Modest Style

Menjaga hati dan pikiran

,

Mungkin belakangan kita lupa bahwa puasa bukan sekadar hanya menahan lapar dan haus. Oleh Beta Nisa.

1004 WP Menjaga hati (iStock)
Gambar: iStock

Bulan Ramadhan bukan hanya sekadar tentang menahan rasa lapar dan haus, namun juga tentang menjaga hati dan pikiran. Sebagaimana disunnahkan oleh Rasul [i], kita dianjurkan untuk menjaga hati dan pikiran dan menjauhi berbagai perkataan kotor dan tindakan buruk saat sedang berpuasa. Bagaimana caranya? Berikut adalah beberapa hal mendasar yang dapat dilakukan untuk menjaga hati dan pikiran dari hal-hal yang mengurangi pahala puasa kita.

1. Bersyukur

Salah satu cara untuk menjaga hati dan pikiran adalah dengan senantiasa mengingat pemberian Allah dan mensyukurinya. Hati dan pikiran akan dijauhi dari perasaan iri dan dengki apabila kita mensyukuri segala nikmat yang telah Ia berikan dan tidak ada habisnya. Kesehatan, negeri yang aman, waktu, ketenangan hati, keluarga… Panjang sekali bukan, daftar nikmat pemberian Allah?

“Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman)

2. Senantiasa mengingat Allah

Selain dengan bersyukur, menjaga hati dan pikiran juga dapat dilakukan dengan mengingat Allah dalam segala aspek kehidupan. Ingatlah bahwa segala sesuatu hendaknya dilakukan hanya karena Allah semata, lillahita’ala. Dengan selalu mengingat-Nya, tindakan dan ucapan kita akan jauh lebih terjaga dan terhindar dari hal-hal yang merugikan kita secara spiritual. Salah satu cara untuk mengingat Allah adalah dengan berdoa, baik di saat susah maupun senang.

3. Husnudzon (berbaik sangka)

Curiga dan berburuk sangka menguras energi kita. Saat kita mencurigai hal-hal yang terjadi di sekitar kita, hidup kita pun menjadi tidak tenang dan tidak terasa nikmatnya. Jagalah hati dan pikiran dengan berbaik sangka pada sesama manusia dan juga kepada Allah.

Husnudzon dapat digambarkan sebagai memilih untuk melihat sebuah gelas setengah penuh dibandingkan setengah kosong. Apabila seseorang tertimpa musibah, ia dapat memilih antara dua sikap. Ia dapat berburuk sangka atas kesialannya sebagai kehilangan yang sangat besar, atau berbaik sangka bahwa ia sedang diuji menjadi pribadi yang lebih baik dan akan mendapatkan rizki pengganti yang lebih besar.

4. Ikhlas

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” demikian bunyi sebagian surat Al-Ikhlas. Mengapa surat tersebut dinamai Al-Ikhlas meski tidak tersebut kata ikhlas satu kali pun dalam surat ini? Karena justru inilah yang disebut dengan keikhlasan: menerima dan menyadari bahwa segala sesuatu hanya bergantung kepada-Nya.

Ikhlas merupakan salah satu kunci hati dan pikiran menjadi tenang, karena dengan keikhlasan, kita meyakini bahwa segala sesuatu terjadi hanya karena izin-Nya.

5. Tawadhu’

Seperti ilmu padi: kian berisi, kian merunduk. Inilah yang disebut dengan tawadhu’ atau rendah hati. Mengapa tawadhu’ penting dalam menjaga hati dan pikiran? Dengan bersikap rendah hati, hati dan pikiran akan terhindar dari sifat yang merusak seperti sombong, karena kita teringat bahwa sebagai ciptaan-Nya, kita semua sama dan setara, dan tidak ada yang lebih baik dari-Nya.

Sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan mulia ini memang terkadang terasa sulit untuk diterapkan dan lebih mudah diucapkan. Namun,mari kita selalu berusaha sedikit demi sedikit memiliki karakter-karakter di atas, terlebih di bulan Ramadhan ini.

________________________________________

[i] Diriwayatkan oleh Abu Huraihah, di Sahih Bukhari, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style