Film “Mariam” Angkat Ketangguhan Perempuan Suriah

,
(Foto: www.basil-alkhatib.com)
(Foto: www.basil-alkhatib.com)

DAMASKUS, 22 Oktober 2013. Oleh Rim Haddad (AFP) – Sebuah film Suriah yang telah meraih deretan penghargaan bergengsi dalam beberapa bulan terakhir ini hampir gagal ditayangkan. Kepada AFP, sutradaranya berkata hal itu dikarenakan situasi berbahaya yang dihadapi krunya di negara yang porak-poranda akibat perang tersebut.

Mariam karya sutradara Basil al-Khatib memenangi sejumlah penghargaan pada berbagai festival di Kairo, Mesir (13 Oktober), Oran, Aljazair (September) dan kota Dakhla, Maroko, Februari lalu.

Film ini menceritakan kehidupan tiga perempuan bernama Mariam melalui tiga konflik berbeda dalam sejarah Suriah, namun masing-masing mampu mengatasi kengerian perang melalui cinta.

Tetapi, sutradara asal Palestina-Suriah itu mengakui krunya harus menghadapi risiko berupa perang sipil berdarah di Suriah saat berusaha menyelesaikan penggarapan film tersebut.

“Sebagian adegan diambil di beberapa lokasi yang sangat berbahaya, di mana di dekatnya sedang berkecamuk perang,” ujar Khatib.

“Setiap hari kami keluar untuk mengambil gambar dan tidak tahu apakah malamnya kami akan pulang dalam keadaan hidup,” tambahnya.

Walau begitu, dia ingin menjaga supaya film berfokus menyoroti sisi kemanusiaan yang dapat bersinar melalui konflik. Mariam dibuka dengan kalimat berupa puisi karya ayah Khatib: “Kami telah kehilangan segalanya, tetapi kami masih memiliki cinta.”

Kata-kata tersebut menyuarakan kebenaran di negara yang lebih dari 115.000 penduduknya tewas dan jutaan lainnya diungsikan dalam 31 bulan akibat kekejaman perang.

Di film itu, “cinta, kedamaian dan pengampunan menjadi pemenang saat kami mengatasi kesulitan yang kami hadapi,” tutur Khatib.

Salah satu karakter mengumandangkan kalimat tersebut dengan menuturkan, “Perang tidak hanya menunjukkan sisi terburuk manusia, tapi juga sisi terbaik mereka terhadap sesama.”

Khatib mengatakan judul filmnya juga merujuk kepada Perawan Maria, yang dalam literatur agama dijelaskan mengajarkan cinta dan kebaikan.

Menurutnya, Mariam “menyimpulkan situasi di Suriah, di mana penderitaan, luka dan kesengsaraannya ditakdirkan untuk ditanggung para perempuan.”

Film ini menampilkan pahitnya perang serta dampak yang ditimbulkannya pada ketiga tokoh perempuan, yang meski demikian “tidak kehilangan kemampuan mereka untuk mencintai dan berkorban.”

“Film ini merayakan ketangguhan para perempuan Suriah,” ungkap sutradara tersebut.

Kisah karakter Mariam yang pertama terjadi pada 1918, tepat setelah Perang Dunia I berakhir.

“Era tersebut adalah inti sejarah kami. Pada zaman itu, saat kekaisaran Ottoman berakhir dan kekuatan Sekutu datang, masa depan wilayah Suriah masih belum jelas,” ungkap Khatib.

Bagian kedua film menggali dampak perang Arab-Israel pada 1967, “yang menciptakan perpecahan besar” di kawasan tersebut,” tambah Khatib.

Episode ini menampilkan seorang janda yang menolak meninggalkan rumahnya di Quneitra—berbatasan dengan Dataran Tinggi Golan—yang telah diduduki Israel sejak perang meletus.

“Perang ini tidak ditujukan untuk menghancurkan rumah-rumah kami, melainkan jiwa-jiwa kami,” ujar Mariam kedua.

Bagian terakhir film kembali ke masa kini yang penuh pergolakan, di mana tokoh Mariam ketiga menghadapi konflik domestik yang lebih parah.

Setelah ayahnya meninggalkan ibunya sendiri di tempat penampungan, Mariam muda berkata sang ayah: “Saat anak laki-laki memutus hubungan dengan ibunya… dia memutus hubungan dengan kenangannya, negaranya dan semua kemuliaan di dalam dirinya.”

Khatib yakin fokus tentang “unsur manusia” dalam konflik Suriah inilah yang telah membuat filmnya menyita perhatian penonton dan dewan juri di berbagai ajang festival.

Selain seabrek penghargaan dan sukses yang diraih Mariam di sejumlah festival film, film ini pun sedang diputar di kota Alexandria, Mesir.

Leave a Reply
Aquila Klasik