Modest Style

Hijabers in Love: Antara cinta, Islam dan remaja

,

Bagaimana caranya remaja Muslim mengatasi rasa cinta? Beta Nisa mencari jawabannya dalam film ini.

[Not a valid template]

“Salahkah ketika seorang hijaber jatuh cinta?”

Pertanyaan sederhana namun menggelitik semacam ini merupakan salah satu dari sekian banyak pertanyaan dalam film perdana besutan rumah produksi Andalan Sinema, “Hijabers in Love”. Sekilas dari judulnya, film ini terdengar cukup provokatif, seperti yang diakui oleh sang produser, Ichwan Persada.

“Banyak yang bertanya kepada saya dengan nada miring, kenapa film hijab tapi cinta-cintaan? Saya selalu menjawab, silahkan tonton dulu filmnya baru berkomentar. Karena bahkan tidak ada sama sekali adegan berpacaran di dalam scene film ini.”

Hal ini pun saya buktikan sendiri saat berkesempatan menyaksikan pemutaran film tersebut dalam acara nonton bareng Hijabers in Love bersama 10.000 hijabers pekan lalu. Bertempat di XXI Planet Hollywood, film yang baru akan dirilis pada 4 September mendatang ini tampaknya akan mendapat sambutan yang cukup meriah, jika diukur dari respon dan ekspresi penonton yang terdengar sepanjang pemutaran film berlangsung.

Hijabers in Love bukanlah mengenai dua orang hijabers yang saling mencintai, dan bukan pula tentang seorang hijaber yang sedang berpacaran. Film ini adalah film drama remaja yang menawarkan kisah cinta dengan selingan pesan dakwah. Hijabers in Love bercerita tentang pergolakan dua orang sahabat dalam memahami Islam sekaligus mengenal cinta.

Annisa adalah seorang siswi baru di sebuah SMA di Bandung yang hobi bermain basket dan bergaya sangat tomboi. Jelita adalah seorang siswi berjilbab yang taat beribadah, gemar menulis puisi dan bermain gitar. Di balik perbedaan antara keduanya, mereka mampu menjadi sahabat dekat yang saling mendukung.

Saat menghadiri beberapa presentasi ekstra kulikuler, Annisa jatuh cinta pada seorang siswa senior sekaligus anggota kegiatan rohani Islami (rohis) bernama Ananda. Annisa yang awalnya tidak tertarik mengikuti ajakan Jelita untuk bergabung dalam rohis kini menjadi bersemangat untuk mengikuti organisasi tersebut. Namun sayangnya, Ananda ternyata lebih tertarik pada sosok Jelita yang mengenakan hijab. Hal ini mendorong Annisa untuk mengenakan kerudung hanya untuk menarik perhatian pria idamannya tersebut. Tanpa disangka, ternyata Jelita pun menaruh hati pada Ananda. Konflik ini pun mulai merusak persahabatan antara Jelita dan Annisa.

Cobaan lainnya datang di saat Annisa mendapatkan kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat. Annisa dihantui bayangan akan sulitnya kehidupan orang yang mengenakan hijab di AS. Akankah Annisa mempertahankan jilbabnya yang semula hanya ia kenakan untuk menarik perhatian Ananda?

Sudut pandang remaja Muslim yang menjadi fokus film ini menjadikan film ini sebuah tontonan yang cukup menyegarkan. Pertanyaan menggelitik semacam “Bolehkah seorang hijabers jatuh cinta dan menyatakan cinta?” dan “Dosakah kita ketika jatuh cinta?” merupakan sebagian pertanyaan yang diusahakan untuk dikupas secara ringan dalam film ini.

“Bukan jatuh cinta yang salah, namun seringkali yang salah adalah cara kita menyikapinya”

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini merupakan cerminan permasalahan sehari-hari yang dapat dirasakan oleh siapa saja, termasuk saya sendiri, sehingga saya pun merasa penasaran akan jawaban-jawaban yang akan saya dapatkan dalam film ini.

Selain mengenai romansa jatuh cinta, Hijabers in Love juga menyoroti prinsip berhijab dalam Islam. Melalui berbagai celetukan dari para pemeran, seperti “Bolehkah orang berjilbab memakai celana?” Hijabers in Love mampu memberi edukasi terhadap masyarakat tanpa terkesan menggurui.

Sindiran halus terhadap fenomena-fenomena sehari-hari, seperti penggunaan celana ketat meski berhijab, juga turut diselipkan dalam film berdurasi 1.5 jam ini dalam balutan komedi yang tidak jarang menimbulkan ledakan tawa di antara penonton.

Hijabers in Love melibatkan beberapa pemain muda pendatang baru, seperti Andania Suri yang berperan sebagai Annisa, Shawn Adrian Khulafa sebagai Ananda, dan Vebby Palwinta sebagai Jelita. Nama-nama kondang seperti Nanida Jehanara dan Ridwan Kamil juga turut mengisi film arahan Ario Rubbik selaku sutradara.

Bagi yang penasaran ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sederhana mengenai Islam, cinta dan hijab yang selama ini mungkin hanya digumamkan atau direnungkan, Hijabers in Love merupakan tontonan yang cukup menarik untuk dinanti.

Kunjungi situs resmi Hijabers in Love dan saksikan film ini di bioskop mulai 4 September 2014.

Leave a Reply
<Modest Style