Islam dalam Film-film Indonesia

,

Najwa Abdullah merekomendasikan tiga film bertema Islami produksi industri film Indonesia yang sedang berkembang.

1101-WP-Islamic-Films-by-Najwa-sm

Industri film Indonesia telah mengalami masa pertumbuhan dan kebangkitan kreatif mengikuti perubahan dalam ranah politik dan generasi baru pembuat film. [i] Indonesia, rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia, beberapa tahun belakangan ini telah menyaksikan produksi banyak film bioskop Islami. Berikut adalah tiga favorit saya:

Ayat-Ayat Cinta, 2008

Menurut the Jakarta Post, film adaptasi dari novel berjudul sama ini “membukukan 3.650.000 penjualan tiket”[ii]. Banyak orang yang menganggap film ini menyebarkan dakwah melalui penggambaran nilai-nilai Islam yang asli.

Kisahnya berpusat pada kehidupan Fahri (Fedi Nuril), orang Indonesia taat beragama yang sedang belajar di Kairo, Mesir, dan empat perempuan yang ditemuinya sepanjang masa tersebut.

Menariknya, meski kisahnya bertempat di Mesir, filmnya sendiri dibuat secara total di Indonesia dan India. Pemandangan alam yang disajikan oleh film ini merupakan hiburan bagi mata. Sentuhan kota Mesir, termasuk lingkungan tempat tinggal dan pasar-pasarnya, begitu realistis. Sutradara Hanung Bramantyo menangkap inti dari novel dan para tokohnya.

Dengan kesuksesan dan pesan toleransi beragama film tersebut, Ayat-Ayat Cinta tetap memiliki pengkritisi tersendiri. Seorang pengamat menyebut bahwa “filmnya telah memancing perdebatan tentang kisah Maria, pemeluk Kristiani yang menjadi mualaf, yang menurut beberapa orang bertentangan dengan pesan yang ingin disampaikan tentang menghargai perbedaan” [iii].

Cin(T)a, 2009

“Mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda jika Tuhan hanya ingin disembah dengan satu cara?”

“Itulah mengapa Tuhan menciptakan cinta, supaya seluruh perbedaan dapat disatukan.”

Daya tarik film kontroversial ini terletak pada dialognya yang tulus, cerdas, dan menggugah. Disutradarai oleh Sammaria Simanjuntak, kisahnya menyoroti salah satu masalah paling sensitif di Indonesia: Hubungan antaragama.

Pertama kali rilis di London pada 2009, Cin(T)a adalah film Indonesia pertama yang secara terbuka membicarakan masalah keagamaan dan bagaimana pernikahan antarbudaya dan antaragama masih tabu dalam masyarakat Indonesia.

Filmnya berpusat pada Annisa (Saira Jihan), perempuan Muslim Jawa, dan Cina (Sunny Soon), lelaki Cina Batak. Setelah bertemu di kampus, keduanya ternyata saling jatuh cinta dan mulai meluangkan waktu bersama. Namun, hubungan mereka diuji oleh meningkatnya konflik dan kesalahpahaman beragama dalam masyarakat.

Cin(T)a mempertanyakan secara reflektif dan kritis nilai-nilai dan norma-norma Islam dan Kristen yang sering disalahartikan sebagai bentuk propaganda. Judulnya sendiri diambil dari kata bahasa Indonesia “cinta” dan “T” di tengahnya menyimbolkan kata “Tuhan”.

Sebagai film produksi rumah seni independen, Cin(T)a tidak memiliki daya tarik sebesar film-film komersil bertema sama, namun dengan jalan cerita kontemplatifnya, saya yakin film ini telah menetapkan posisinya di bioskop Indonesia.

99 Cahaya di Langit Eropa, 2014

Disutradarai oleh Guntur Soeharjanto, bagian pertama film 99 Cahaya di Langit Eropa mendapat sukses besar di tahun 2013. Sekuelnya yang dirilis awal bulan ini diharapkan meraup lebih banyak sukses.

Diadaptasi dari novel berjudul sama, film ini menelusuri sejarah Islam di Eropa melalui perjalanan dan pengalaman pasangan suami istri Muslim Indonesia, Hanum (Jelita “Acha” Septriasa) dan Rangga (Abimana Aryasatya) yang pindah ke Wina, Austria, agar Rangga dapat melanjutkan studinya. Film ini membawa para penonton ke berbagai kota seperti Paris, Istanbul, dan Kordoba.

Kisahnya berkembang saat Hanum bertemu Fatma (Raline Shah), seorang perempuan Turki yang juga tinggal di Wina, yang membuka matanya terhadap warisan dan sejarah Islam di seluruh Eropa. Di sisi lain, Rangga dan teman Pakistannya, Khan (Alex Abbad) berusaha menyelaraskan praktek keyakinan dan keberagamaan mereka dengan lingkungan baru, terutama yang berhubungan dengan makanan halal dan ruang shalat.

Dengan menangkap sikap intoleran yang dihadapi oleh masyarakat imigran minoritas yang nilai dan normanya seringkali bertentangan dengan komunitas setempat, film ini menyentuh kesalahpahaman yang dimiliki banyak orang terhadap Islam. Meski begitu, sejarah menunjukkan bahwa Islam menawarkan solusi damai dan sederhana seperti toleransi dengan filosofi Rahmatan lil ’Alamin di hadapan prasangka semacam itu.


[i] Meaghan Downes, ‘Indonesian Cinema: Dynamic & Evolving’, The Jakarta Post, 12 Jan 2014, di sini.
[ii] ‘Ayat-Ayat Cinta celebrates success’, The Jakarta Post, 14 May 2008, di sini.
[iii] Intan Paramadhita, Passing and Conversion Narratives: Ayat-Ayat Cinta and Muslim Performativity in Contemporary Indonesia’, Asian Cinema, Fall/Winter 2010, 72. Di sini.

Leave a Reply
Aquila Klasik