihat dimainkan oleh anak-anak.

Permainan congklak biasanya melibatkan dua pemain yang diharuskan untuk mengumpulkan biji congklak yang tersebar di tiap-tiap cekungan papan congklak sebanyak-banyaknya. Banyaknya biji congklak yang digunakan dalam permainan ini mengajarkan anak untuk berhitung. Anak juga sekaligus belajar mengatur strategi melalui peraturan permainan yang telah ditetapkan.

Leave a Reply
<Modest Style