Modest Style

10 masjid indah yang mungkin tidak Anda ketahui

,

Dengan arsitektur mengagumkan dan sejarah penting, masjid-masjid menakjubkan berikut menguarkan keragaman keyakinan Islam. Mana saja yang Anda kenali? Oleh Laila Achmaddan Patricea Chow-Capodieci.

Jika masyarakat Muslim adalah satu keluarga, maka masjidlah ibunya. Sebagai pusat dari kehidupan Muslim, masjid memberikan ruang untuk beribadah, menyelesaikan masalah, dan belajar.

Kaum Moghul memperkenalkan kubah masjid bulat yang sering lihat sekarang. Namun di berbagai belahan dunia lain, masjid tampil beda, dan dibangun dengan metode serta material yang tua. Dengan kata lain, masjid-masjid tersebut berdiri sebagai saksi kekayaan sejarah kaum, wilayah, dan masa lalu mereka.

AFRIKA

Masjid Agung Djenné

Mali, Afrika Barat

1
Masjid Agung Djenné oleh Musa Chowdhury

Di kota kuno Djenné berdiri bangunan bata lumpur terbesar di dunia yang, terlepas dari pengaruh Islamnya, juga dianggap sebagai pencapaian terhebat gaya arsitektur Sudano-Sahelia – Masjid Agung Djenné.

Desain asli masjid ini meniru sebuah istana, yang dibangun pada tahun 1240. Namun, pada tahun 1843, penakluk Djenné, Amadou Lobbo, memerintahkan masjid tersebut untuk dihancurkan karena terlalu mewah. Pengerjaan Masjid Agung yang sekarang bermula pada tahun 1906 dan berakhir antara tahun 1907 dan 1909.

Setiap musim semi Djenné merayakan festival ‘Crepissage’ di mana para penduduk desa berkumpul untuk memplester ulang masjid setempat. Mereka mempersiapkan ‘banco’ (lumpur dicampur dengan sekam) berpekan-pekan sebelumnya, para anak lelaki di desa mengaduk campuran tersebut dengan kaki telanjang. Keriaan begitu terasa pada saat-saat ini. Pada hari terakhir persiapan, langit dipenuhi dengan musik, nyanyian, dan hentakan gendang – sebuah pesta spiritual bagi telinga. Sebuah siulan memulai tugas, diikuti oleh raungan penduduk. Setiap orang terlibat dan memiliki peran tersendiri. Ketekunan dan semangat kekeluargaan luar biasa. Kumpulan wanita muda menyalurkan ember-ember air, kelompok-kelompok pembawa campuran lumpur berjalan menuju lapangan masjid, dan anak-anak lelaki penuh lumpur berlompatan ke sana ke mari, mencampur adukkan pekerjaan dengan permainan. – Pewarta foto Musa Chowdhury

Meski mungkin tampak seakan berasal dari zaman purbakala, Masjid Agung Djenné sebenarnya merupakan perwujudan kejeniusan struktur. Dinding-dindingnya terbuat dari bata lumpur yang terbakar matahari yang direkatkan dengan semen lumpur dan dilapisi dengan lebih banyak lumpur – plester lumpur. Dinding-dindingnya menjaga masjid dari perubahan panas ekstrim sepanjang pagi dan malam. Ikatan batang-batang palem yang merupakan bagian dari strukturnya menjaga bangunan dari keretakan yang diakibatkan oleh perubahan suhu yang terus terjadi sementara talang keramik mengalirkan air dari atap dan menjauh dari dinding.

Ketiga menara masjid menutupi anak tangga spiral menuju ke atap yang berujung di puncak menara dan ditutupi sebuah telur burung unta. Bersama dengan keseluruhan kota Djenné, Masjid Agung Djenné dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1988.

Masjid Larabanga

Larabanga, Ghana

IslBG

Masjid tertua di Ghana, yang dipercayai dibangun oleh kaum Moor pada abad ke-13, meski beberapa kalangan meyakini pada abad ke-15.

Masjid Larabanga terbuat dari lumpur dan ranting dan bagian luarnya seakan berubah warna sepanjang hari, mulai dari warna putih hingga perunggu keemasan. Komponen pembuatannya mengharuskan Masjid Larabanga direnovasi setelah hujan deras.

Masjid ini memiliki empat pintu masuk, masing-masing untuk kepala desa, pria, wanita, dan muazin. Cetakan Qur’an kuno yang berasal dari abad ke-17, yang hampir setua masjid ini, sebelumnya diletakkan di dalam masjid. Kini, seorang pengurus menjaga Qur’an tersebut di desa, dan dibawa keluar hanya untuk pembacaan pada shalat-shalat istimewa setiap tahunnya, seperti pada Festival Api saat perayaan Tahun Baru Islam. Orang-orang berdatangan ke Larabanga dari jauh untuk menghadiri pembacaan Qur’an tersebut di luar masjid tua ini.

Masjid Larabang dinobatkan sebagai situs Warisan Dunia pada tahun 2001 dan terdafta dalam Daftar 100 Situs Paling Terancam Punah oleh Yayasan Monumen Dunia.

Menurut legenda, seorang pedangang bernama Ayuba menemukan sebuah batu mistis di luar perbatasan Larabanga. Untuk memutuskan akan tidur di mana malam itu, ia memutuskan untuk melemparkan tombaknya saat berdiri di samping batu, dan tidur di mana pun tombaknya menancap. Saat tidur di tempat itu, ia bermimpi membangun sebuah masjid, dan saat terbangun, pondasi masjid tersebut telah muncul secara ajaib. Melihat hal ini sebagai pertanda dari Allah, ia melengkapi pembangunan masjid dan bermukim di Larabanga. Kabarnya ia dimakamkan di bawah pohon baobab besar yang terletak di samping masjid.

Masjid Koutoubia

Marrakesh, Maroko

3
Foto: Jonathan Gray

Masjid terbesar di Marrakesh ini dibangun tak lama setelah Dinasti Almohad menaklukkan kota tersebut pada tahun 1150. Situs ini dulunya dikelilingi oleh penjual manuskrip dan nama masjidnya diambil dari kata bahasa Arab untuk ‘buku’: kutub.

Dinasti Almohad merupakan dinasti Muslim abad kedua belas.

Meski aula shalatnya dapat menampung lebih dari 25.000 jemaah, Masjid Koutoubia sebenarnya terkenal karena menaranya yang menakjubkan, yang merupakan menara tertua dari ketiga menara Almohad yang tersisa di dunia – dua lainnya adalah di Menara Hassan di Rabat, Maroko dan di La Giralda di Sevilla, Spanyol.

Dalam gaya klasik Almohad, menara dihias dengan empat bola tembaga. Kabarnya bola-bola tersebut awalnya hanya ada tiga, dan terbuat dari emas murni. Bola keempat hadir karena istri Emir Yacoub el-Mansour – Emir yang membangun Masjid Koutoubia – mencairkan perhiasan emasnya untuk membentuk satu bola sebagai perwujudan rasa sesalnya karena berbuka puasa terlalu cepat di bulan Ramadhan.

Berdiri dengan gagahnya mencapai ketinggian 69 meter, dan dengan lebar 12,8 meter, desain menara tampak mengagumkan dengan benteng bergerigi atau meruncing yang dilapisi bola-bola tembaga dengan ukuran-ukuran mengecil, pola yang terperinci di setiap sudutnya, dan berbagai motif rumit lainnya. Enam ruangan yang saling bertumpukan dapat ditemukan di dalam menara, dan disekelilingnya terdapat jalan yang dapat dilalui muazin dengan berkuda menuju puncak.

Masjid Agung Touba

Touba, Senegal

Hampir tidak mungkin membicarakan Masjid Agung Touba tanpa menceritakan kisah epic Syekh Ahmadu Bàmba Mbàkke, pembangun masjid ini sekaligus pendiri persaudara Sufi Mouride, salah satu perkumpulan Sufi terbesar dan terkemuka di Senegal.

4
Foto: Jay Galbraith

Bàmba adalah seorang pekerja keras, dan pengikutnya terkenal karena kerajinan mereka. Penjajah Perancis pada saat itu merasa terancma oleh pengaruh Bàmba yang kian kuat, maka mereka menjatuhkan hukuman pengasingan untuknya dari tahun 1895 hingga 1907. Pengasingan ini menjadi senjata makan tuan, karena mendorong munculnya rumor liar tentang ketahanan hidup Bàmba yang ajaib terlepas dari segala siskaan dan hukuman, yang berujung pada popularitas Bàmba yang semakin meningkat.

Pihak Perancis kemudia menyadari bahwa Bàmba tidak berniat jahat, makan gerakannya diizinkan untuk berkembang. Di sinilah sejarah Masjid Raya Touba berawal: Bàmba mendapat penglihatan tentang hutan, yang menyampaikan misinya untuk membangun kota suci di tempat itu. Pada tahun 1926, dengan seizing pihak Perancis, ia mulai membangun sebuah kota di situs tersebut, sebuah kota bernama Touba. Bàmba dimakamkan di masjid ini setelah meninggal pada tahun 1927.

ASIA

Masjid Agung Xi’an

Provinsi Shaanxi, Tiongkok

Pembangunan Masjid Agung Xi’an dimulai pada tahun 742 M, pada masa Dinasti Tang (618-907). Berbagai penambahan dibuat pada masa Song (960-1279), Yuan (1271-1638), Ming (1368-1644), dan Qing (1644-1911), yang menjadikan masjid ini sebuah struktur kuno yang mewakili banyak periode waktu penting – sebuah keunikan tersendiri.

5
Foto: Musa Chowdhury

Keunikan lain masjid ini terletak pada arsitekturnya yang mengkombinasi elemen Tionghoa tradisional dengan kesenian Islami, dan dibangun seperi sebuah kuil Tionghoa, yang menjelaskan ketiadaan kubah maupun menara. Sentuhan kesenian Islami juga dapat ditemukan, kebanyakan dalam bentuk kaligrafi dan dekorasi Arab. Sebagai pengganti menara terdapat Menara Pengawasan, pagoda setinggi dua lantai yang memiliki fungsi sama.

Menempati sebuah wilayah seluas 12.000 meter pesegi, Masjid Agung Xi’an terbagi ke dalam empat lapangan yang berisi harta karun arsitektural yang mengagumkan seperti sebuah lengkungan kayu abad ke-17 yang rumit ; sebuah Qur’an tulisan tangan kuno dari dinasti Ming; kalender batu yang disebut ‘Tablet Bulan’; dan di tengah halaman kedua berdiri sebuah lengkung batu dengan dua tugu – atau tiang – di kedua sisi, bertuliskan kaligrafi karya seniman kuno ternama. Halaman keempat memiliki paviliun utama, yang berfungsi sebagai Aula Shalat yang dapat dengan mudah menampung 1.000 jemaah.

Masjid Agung Xi’an merupakan satu-satunya masjid di negara tersebut yang menerima pengunjung, meski non-Muslim tidak diperkenankan memasuki Aula Shalat. Masjid ini dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Islami UNESCO pada tahun 1985.

Masjid Badshahi

Lahore, Pakistan

6
Foto: Richard Ishida

Juga dikenal sebagai Masjid Kaisar, Masjid Badshahi dibangun pada tahun 1673 oleh Kaisar Moghul, Aurangzeb. Dengan kapasitas hingga lebih dari 55.000 jemaah, Badshahi merupakan masjid kedua terbesar di Pakistan dan Asia Tenggara, setelah Masjid Faisal di Islamabad. Masjid ini berdiri megah di seberang Benteng Lahore, memperlihatkan kedudukan pentingnya dalam Kekaisaran Moghul (1526-1858).

Setiap sudut struktur kolosal ini ditandai oleh sebuah menara yang terbuat dari batu pasir dengan kubah marmer putih di atasnya. Keempat menara masjid masing-masing tingginya 53 meter, dngan 204 anak tangga di dalamnya. Bagian luar bangunannya dihiasi dengan pahatan batu dan tatahan marmer di atas batu oasir merah. Bagian dalamnya pun sama indahnya – berhiaskan dekorasi stucco (plester semen berhias lukisan pola) dan plat marmer serta panel marmer.

Renovasi besar-besaran dilaksanakan sejak tahun 1939 hingga 1960 dan baru-baru ini, sebuah museum kecil ditambahkan menjadi bagian kompleks. Di dalam museum terdapat benda peninggalan Nabi Muhammad SAW; menantunya prianya (yang juga sepupunya), Ali bin Abu Thalib; dan juga putri Rasul, Fatimah Azzahra. Benda-benda ini termasuk sebuah turban hijau, sebuah topi, sebuah jubah hijau, celana putih, sebuah sendal yang pernah dipakai Rasul, sebuah batu dengan bekas tapak kakinya, dan selembar kain putih dengan border ayat Qur’an miliknya.

Masjid Emin

Xinjiang, Barat Laut Tiongkok

7
Foto: KeGerd Albrecht

Masjid Emin nan megah didirikan pada tahun 1779 semasa Dinasti Qing pimpinan Raja Sulaiman, untuk menghormati ayahnya, raja Uighur, Amin Khoja – asal nama masjidnya.

Bangunan masjid besar ini berada di atas sebuah landasan, yang terpisah dari bangunan-bangunan tambahan dan berdiri di luar kota. Aula shalat hasil desain lokal berada di bawah atap yang didukung oleh tiang-tiang tinggi, yang terbuat dari bata lumpur dan lengkungan relung yang dipengaruhi arsitektur Uzbekistan, Persia, dan Asia Tengah. – fitur dominan di masjid-masjid Uighur Xinjiang.

Menara Masjid Emin yang anggun dan tinggi menarik perhatian dengan tinggi 44 meter, diameter dasar lebih dari 10 meter, dan mencapai 2,8 meter di bagian atas – tertinggi di Tiongkok. Dibangun secara lokal menggunakan kayu dan bata, menara ini didekorasi dengan pola bebungaan dan belah ketupat geometris. Di dalamnya tidak terdapat lantai, hanya penopang bagian dalam berbentuk spiral yang juga berfungsi sebagai 72 anak tangga menuju ke atas. Masjid ini tertutup untuk umum maupun untuk shalat sejak 1992, saat kepengurusannya berada di bawah pemerintah Tionghoa.

Masjid Jamiul Alfar Jummah

Kolombo, Sri Lanka

8
Foto: Richard Ishida

Dibangun pada tahun 1908, Masjid Jamiul Alfar Jummah – juga dikenal sebagai ‘Shamman Kottu Palli’ dalam bahasa setempat di distrik Pettah – secara resmi merupakan salah satu masjid tertua di Kolombo. Pada awal abad ke-20, otoritas India menjawab kebutuhan umat Muslim atas tempat shalat. Maka, 108 tahun yang lalu, Masjid Jamiul Alfar Jummah dibangun dalam jangka waktu setahun.

Meski awalnya dibangun untuk menampung 1.500 jemaah, Kolombo kemudian membutuhkan masjid yang lebih luas, untuk mengakomodasi jumlah penduduk Muslim yang meningkat. Pada tahun 1975, masjid ini diperluas dengan bantuan Haji Omar Trust dalam penyediaan lahan.

Ciri khas Masjid Jamiul Alfar Jummah terletak pada arsitektur uniknya yang memadukan gaya structural Islami dengan sentuhan kolonial Inggris. Bersama dengan warna permen menyalanya, masjid ini terus menjadi daya tarik Kolombo bagi wisatawan.

EROPA

Masjid Lala Mustafa Pasha

Famagusta, Siprus Utara

9
Foto: Gareth Jones

Alasan mengapa masjid ini tampak sangat mirip dengan katedral adalah karena ini memang dulunya sebuah katedral. Masjid Lala Mustafa Pasha dulunya merupakan Katedral Saint Nicolas. Bangunannya dialihfungsikan sebagai masjid oleh Kekaisaran Ottoman yang menjatuhkan Famagusta pada tahun 1571, di bawah pimpinan mantan menterinya, Lala Mustafa Pasha. Kini, bangunan masjid tersebut masih dianggap bangunan abad pertengahan terbesar di Famagusta.

Dibangun antara tahun 1300 dan 1400, konstruksi masjid ini sangat mirip dengan katedral Notre-Dame de Reims di Perancis. Sebuah contoh jelasnya adalah hiasan dekoratif jendela roda di atas pintu utama. Dikenal sebagai jendela mawar, jendela tersebut merupakan fitur umum katedral-katedral Perancis.

Bagian atas dua menara masjid ini tidak terselamatkan dari gempa bumi selain juga mengalami kerusakan parah pada penyerang oleh Ottoman. Keduanya tidak pernah diperbaik, namun sebuah menara masjid ditambahkan ke salah satu menara lama.

Terlepas dari seluruh perubahan yang telah dilakukan pada bangunan ini, bebeapa aspek seperti asal-usul Gotiknya, termasuk beberapa makam di lorong sebelah utara yang ada sejak abad ke-14, sengaja dipertahankan.

Masjid Saint Petersburg

Saint Petersburg, Rusia

10
Foto: Cyrus Farivar

Saat dibuka pada tahun 1913, Masjid Saint Petersburg merupakan masjid terbesar di Eropa. Kini, dengan kapasitas 5.000 jemaah, masjid ini masih menjadi yang terbesar di dunia Muslim Soviet – selain juga merupakan masjid paling utara di dunia dan masih menjadi pusat kegiatan besar bagi lebih dari 20 juta umat Muslim Rusia.

Didirikan di ibu kota Kekaisaran Rusia di pusat kota Saint Petersburg, berseberangan dengan Benteng Peter dan Paul, masjid ini merupakan hadiah bagi kota tersebut dari Emir kota Jalur Sutra Bukhara, yang dulunya bagian dari kekaisaran Rusia.

Arsitek Nikolay Vasiliey merancang masjid mengikuti mausoleum Gur-e Amir yang dipenuhi keramik – makam Tamerlane – di Samarkand, kota terbesar kedua di Uzbekistan. Bagian luar Masjid Saint Petersburg dilapisi oleh granit abu, sementara keramik mosaik pirus dan biru memenuhi kubah-kubahnya sekaligus puncak menara setinggi 39 meter. Bagian dalamnya dibanjiri marmer hijau dan kaligrafi ayat-ayat Qur’an. Para ahli dari Asia Tengah dipanggil untuk membangun masjid tersebut.

Pada masa Perang Dunia II, masjid Saint Petersburg ditutup oleh Bolsheviks dan digunakan sebagai gudang peralatan medis. Atas permintaan presiden Indonesia pertama, Soekarno, yang mengunjungi kota tersebut, masjid ini dikembalikan kepada masyarakat Muslim kota tersebut pada tahu 1956.

 

Artikel ini pertama kali terbit di majalah Aquila Style edisi November/Desember 2010

Leave a Reply
<Modest Style