Modest Style

Berpuasa ketika menyusui

,

Bagi beberapa ibu, Ramadhan tidak lengkap tanpa berpuasa. Oleh Sya Taha.

menyusui

Ramadhan adalah bulan sedekah, dan beberapa wanita bersedekah dua kali lebih banyak. Tidak peduli betapa sering kita diberitahu bahwa menyusui memberi “sekian kali lipat pahala bagi sang ibu daripada berpuasa”, atau lebih sulit daripada berpuasa – akan selalu ada wanita menyusui yang berpuasa.

Tindakan pribadi sederhana ini tampaknya dianggap sangat tidak dapat diterima oleh berbagai kalangan. Sang ibu diberitahu bahwa ia membahayakan bayinya, membahayakan kesehatannya, tidak menerima peran kewanitaan yang diberikan Tuhan, dan berusaha berlebihan untuk menjadi seperti pria (seringkali dengan tambahan penekanan bahwa feminisme merusak Islam), dan bersikap sombong karena menolak berkah Tuhan yang mengizinkannya untuk tidak berpuasa.

Saya tidak akan membela atau mencela wanita hamil atau menyusui yang berpuasa, karena terdapat banyak pendapat mazhab yang berbeda-beda, dan kita paling mengenali tubuh kita dan batasan yang dapat ditanggungnya. Namun saya yakin bahwa wanita hamil atau menyusui yang berpuasa lebih memahami tubuh dan kebutuhan tubuhnya daripada orang biasa, dan memberi lebih banyak perhatian soal memberi nutrisi dan hidrasi tubuh di malam hari.

Jika kita terlalu dehidrasi, atau jika bayi kita terlihat tidak cukup banyak bergerak atau minum, atau jika kita tidak menghasilkan cukup ASI untuk makan bayi kita keesokan harinya, kita akan buru-buru membatalkan puasa.

Saya yakin reaksi tidak bersahabat yang diterima wanita ini bermula dari rasa takut. Ketakutan akan misteri menyusui, ketakutan akan kemampuan luar biasa tubuh kita, dan ketakutan bahwa wanita Muslim tidak menganggap kondisi mereka sebagai sebuah kelemahan namun justru kekuatan.

Sebentar, terdengar akrab ya? Bukankah memang itulah alasan kita berpuasa?

Kita berpuasa karena puasa membuat kita merasa lemah. Kita merasa lelah, haus, lapar, bete (halo, pecandu kafein), namun kadar gula rendah dan sakit kepala yang kita rasakan mengingatkan kita bahwa kita hanyalah manusia dengan kebutuhan fisik yang nyata. Kita mungkin beribadah di masjid yang berbeda dan berpuasa di iklim yang berbeda dan untuk jangka waktu yang berbeda, namun bagi kebanyakan kita, sensasi fisik ini hanyalah pengingat bahwa Ramadhan adalah bulan suci yang lebih baik daripada seribu bulan.

Orang-orang yang benar-benar diizinkan tidak berpuasa adalah mereka yang masih sangat kecil dan sangat miskin. Orang lain – pelancong, orang tua, yang sakit, yang haid, yang menyusui – harus mengganti hari-hari yang terlewatkan di lain waktu, memberi makan orang miskin sebagai gantinya, dan/atau membayar fidyah senilai harga makanan sehari-hari (2:184). Jenis pengganti atau besar fidyah berbeda-beda tergantung mazhab yang digunakan.

Aturan fikih terkait puasa saat hamil atau menyusui

Pada dasarnya wanita hamil dan menyusui harus berpuasa, dan hanya diberi pengecualian (rukhsah) jika khawatir dapat membahayakan diri mereka atau anak mereka.

Menurut mazhab Syafi’I, Malik, dan Hambali, seorang ibu hamil atau menyusui yang berusaha berpuasa dan berbuka karena khawatir membahayakan diri sendiri tidak harus memberi makan orang miskin atau membayar fidyah. Namun, ia harus membayar jika khawatir hanya membahayakan anak, karena puasa bukan kewajiban bagi mereka.

Menurut mazhab Hanafi, wanita hamil atau menyusui yang berbuka karena kekhawatiran atas penyakit serius terhadap dirinya dan/atau anaknya tidak diwajibkan membayar apapun.

Satu pendapat minoritas menyatakan bahwa mereka hanya diwajibkan mengganti puasa yang terlewat di lain waktu, sementara pendapat minoritas lainnya juga mewajibkan mereka untuk memberi makan pada orang miskin.

Menarik juga membayangkan bahwa di lain tempat dan waktu keluarga yang mampu membayar ibu susu tidak perlu memikirkan masalah ini sama sekali – para ibu tinggal berpuasa saja karena hak anaknya akan ASI sudah terpenuhi.

Saya bisa saja menyusui sambil berpuasa, namun siang hari di sini terlalu panjang, bayi saya yang berusia lima bulan masih sangat bergantung pada saya masalah susu (meski ia agak mengurangi jadwal minumnya – karena menghormati Ramadhan kah?), dan saya mudah merasa haus.

Seperti yang diperkirakan, saat saya membahas ini dengan beberapa kenalan, mereka mulai mengingatkan saya bahwa mengurus anak dan menyusui adalah ibadah, dan membagikan mim bernada serupa dari akun media sosial ulama Islam. Saya tahu mereka berniat baik, namun perlakuan mereka sama mengganggunya dengan saat Anda diberitahu tidak perlu ke masjid karena rumah adalah tempat shalat yang lebih baik bagi wanita, terutama jika mereka memiliki anak (bahasan lain untuk lain waktu).

Sebaliknya, saya bersikap lebih proaktif dalam menyambut Ramadhan. Saya sengaja memasang poster di jendela (memperlihatkan bahwa Anda adalah seorang Muslim di negara ini terasa seperti menantang bahaya), membeli sekotak besar kurma, mengurangi cemilan, dan setelah suami selesai memasak untuk berbuka, kami makan bersama. Kami juga membuat janji berbuka bersama dengan teman-teman berbeda. Karena tarawih di masjid tidak memungkinkan di tempat kami tahun ini, saya berharap dapat mengunjungi masjid setempat setidaknya sekali saat saya kembali ke Singapura di akhir Ramadhan.

Menjadi ibu itu sulit. Mengasuh anak saat Anda tidak bertenaga lebih sulit lagi. Saya sangat menghormati wanita yang mencari pemenuhan spiritual saat sedang mengorbankan diri mereka. Semoga Tuhan memberi kita kesehatan dan kekuatan melimpah agar mampu merawat anak-anak kita. Ramadhan karim!

Leave a Reply
<Modest Style