Modest Style

Menjaga semangat Ramadhan setelah Ramadhan usai

,

Semangat Ramadhan tidak harus sirna seiring dengan berakhirnya bulan ini. Tulis Najwa Abdullah.

WP Menjaga semangat Ramadhan
Gambar: iStock

Di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, euforia Lebaran semakin terasa. Banyak di antara kita yang senang dengan mendekatnya hari kemenangan, sekaligus juga sedih karena segala kebaikan dan kebersamaan selama bulan suci juga akan berakhir.

Siapa yang tidak gembira dengan datangnya Ramadhan? Lebih dari sekedar berlakunya kewajiban berpuasa, Ramadhan begitu dirindukan segala keindahannya: indahnya semangat kebersamaan, semangat berbagi dan semangat memperbaiki akhlak. Namun, seiring dengan munculnya bulan baru Syawal nanti, haruskah semua semangat Ramadhan itu sirna begitu saja? Apakah kita kemudian menjadi manusia yang melulu memerlukan bulan Ramadhan untuk menjadi lebih baik?

Walau suasana di luar Ramadhan pasti terasa berbeda, sebenarnya ada beberapa cara untuk menghidupkan kembali semangat Ramadhan di bulan-bulan lain. Berikut beberapa di antaranya:

1. Membiasakan diri berpuasa

Puasa merupakan satu hal yang membuat bulan Ramadhan terasa berbeda dengan bulan-bulan lain. Keutamaan berpuasa tidak diragukan lagi manfaatnya bagi spiritualitas dan kesehatan, jadi mengapa tak jadikan puasa sebagai kegiatan rutin di sisa tahun?

Ada banyak jenis puasa sunnah yang bisa dilaksanakan di bulan selain Ramadhan, di antaranya puasa Syawal, puasa Arafah, puasa Muharram dan puasa Senin-Kamis. Dengan membiasakan diri untuk berpuasa, tentu puasa Ramadhan tidak lagi terasa berat nantinya.

Selain itu, di samping diganjar dengan pahala, berpuasa juga menerbitkan kebahagiaan pada hati orang-orang yang melaksanakannya. Rasulullah diriwayatkan berkata, “Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.[i]

2. Menjaga perkataan

Seringkali perjuangan terberat kita di saat berpuasa bukanlah seputar menahan lapar dan dahaga, melainkan seputar menjaga perkataan dan mengendalikan emosi.

Dalam menjaga relasi antar-manusia (hablum minannaas), menjaga perkataan dan mengendalikan emosi juga penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar kita terhindar dari konflik dan kesalahpahaman yang tak seharusnya terjadi. Oleh karena itu, mari kita tetap berusaha untuk menjadi Muslim yang bertutur kata dan berperangai baik setiap hari di luar Ramadhan. Hindari bergosip, berkata-kata kasar, mengeluarkan suara bernada tinggi atau menyakiti hati keluarga dan teman-teman.

Mulailah dari hal-hal yang paling mudah seperti menahan diri untuk tidak mengungkapkan kekesalan di media sosial yang dapat memicu keributan, atau tidak menyebarkan gosip.

3. Banyak bersedekah

Bersedekah dapat dilakukan dengan berbagai cara, bahkan yang sangat sederhana seperti tersenyum. Di tengah kesibukan kita, sempatkan juga untuk memberikan donasi kepada panti asuhan, organisasi sosial atau urun tangan dalam kegiatan sukarela.

Di ibukota, ada banyak aktivitas berbasis relawan seperti mengajar anak-anak jalanan, membagikan nasi bungkus dan menyumbang buku. Banyak bersedekah dan membantu orang lain juga dapat memperbaiki kualitas hidup dan membawa kebahagiaan ke dalam hati kita.

4. Menjaga kedekatan dengan keluarga

Berkumpul bersama sanak saudara di bulan Ramadhan dan hari raya merupakan momen yang sangat istimewa. Seusai musim mudik Lebaran nanti, tetap jaga hubungan erat dengan keluarga.

Teknologi komunikasi seperti Whatsapp, Line dan Skype membuat komunikasi lebih mudah. Mengapa tidak kita manfaatkan produk-produk teknologi ini untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan orang tua dan sanak saudara yang nun jauh di sana? Setidaknya seminggu sekali, cobalah untuk berkomunikasi dengan orang tua di waktu luang atau sesekali mengirimkan hadiah untuk mereka lewat pos. Untuk ayah dan ibu yang membesarkan kita, tidak perlu momen spesial untuk menunjukkan rasa kasih sayang dan peduli kita, bukan?

5. Meningkatkan kualitas ibadah

Di sela-sela kesibukan, ada banyak cara untuk meningkatkan iman dan spiritualitas. Di tengah kemacetan ibukota, cobalah untuk membaca artikel-artikel Islami di ponsel pintar atau mendengarkan murottal Al-Qur’an melalui MP3 player atau Ipod. Memutar lagu-lagu rohani juga bisa menjadi pilihan apabila sedang ingin bersantai.

Biasakan diri untuk menyegerakan solat dan berdoa sejenak setelahnya. Kenikmatan dunia memang membuai, namun tidak ada yang lebih nikmat dari jiwa yang senantiasa mengingat Allah, seperti disebutkan dalam surat Ar-Ra’ad ayat28:

.(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

________________________________________

[i] Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Abu Sa’id, di Sahih Muslim, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style