Modest Style

Film Dokumenter Komedi Tampilkan Keberagaman Muslim

,

Sebuah film dokumenter baru yang menampilkan komedian muslim mengeksplorasi lebih dalam dari sekadar bagaimana orang Amerika memandang muslim. Ini adalah studi tentang betapa beragamnya masyarakat muslim, dan betapa mereka dapat begitu ‘berbudaya’. Oleh Amal Awad.

1301-WP-Cultural-by-Amal-sm

Mungkin hanya masalah waktu sebelum hal ini terjadi, tapi di Amerika Utara, The Muslims are Coming! Lebih tepatnya lagi, sekelompok komedian muslim berkeliling AS untuk menampilkan komedi stand-up secara cuma-cuma dan memfilmkan pengalaman tersebut, dipandu oleh dua sutradara: Dean Obeidallah dan Negin Farsad.

Produk akhirnya merupakan studi berdurasi satu setengah jam mengenai komedi dan bagaimana komedi “membaurkan masyarakat”, seperti yang digambarkan Negin. Yang meningkatkan kredibilitas film adalah penampilan dari komedian papan atas seperti Jon Stewart, si super jenaka David Cross, dan Rachel Maddow. Dean adalah komentator produktif di media AS, dan Negin adalah peraih TED Fellowship dan baru-baru ini dinobatkan sebagai salah satu dari 50 Wanita Terlucu oleh Huffington Post – jadi kita tahu bahwa kita berada di tangan para profesional.

Ini adalah film dokumenter yang menghibur, dengan beberapa kejutan. Saya berharap mereka mendapat lebih banyak konfrontasi dari publik dan pertanyaan-pertanyaan umum dan konyol seperti “Apa pendapat Anda tentang tragedi 11 September?” Tapi saya juga tahu bahwa mereka akan menemukan banyak orang yang bersimpati kepada umat Islam karena menyadari bahwa kita sering disorot secara negatif.

Patut diakui, adegan “Hug a Muslim (Peluklah Seorang Muslim)” menjelang akhir film sedikit cengeng tapi juga menyentuh. Bukan hanya karena kebaikan orang asing, tetapi juga kegembiraan dan kelegaan nyata para komedian yang menghadapi beberapa penentang yang serius.

Tapi karena penonton mereka adalah orang-orang yang sedikit atau sama sekali tidak bersentuhan dengan kaum muslim atau, seperti ungkapan Negin, “kelompok ras, agama atau etnis yang berbeda dari yang lain”, sudah pasti ini menjadi tugas yang menantang.

“(Penontonnya) bukanlah orang-orang gila yang penuh kebencian,” tambahnya. “Kami ingin menjangkau orang-orang yang memiliki pertanyaan, kekhawatiran, kecurigaan, dan kami ingin membantu menghilangkan kecurigaan mereka… dan membuktikan betapa buruknya permainan boling kita,” katanya, mengacu pada acara temu sapa yang dilakukan pada tempat yang menjadi stereotip orang Amerika: arena boling.

Untungnya, terlepas dari beberapa momen norak, film ini tak menjadi ajakan basi atau mudah ditebak untuk keharmonisan dan pembauran budaya. Yang juga menambah daya tarik kolaborasi ini, Dean dan Negin bukanlah tipe muslim “tradisional” yang taat, yang bagi saya mungkin merupakan elemen paling menarik dari film dokumenter ini . Seperti sebagian orang Yahudi, ada juga kaum “muslim kultural” (dengan kata lain, “muslim sekuler”) yang mengaku beriman walaupun mereka tidak mempraktikkannya dalam cara tradisional seperti yang diwajibkan.

Dean yakin mereka berhasil menampilkan representasi keberagaman muslim dalam kelompok tersebut.

“Kami memiliki Preacher Moss yang merupakan orang Afrika-Amerika dan melaksanakan shalat lima kali sehari, [dan juga] orang-orang muslim Amerika yang jauh lebih sekuler yang merupakan muslim kultural. Plus kita memiliki setiap jenis di antara keduanya. Kami percaya ini benar-benar mencerminkan spektrum muslim di Amerika.”

Ia percaya bahwa secara keseluruhan, tim mereka mendapat dukungan besar dari komunitas muslim Amerika – dari menyumbangkan dana untuk membuat film sampai mempromosikannya.

“Kami tidak bisa membuat film ini tanpa dukungan masyarakat muslim Amerika. Namun , ada sebagian kecil muslim konservatif yang telah menyuarakan keprihatinannya. Dan terus terang, hal itu kami sudah perkirakan – komunitas muslim tidak seluruhnya setuju pada setiap masalah, seperti komunitas Kristen dan Yahudi di AS tidak setuju pada setiap masalah. Semua komunitas ini memiliki rentang dari kaum liberal sampai konservatif di dalamnya sehingga Anda tidak mungkin dapat mengharapkan kesepakatan universal.”

Namun demikian, keragaman ideologis ini mengorbankan Negin dalam yang mungkin menjadi salah satu momen paling menarik di film ini. Baru saja selesai membawakan penampilannya di mana ia berbicara tentang kehidupan seksnya dan pengalaman menjalani pemeriksaan penyakit menular seksual, Negin berbicara tentang sakit hatinya saat melihat perempuan-perempuan muslim berkerudung meninggalkan kursi penonton pada saat ia membawakan lawakannya.

Kepergian para hijabi yang begitu cepat itu dapat dimengerti – mungkin mereka tidak ingin mendengar lelucon tentang seks secara umum, apalagi di sebuah acara komedi yang ditampilkan oleh umat Islam. Tapi kerapuhan Negin memberi kejutan yang menarik. Akan mudah sekali untuk mengasumsikan bahwa dia merasa nyaman menjauhkan diri dari apa pun – dan siapa pun – yang konservatif.

Selain itu, Negin memberitahu saya bahwa secara umum, komedi dipandang sebagai olahraga kaum pria.

“Ada lebih banyak komedian pria, dan ada kecenderungan bias budaya bahwa laki-laki lebih lucu daripada wanita. Jadi, ketika seorang wanita berjalan ke panggung dia sudah menerima satu serangan terhadap dirinya.”

“Jika elemen itu ditambah dengan ‘pelawak perempuan dengan kulit berwarna’, yah, maka posisi Anda semakin tidak beruntung. Sebagai seorang wanita, saya tahu masyarakat saya sendiri belum tentu menyetujui apa yang saya lakukan. Saya seorang perempuan muslim Iran-Amerika dan seperti kebanyakan tempat di planet Bumi, Iran tidak begitu bagus soal bias gender. Orang keturunan Iran tradisional (atau muslim tradisional pada umumnya) tidak berpikir bahwa seorang wanita seperti saya boleh naik panggung menceritakan lelucon tentang kehidupan kami – terutama kehidupan kami sebagai wanita mandiri yang bekerja, berkencan, dan sebagainya. Hal ini dianggap memalukan.”

Di titik inilah film ini benar-benar menjadi kerangka kerja untuk keragaman kondisi manusia. Seorang wanita muslim di atas panggung berbicara tentang gaya hidupnya yang sangat “non-muslim”, dengan kerapuhannya yang tampak jelas ketika dia merasa sulit untuk menerima bahwa perempuan muslim tradisional tidak akan mendukung gaya hidupnya.

Tapi itulah salah satu dari segelintir momen ketika kita dapat melihat bagaimana muslim “tradisional” dan “kultural” mungkin bertentangan. Islam intinya adalah tentang iman dan ketaatan kepada Allah. Maka tidak mengherankan jika gagasan Islam “kultural” diterima dengan kebingungan. Lagi pula, jika kita sehari-hari tidak mempraktikkan Islam, buat apa mengaku muslim?

Dean mengatakan ia dan Negin merasakan “kebutuhan mendesak untuk melakukan sesuatu untuk melawan apa yang [mereka] anggap sebagai sentimen anti-muslim yang dipupuk oleh sebagian kelompok kanan di Amerika Serikat.” Tapi apa yang mereka sampaikan jauh lebih signifikan.

Film ini adalah potret berbagai kehidupan dengan lensa khas muslim. Sebuah potret yang, ketika kita lihat lebih dekat, tidak sepenuhnya cocok untuk semua orang.

The Muslims are Coming! bisa dibeli atau disewa di iTunes. Kunjungi themuslimsarecoming.com untuk lebih jelasnya.

Leave a Reply
<Modest Style