Modest Style

Afghanistan Tandai Hari Perempuan Internasional dengan Festival Film

,
AFGHANISTAN, Herat: Warga Afghanistan mengikuti International Women’s Film Festival yang pertama di Afghanistan, bertempat di kota Herat, 7 Maret 2013. Festival film yang termasuk hal baru di Afghanistan itu dibuka hari ini, tepat menjelang International Women’s Day, dan akan memutar 30 film dari 20 negara, termasuk Afghanistan, Iran, India, Kanada, Korea Selatan, Cina dan Bangladesh.  AFP PHOTO / AREF KARIMI
AFGHANISTAN, Herat: Warga Afghanistan mengikuti International Women’s Film Festival yang pertama di Afghanistan, bertempat di kota Herat, 7 Maret 2013. Festival film yang termasuk hal baru di Afghanistan itu dibuka hari ini, tepat menjelang International Women’s Day, dan akan memutar 30 film dari 20 negara, termasuk Afghanistan, Iran, India, Kanada, Korea Selatan, Cina dan Bangladesh. AFP PHOTO / AREF KARIMI

Tepat menjelang International Women’s Day (Hari Perempuan Internasional), untuk pertama kalinya Afghanistan menyelenggarakan International Women’s Film Festival yang diadakan di sebelah barat kota Herat.

Acara yang berlangsung tanggal 7-9 Maret itu menampilkan 30 film dari 20 negara termasuk Afghanistan, Iran, India, Kanada, Korea Selatan, Cina dan Bangladesh.

Ketua panitia Roya Sadat mengatakan festival tersebut dibuat untuk membina hubungan yang lebih baik antara perempuan Afghan di dalam dan luar negeri, serta bertindak sebagai forum untuk membahas berbagai tantangan yang mereka hadapi.

‘Setelah tamatnya pemerintahan Taliban, situasi di negara kami membaik terutama bagi perempuan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, para perempuan Afghan telah ikut serta dalam industri perfilman, dan minat mereka untuk membuat film meningkat setiap harinya,’ ujar aktris dan sutradara Aqeela Rezayee.

‘Bagi banyak orang, perempuan Afghan yang juga pekerja film adalah sesuatu yang tidak bisa diterima. Saya sendiri yakin bahwa perempuan yang berperan dalam film kemungkinan akan mengubah gambaran perempuan Afghan dalam cara yang positif,’ tambahnya.

Sediq Barmak, sutradara film Osama, pemenang Golden Globe 2004 untuk kategori film asing terbaik, menyebut festival ini sebagai kesempatan untuk mendukung para pembuat film serta menjalin hubungan dengan masyarakat.

Pada 1960-an, 1970-an dan 1980-an, Afghanistan telah memproduksi lusinan film setiap tahunnya. Akan tetapi, industri film mereka hancur oleh perang sipil dan Taliban, yang melarang adanya TV dan film selama mereka berkuasa dari tahun 1996 hingga akhir 2001.

Dengan tidak adanya konten lokal, banyak pembuat film Afghan yang lantas berpaling ke Bollywood untuk memperbaiki kualitas film mereka sebagaimana serial-serial film Turki.

Leave a Reply
<Modest Style