Modest Style

Festival Myanmar batalkan film tentang pertemanan Buddhis dan Muslim

,

Pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi adalah pelindung Human Rights Human Dignity International Film Festival. AFP Photo / Prakash Mathema

YANGON, 18 Juni 2014 (AFP) – Dengan kekhawatiran dapat memancing ketegangan sekte, festival film hak azasi manusia Myanmar menyatakan telah membatalkan pemutaran sebuah film dokumenter tentang pertemanan yang melampaui pemisahan keagamaan semasa kekerasan anti-Muslim yang mematikan.

Penyelenggara Human Rights Human Dignity International Film Festival, yang dalam tahun kedua dan seterusnya mengangkat pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi sebagai salah satu pelindung, menyatakan bahwa mereka telah memutuskan untuk menarik film tersebut setelah kemunculan kritik di media sosial.

“Beberapa pihak mencari-cari alasan untuk menciptakan konflik, kami tidak ingin dijadikan alasan oleh mereka,” ujar pendiri festival Min Htin Ko Ko Gyi tentang film “Open Sky” yang dijadwalkan tayang pada hari Senin dan Selasa di Yangon.

Film dokumenter tersebut mengisahkan tentang pertemanan antara dua wanita, satu seorang Buddhis dan lainnya Muslim, bersamaan dengan pecahnya kerusuhan sekte di kota Meiktila, Myanmar, Maret lalu.

“Film ini berkisah tentang kasih dan kemurahan hati dua wanita yang bertetangga di Meiktila. Film ini mendorong kedamaian dengan menunjukkan sikap saling melindungi mereka meski mereka memiliki agama yang berbeda,” ujar Min Htin Ko Ko Gyi pada AFP.

Namun ia mengatakan “banyaknya rumor dan omongan di media sosial” tentang film ini memaksa pemilik bioskop menyatakan kekhawatiran dan meminta penarikan film, serta menambahkan bahwa ia merasa “sangat menyesal untuk para pembuat film”.

Sekita 50 orang tewas, termasuk banyak anak dari sekolah Islam setempat, dalam dua hari pertumpahan darah yang dilakukan oleh penganut Buddha bersama dengan beberapa biksu yang mengamuk di kota dan menghancurkan wilayah Muslim hingga menjadi puing.

Kelompok hak azasi mengecam pemerintah setempat yang tampak tidak berusaha keras menghentikan penyerangan tersebut.

Sejumlah orang tewas dan puluhan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal akibat kerusuhan anti-Muslim yang terjadi sejak 2012, seiring kebencian parah yang meledak menjadi kekerasan di sebuah negara yang mulai membebaskan diri dari pemerintahan militer totaliter pada 2011.

Hujatan yang berkaitan dengan sekte di media sosial mengiringi pertumpahan darah tersebut. Biksu ekstrimis dituduh menyebarkan kebencian dengan menyerukan pemboikotan usaha Muslim dan larang pernikahan antar keyakinan.

Leave a Reply
<Modest Style