Haji Backpacker: Pencarian jati diri melalui sembilan negara

,

Dalam film ini, perjalanan spiritual seorang backpacker akhirnya bermuara di tanah suci. Oleh Beta Nisa.

[Not a valid template]

“Kalau aku bisa lihat Kamu, mungkin aku bakal gampang percaya. Kalau aku bisa dengar Kamu, mungkin aku bisa dengar kehendak Kamu. Aku sadar, tidak bisa seperti yang aku inginkan. Ini cara Kamu menguji imanku.”

Bertepatan dengan musim haji awal Oktober mendatang, rumah produksi Falcon Pictures mempersembahkan sebuah film inspiratif yang berjudul Haji Backpacker. Berbeda dengan film dakwah lainnya yang semakin banyak bermunculan di industri perfilman Indonesia, Haji Backpacker merupakan film religi yang menggabungkan unsur petualangan dengan kisah spiritual pencarian jati diri.

Haji Backpacker bercerita mengenai kehidupan seorang pemuda yang putus asa, hingga ia ingin melupakan Tuhan karena kekecewaannya. Mada adalah seorang pria berumur 27 tahun yang telah kehilangan ibu serta kekasih yang sangat dicintainya. Di dalam keputusasaannya, Mada memutuskan untuk menjadi seorang backpacker (petualang yang hanya membawa ransel) dan menjalani hidup yang bebas. Ia pun merasa puas secara ragawi setelah menjelajahi berbagai tempat dengan bebas tanpa berharap pada Tuhan, namun lambat laun ia merasa hampa secara spiritual. Siapa sangka, petualangannya melintasi berbagai negara justru membawanya pada berbagai peristiwa yang menyadarkan Mada akan kasih sayang dan kebesaran Allah SWT dan menuntunnya ke rumah suci umat Islam di Mekkah, Saudi Arabia.

Tidak main-main, syuting Haji Backpacker digarap di sembilan negara sekaligus, yaitu Indonesia, Thailand, Vietnam, Cina, India, Tibet, Nepal, Iran, dan Saudi Arabia. Maka tidak mengherankan proses pembuatan film secara kesuluruhan memakan waktu yang cukup lama, yaitu dua tahun.

Selain lokasi syuting yang menyuguhkan berbagai keindahan pelosok dunia, Haji Backpacker juga mengusung nama-nama kondang sebagai pemeran utamanya. Di antaranya adalah Abimana Aryasatya yang berperan sebagai Mada, Dewi Sandra, Laudya Cynthia Bella, dan Laura Basuki. Beberapa pemain senior seperti Ray Sahetapy turut mengisi film yang produseri oleh Frederica ini. Istri almarhum Ustadz Jefri Al Buchori, Pipik Dian Irawati, juga dikabarkan mengambil peran dalam film yang dijadwalkan rilis pada 2 Oktober mendatang.

Selain berperan sebagai salah satu pemeran utama, artis cantik Dewi Sandra juga turut berkontribusi dalam pembuatan original sountrack film ini yang berjudul “Aku pulang”.

Meski bertemakan religi, namun Haji Backpacker tidak disajikan layaknya film religi pada umumnya. Kisah inspiratif dan spiritual yang menjadi jalan cerita utama film tersebut justru dibalut dalam keindahan alam dan keanekaragaman pemandangan yang terdapat dalam negara-negara yang menjadi tempat persinggahan sang pemeran utama. Dengan lokasi syuting yang mencakup sembilan negara, tidak mengherankan pemandangan yang tertuang dalam Haji Backpacker menjadikan film ini sebuah tontonan yang tidak hanya kaya akan pesan moral, namun juga kental akan inspirasi budaya.

Film ini juga memberikan sebuah penggambaran menarik mengenai kehidupan umat Islam di berbagai belahan dunia lain, seperti di Cina dan India. Penggunaan berbagai macam bahasa yang diselipkan dalam berbagai adegan juga turut menambah kekayaan warna film Haji Backpacker.

Haji Backpacker tidak hanya diperuntukkan bagi para penonton yang menginginkan sebuah tontonan penuh nilai moral, namun film ini juga ditujukan bagi penggemar travelling – terutama sesama backpacker. Apalagi, lokasi-lokasi yang dijadikan tempat syuting adalah kawasan-kawasan favorit yang sering dikunjungi oleh para backpacker, seperti kawasan Khao San Road di Thailand.

Cuplikan film Haji Backpacker:

Soundtrack Haji Backpacker:

Ikuti perkembangan film Haji Backpacker melalui Facebook resmi Falcon Pictures.

Leave a Reply
Aquila Klasik